soundtrack

Video Game Berjasa Memperkenalkanku Pada Musik-Musik Keren

Tanpa soundtrack Tony Hawk's Pro Skater, Grand Theft Auto, and Dave Mirra, pengetahuan musik yang kumiliki pasti payah banget.
7.8.17

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Aku berjalan menelusuri jalanan yang penuh debu, menunggu mobil lewat. Ketika sebuah mobil terlihat di cakrawala, aku sengaja berdiri di tengah jalan, menghadangnya. Truk pick-up yang hendak lewat itu mau tidak mau berhenti. Aku berjalan ke arah sisi pengemudi, menodongkan pistol, melempar sang pengemudi keluar dari kendaraan, dan menginjakkan kaki di pedal gas. Selagi ngebut di jalanan, musik Radio X meraung kencang dari stereo truk.

Iklan

Tentunya ini bukan kehidupan nyata; aku bukan kriminal kok. Aku sebetulnya sedang duduk santai ngemil Doritos sambil main Grand Theft Auto. Tapi soundtrack game ini—mencakup musik dari All Saints, Jai Paul, Suicidal Tendencies hingga Bob Seger—berhasil membuat kehidupan kriminal virtualku mendekati kenyataaan. Aku bisa melabrak tim polisi Los Santos sambil ditemani tembang "Applause" milik Lady Gaga. Setelah bosan dengan truk, aku menyelinap ke dalam sebuah taksi untuk istirahat sejenak sambil sebat. Di situlah aku mendengar "El Sonidito" milik Hechizeros Band untuk pertama kalinya. Aku langsung jatuh cinta.

Akibat game-game ini, banyak musisi dan band baru—yang mungkin tidak akan pernah kudengar kalau bukan karena soundtrack game—sekarang masuk playlist harian. Hubunganku dengan video game dan musik tidak ada duanya.

Sebetulnya ada banyak gamer sepertiku yang mengenal musik-musik terkini berkat game. Ini tentunya hal yang bagus, karena tidak ada sensasi yang lebih menyenangkan dibanding jatuh cinta dengan musik baru yang datang dari sumber yang tidak diduga. Tapi di bawah itu semua, ada semacam arus yang memainkan peran membantu karir musisi dan komposer, memberikan mereka pendapatan dan eksposur lebih. Coba bayangkan nasib para musisi yang musiknya ditemukan khalayak lewat stasiun radio Grand Theft Auto.

Asal muasalnya gimana sih? Waralaba besar seperti Grand Theft Auto, FIFA, dan NBA dikenal akibat soundtracknya, tapi memasukkan lagu populer ke dalam video game sudah dimulai jauh lebih awal sebelum mereka muncul. Michael Jackson's Moonwalker—yang memasukkan versi synth dari lagu-lagu hit Michael Jackson seperti "Beat It" dan "Smooth Criminal"—mungkin adalah video game pertama yang memasukkan musik pop sebagai soundtracknya, dirilis dalam 8-bit oleh Sega Genesis di 1989. Game seperti Wipeout 2097 (memasukkan Chemical Brothers and The Prodigy dalam soundtracknya) dan Quake (musiknya diciptakan oleh Trent Reznor, pentolan Nine Inch Nails) muncul tidak alam setelah itu, menekankan ide bahwa memasukkan musik populer dalam video game bukanlah sekedar tren semata. Bagiku, puncak dari musik video game baru muncul pada 1999, ketika Tony Hawk's Pro Skater dirilis. Ini adalah game yang membuka telingaku ke dunia baru.

Sepulang sekolah, aku bakal terburu-buru pulang ke rumah, melempar tas ke lantai, dan menyalakan Playstation untuk memainkan level School di game. Jangan salah, aku tentunya suka melakukan trick kickflip di anak tangga, tapi sebagai seorang bocah yang tidak memiliki akses internet super ngebut, yang paling menarik tentang Tony Hawk's Pro Skater adalah soundtracknya. Mulai dari Goldfinger hingga The Vandals, game itu memperkenalkanku ke ranah ke musik punk yang sebelumnya tidak pernah kudengarkan.

