Seni Rupa

Cara Amenk Mengomentari Absurditas Indonesia Modern

Ilustrator asal Bandung ini menanjak karirnya berkat kejelian menangkap humor gelap dari keseharian hidup di negara ini.
13.5.17

Mufti "Amenk" Priyanka adalah seniman lokal dengan reputasi yang menanjak beberapa tahun belakangan berkat ilustrasi-ilustrasi khas. Karya-karyanya menghiasi banyak kover album dan merchandise band lokal, membantu publik segera mengenal karakter-karakter goresan tinta cina yang telah menjadi ciri seniman asal Bandung itu. Beberapa orang membandingkan karya Amenk dengan gaya seniman asal Amerika, Raymond Pettibon, yang dikenal berkat ilustrasi-ilustrasi legendaris dalam materi rilisan label hardcore SST Records yang dimiliki oleh kakaknya, Greg Ginn, seorang ikon hardcore sekaligus gitaris Black Flag. Karya-karya Pettibon yang subversif membahas polisi dan kaum konservatif selatan California, diimbuhi percikan humor pahit, serta banyak membawa kesadaran sosio-politis. Wacana sejenis mudah ditemukan dari karya-karya Amenk. Namun berbeda dari sosok yang menginspirasinya, Amenk mengubahnya menjadi komentar cerkas dan cerdas atas Indonesia, mulai dari ponsel pintar, agama, hingga minuman keras dalam bungkusan plastik.

Iklan

VICE Indonesia menemui Amenk yang kini menginjak usia 37, membahas pengaruh Pettibon terhadap karya-karyanya. Kami turut membahas bagaimana caranya menapis pengaruh dari idola seni untuk menghasilkan karya yang baru dan khas darinya saat mengomentari serba-serbi Indonesia.

Beberapa orang membandingkan karya Amenk dengan ilustrasi-ilustrasi Raymond Pettibon. Apakah ini asumsi salah?
Mufti Priyanka: Asumsi itu betul adanya. Saya tidak bisa mengelak, beliau merupakan inspirasi terbesar saya dalam berkarya. Sejauh mana karya Pettibon mempengaruhi karya-karyamu?
Pengaruh besarnya terasa dalam pendekatan tematik hingga pemilihan medium. Banyak sekali aspek yang saya sukai dalam karya-karya beliau, diantaranya cara dia mengangkat keseharian diranah subkultur, menguak aspek sosial masyarakat modern hingga dunia politik di Amerika. Beberapa karyanya dihadirkan secara kritis, ironis, serba ambigu dalam menghadirkan teks-teksnya yang lugas namun terkadang abstrak. Apa ada pengaruh seniman lain bagi Amenk selain sosok Pettibon?
Sejauh ini influens yang saya serap kebanyakan diketahui orang banyak dan memang terpilih karena hidup dikultur populer seperti halnya Charles Burns, Eko Nugroho, Winston Smith, Frank Kozik dan Tatang Suhenra. Mereka yang disebutkan tersebut kebanyakan saya adopsi secara semangat visual dan gaya penuturan kemasan karya dengan medium yang varian serba aplikatif dalam prakteknya. Seperti halnya Frank Kozik, Charles Burns, Eko Nugroho & Tatang Suhenra lebih menonjolkan sisi narasi dalam bentuk komik, ilustrasi, poster atau pun komik strip. Adakah sosok yang menginspirasimu tapi bukan dari ranah ilustrasi?
Ada beberapa yang sebetulnya sangat berpengaruh dalam pola pikir saya berkarya terakhir-akhir ini yaitu Iwan Fals, (Alm) WS Rendra, Tisna Sanjaya, Remy Silado, Jean-Michel Basquiat, (Alm) Andry Moch, dan (Alm) Onong Nugraha. Pengaruh dari mereka yang tadi disebutkan lebih ke pengembangan teknis berkarya, sepertinya halnya Tisna Sanjaya ataupun Andry Moch yang banyak mengeksplor medium-medium diluar konvensi seni visual pada umumnya. Apa lagi yang Amenk "ambil" dari mereka?
Perpaduan ekspresi diluar ranah visual lebih terpengaruh dari Iwan Fals, Remy Silado dan Jean-Michel Basquiat dimana narasi kedekatan mereka terhadap realita sekitar tertuang lewat teks-teks yang dibangun atas beberapa kesadaran medium seperti musik, graffiti, cerita pendek maupun novel. Dari sejauh itu lah saya banyak memadukan pendekatan berkarya lewat metode yang serba eksperimental, impulsif dan pengalaman influens yang terserap menjadi motivasi untuk mengkombinasikan dari banyaknya rangkaian-rangkaian proses berkarya sebagai pencampaian artistik tersendiri. Pengaruh-pengaruh lain bisa dikatakan mengarah dari tema keseharian masyarakat urban lewat dinamika yang varian dan terkadang disajikan dengan nuansa humor gelap, satir, serba abu-abu namun terkadang bisa lebih ekspresif. Indikasi terdekat seperti pengalaman pribadi, humor oplosan pinggir gang, televisi, film, komik underground, zine, majalah dewasa, koran gurem hingga geliat mengamati musik kesukaan merupakan tensi besar dalam menuai banyak inspirasi dalam berkarya.