Iklan

Seiring franchise ini berlanjut, dari Playstation ke Playstation 2, Tony Hawk's Pro Skater mempengaruhi selera musikku seolah-olah game ini adalah kakak kandung yang suka pamer musik unik-unik. Selain Bouncing Souls dan Less Than Jake, edisi game berikutnya memasukkan Frank Sinatra, Gang Starr, dan Public Enemy, membuka kupingku ke musik baru jauh bertahun-tahun sebelum Spotify ditemukan. Aku pasti bukan satu-satunya yang mencintai soundtrack THPS. Mereka menjadi semacam referensi budaya, kini menjadi kanon nostalgia bagi generasiku, dengan banyak playlist memenuhi YouTube beberapa dekade setelah gamenya dirilis. Soundtrack-soundtrack penting inilah yang akhirnya membantu banyak band di dalamnya menjual banyak album.

Tim Riley—mantan karyawan Activison dan sosok yang bertanggung jawab memilih musik dalam seri Tony Hawk—mengatakan bahwa Fall Out Boy menjual 70.000 keping album dalam waktu satu minggu setelah musik mereka digunakan dalam game Tony Hawk's American Wasteland di 2005. Lagu "Superman" milik Goldfinger merupakan lagu yang paling terkenal dari series Tony Hawk dan dianggap sebagai track utama series. Lewat soundtracknya, game ini menjadi sinonim dengan cinta generasi millennial terhadap musik punk, dan jelas banyak musisi tidak akan mendapatkan karir yang cemerlang kalau bukan karena game ini.

Sejak perilisan franchise Tony Hawk, soundtrack video game menjadi sangat populer. Di hari ini, tidak aneh lagi mendengar lagu Lorde di soundtrack Assassin's Creed (dia sempat muncul di trailer game-nya). Jangan lupakan juga The Sims 3, yang membayar beragam musisi seperti Damian Marley, The Flaming Lips, dan Katy Perry untuk merekam ulang lagu mereka di Simlish. Tapi bukan hanya nama-nama besar ini yang mempopulerkan musik ke para pemain game. Contohnya game Life Is Strange: game petualangan orang ketiga yang dirilis di 2015. Game ini menampilkan topik-topik yang berat, mulai dari narkoba ke pelecehan, namun yang membuat game ini spesial adalah bagaimana pengembang Life is Strange secara berhati-hati melisensi musik sebagai bagian dari soundtracknya, membantu mengamplifikasi emosi yang ditampilkan gameplay.

[SPOILER ALERT] Di akhir episode ke empat game ini, pemain diharuskan membuat keputusan. Mereka bisa memilih untuk melakukan eutanasia ke salah satu karakter protagonis dan menghentikan penderitaan mereka, atau terus maju. Mengingat ini hanyalah sebuah adegan dari sebuah game, kedengarannya gak penting banget, tapi akibat penggunaan lagu "Mountains" dari Message To Bears, emosi dari adegan tersebut benar-benar terasa. Banyak yang telah menghubungi Message To Bears dan mengatakan bagaimana lagu tersebut mempengaruhi mereka. Message To Bears mengatakan dia telah "menemukan pendengar baru" lewat game tersebut. Lagu itu sendiri kini sudah memiliki hampir satu juta play di YouTube.

Iklan

Entah itu menyetir dengan bebas di jalan tol Los Santos, atau bingung memutuskan untuk menyuntikkan karakter protagonis virtual dengan morfin, koneksi emosional antara musik dan adegan tertentu inilah yang membantu mendorong penjualan musik. Dan Croll adalah seorang musisi elektronik yang ditampilkan dalam FIFA 14 dan GTA V. Salah satu lagunya memang sempat masuk dalam playlist Justin Bieber, tapi Grand Theft Autolah yang berjasa melejitkan jumlah penggemarnya, jauh melebihi traffic dari Bieber. "Begitu GTA V menampilkan saya, efeknya luar biasa," ujarnya. "Para gamer dari seluruh dunia menghubungi saya dan mengatakan bagaimana lagu saya telah mempengaruhi mereka."

Tidak heran kini video game dilihat sebagai metode yang menguntungkan untuk pendistribusian musik. Mantan CEO dari Universal Music, Zach Horowitz, pernah mengatakan bahwa masuk ke dalam seri Guitar Hero akan mendorong penjualan di dunia nyata sebesar 200-300 persen. Kepala Activision, Bobby Cotick mengatakan Aerosmith menerima pendapatan lebih besar dari Guitar Hero dibanding album mereka manapun. Ini seperti reissue vinyl di dunia video game. Di November, penjualan digital dari lagu tema Inon Zur di Fallout 4 melebihi 17.000. Angka ini mungkin kecil dibanding musisi besar, tapi sejujurnya ini angka yang tinggi mengingat banyak orang membeli lagu yang sama berulang kali.

Mengingat lagu-lagu yang populer dalam video game berpotensi menarik pendapatan lebih besar dibanding playlist Justin Bieber, tidak heran mengapa Universal Music Group berinvestasi dalam perusahaan pengembang game ponsel asal Swedia, Nuday Games, Oktober lalu. Produk pertama studio tersebut merupakan game trivia ponsel bernama Rock Science: The Rock Game of the Century. Intinya, ini adalah kuis musik rock yang menanyakan pengetahuan pengguna soal band, mulai dari Motorhead hingga Korn.

Iklan

Ada skeptisme tentang major label ikut-ikutan terlibat dalam industri ini. Biarpun banyak pengembang menaruh musik dalam game mereka demi meningkatkan kualitas artistik produknya, banyak juga yang menaruhnya hanya demi tujuan berpromosi. Inilah sebabnya Jason Derulo diperkerjakan untuk memperkenalkan Just Dance 3 ke konsumer di konferensi gaming internasional tahun lalu, E3. Tapi ketika dieksekusi dengan benar, game-game ini membantu membentuk selera musik gamer—yang sangat membantu terutama bagi para pemain-pemain elit hardcore yang menolak meninggalkan konsol setiap kali ada kesempatan untuk mendapatkan double XP ketika bermain online.

Aku menemukan beberapa band favorit lewat game seperti Tony Hawk's, Dave Mirra Freestyle BMX dan GTA. Mendengarkan All Hallows EP milik AFI mengingatkanku akan Tony Hawk's Pro Skater 3, berusaha menyelesaikan level Foundry 100% untuk pertama kalinya. Baru-baru ini, kematian Dave Mirra yang tragis membuatku pergi ke YouTube playlist dan menyetel "What I Got" karya Sublime berulang kali. Ketika mendengar kabar tersebut, rasanya masa kecilku baru diinjak-injak. Aku menghabiskan sebagian besar hidup memainkan Dave Mirra Freestyle BMX dan mendengar band-band seperti Pennywise, Sublime dan Deftones berkat game tersebut. Pengaruh dari soundtrack-soundtrack ini juga tidak hanya mempengaruhi gamer. Secara tidak langsung, game-game ini memiliki kekuatan membentuk selera musik satu generasi, dan melahirkan sound-sound baru. Mulai dari grime hingga hip-hop, banyak sekali musisi yang menyebut nama Playstation Music 2000 sebagai pintu masuk selera musik mereka. Band seperti The Reign of Kindo dan BadBadNotGood mengcover lagu-lagu video game favorit mereka. Lucunya, semakin banyak tur yang merayakan musik video game seperti Pokemon, dan dimainkan oleh satu orkestra penuh secara live.

Intinya, hubungan antara video game dan musik terlihat sangat cerah. Game membawa musik ke dalam hidup kita. Tanpa mereka, folder musikku mungkin akan banyak kosongnya. Terima kasih soundtrack video game.

Follow Mat di Twitter.