Menurut Amenk, mengapa lebih banyak seniman dari negara-negara maju (US, Eropa, Jepang) yang memberi pengaruh pada seniman-seniman di negara-negara lain?
Tidak bisa dipungkiri bahwasanya mereka terdepan atas banyak penemuan-penemuan dalam berkesenian khususnya dan ditunjang pula oleh peran museum maupun galeri yang mapan dengan memediasi segala ranah dinamika seluk beluk perkembangan didalamnya. Secara tingkat apresiasi masyarakatnya pun sudah terbuka dan profesi seniman sudah bisa diterima sebagai bagian dari jajaran profesi populer lainnya. Indikasi itu sangatlah memotivasi seniman disisi kredibilitas mereka sebagai insan kreatif yang sangat diuji kedalaman intelektualnya sehingga terus menggali aspek inovasi dalam berkarya. Jauh berbanding dengan kenyataan di Indonesia, profesi seniman masih belum begitu diterima dan tingkat apresiasi masyarakat pun bisa terbilang rendah dikarenakan potensi lain secara urgensi dinegara kita ialah menggapai sebuah esensi kesejahteraan disegala aspek kehidupan. Bisa diceritakan proses Amenk menemukan dan menentukan karaktermu sendiri?
Saya ingat sekali, di tengah jenjang waktu perkuliahan studio lukis, saya menemukan rasa ketidak puasan dalam berproses. Saya jenuh dan mengalami frustasi. Hingga suatu saat itu saya kembali diperkenalkan kembali oleh kakak senior saya dengan komik. Tepatnya pada 2003, saya banyak dikenalkan karya-karya alternatif seperti halnya komik underground, xerox art, gigs poster, zine, sticker art, stencil art hingga graffiti. Dari situlah ketertarikan saya mulai merambah begitu luas dan seiring waktu berproses diluar studio lukis. Sampai akhirnya saya jatuh hati pada komik, terutama komik-komik lokal Indonesia. Eksperimen demi eksperimen pun dilakoni dengan semangat 'bermain' dalam komik, tentunya pilihan-pilihan memainkan medium seperti kertas, pensil, ballpoint, spidol, drawing pen, hingga tinta Cina merupakan hal keseharian didalam tas saya pada saat itu sampai sekarang. Sebenarnya alasan utama pemilihan medium-medium tersebut itu bersifat begitu ekonomis dan terjangkau dibandingkan mengakomodir kebutuhan untuk melukis yang bisa dikatakan serba mahal. Lewat semangat komik inilah saya mulai banyak menaruh rasa cinta begitu besar, pengaruh visual di luar komik cenderung dari ilustrasi-ilustrasi dari majalah-majalah populer Indonesia zaman dulu. Apakah proses penemuan jati diri ini memakan waktu lama?
Rangkaian proses ini lumayan memakan waktu, terkadang melelahkan juga hingga akhirnya menyederhanakan pelebaran eksperimen lewat semangat komik dengan bentuk yang lebih ilustratif. Dengan kata lain semangat 'bermain' lewat komik ini dilebur dan disisipkan pernyataan metafor seperti halnya komik strip yang tidak membutuhkan banyak panel untuk mengurai narasi. Dalam prakteknya, visual selalu berkembang dan mengerucut lebih memadukan unsur-unsur ilustrasi dengan pengamatan fotografik. Seperti halnya ketika kita membekukan adegan difilm, ilustrasi itu dikembangkan menjadi realitas baru. Rasa jatuh hati terhadap kertas dan tinta Cina lain halnya mencintai komik, dua medium itu akhirnya terpilih di tengah-tengah pencarian panjang selama saya berkarya. Apakah kamu merasa sudah menemukan ciri khas?
Jadi secara karakter karya yang saya kembangkan hingga saat ini termasuk dalam genre seni menggambar yang lebih populer dengan istilah Drawing Art. Secara tidak sadar penemuan-penemuan dalam berkarya diatas kertas dan tinta Cina ialah jalan ekspresi untuk mengungkap metode berfikir, eksplorasi teknis hingga penentuan tema demi tema sehingga publik mengapresiasi terhadap karya saya cenderung lebih mengenal nuansa hitam putihnya, bertema eksplisit, subversif dan lugas. Sejauh mana kondisi sosial-ekonomi-politik di Indonesia mempengaruhi karya Amenk?
Saya tidak menyukai politik secara keseluruhan, secara praktik dan trik intrik didalamnya. Namun kondisi itu sangat berpengaruh bagi saya secara langsung dan begitu terasa menyeruak pada keseharian pola berfikir. Di antaranya menguji kekritisan mengamati segala gejolak sudut-sudut dinamika sosial untuk menjadi bahan inspirasi berkarya tentu dengan kacamata pengamatan saya pribadi yang bisa jadi sangat sentimentil, satir, lugas, ataupun puitis. Apakah Amenk merasa bahwa jika Amenk tidak berada di Indonesia, karyanya akan tampil berbeda?
Jika saya hidup di luar Indonesia sudah pastinya akan berbeda ketegangannya, ada beberapa proses riset secara acak dari pelbagai pengamatan aspek keseharian yang tentunya berbeda dengan di sini. Aspek keseharian disini bisa dilihat dari sudut sosial tradisi masyarakatnya, di mana inspirasi saya bisa lebih terangsang untuk mengangkat sebuah tema dalam berkarya.