Merebaknya Islamofobia Paling Merugikan Perempuan Muslim
Illustration by Katherine Killeffer
Agama

Merebaknya Islamofobia Paling Merugikan Perempuan Muslim

Diskriminasi terhadap Muslim meningkat di Barat beberapa tahun terakhir, terutama sejak serangan teror Paris. Bagi perempuan berhijab, perilaku misogini yang diperkeruh Islamofobia semakin menyulitkan hidup mereka.
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
30.6.18

Zainab Chaudry sangat memahami apa itu Islamofobia. Sebagai juru bicara di Council on American-Islamic Relations (CAIR), Chaudry bertugas untuk menjaga persatuan antara kaum Muslim di AS dan warga Amerika lainnya. Namun, layaknya perempuan Muslim berhijab lainnya yang tinggal di negara Barat saat ini, Chaudry juga menjadi korban Islamofobia.

“Waktu itu ada pria yang mengejekku di parkiran mal. Dia bilang, ‘Kamu tidak boleh tinggal di Amerika. Pulang sana ke negaramu!’ Saya lahir di Maryland. Itu artinya saya orang Amerika. Saya jawab saja, ‘saya lahir di Amerika.’ Saat ini, banyak orang Amerika yang sulit menerima kenyataan kalau ada Muslim yang lahir di negara mereka. Seakan-akan kami tidak bisa jadi orang Amerika kalau kami Muslim.”

Sejak 2015, persatuan masyarakat di negara Barat semakin renggang akibat kelompok ekstremis dan Islamofobia. Keduanya sangat terhubung satu sama lain. Kekacauan yang ISIS (Islamic State) timbulkan serta serangan teror bertubi-tubi di Paris, Tunisia dan Beirut menyebabkan peningkatan Islamofobia yang drastis. Selain itu, ucapan-ucapan tokoh penting Partai Republik seperti Donald Trump dan Ted Cruz semakin mengobarkan kebencian terhadap Muslim di AS.

Saat ini, serangan Islamofobia sedang berada di titik tertinggi sepanjang masa. Di London, Metropolitan Police melaporkan peningkatan 47 persen dalam sepuluh bulan pertama di 2015. Di AS, CAIR mencatat lebih dari 70 serangan masjid pada 2015. Ini adalah angka serangan tertinggi saat itu. Dan dalam seminggu setelah serangan teror di Paris, organisasi Inggris Tell MAMA, yang memantau tindakan diskriminasi berbasis Islamofobia, mencatat 115 kasus baru. “Kami kewalahan menghadapi masalah ini,” kata sang pendiri Fiyaz Mughal kepada VICE.

Semakin banyak perempuan Muslim yang menjadi korban kebencian tersebut. Insiden terbaru menunjukkan banyaknya perempuan Muslim yang sengaja dicelakai, seperti didorong ke arah kereta yang sedang memasuki stasiun, ditonjok dan ditendang sampai keluar dari bus, dan diserang saat sedang menjemput anaknya pulang sekolah. Yang paling sering menjadi korban adalah perempuan berhijab.

“Perempuan Muslim berhijab paling sering mengalami tindakan kekerasan dan pelecehan di jalan,” terang Mughal. “Masalah gender yang berhubungan dengan anti-Muslim tampak sangat jelas.” Dia memberi tahu bahwa setelah serangan Paris, 80 persen serangan kebencian terjadi pada perempuan. Alasannya pun sederhana: perempuan yang berhijab artinya dia Muslim. “Perempuan Muslim cenderung jadi korban karena mereka berhijab. Mengenakan hijab berarti perempuan itu Muslim. Korban perundungan tidak mungkin membalas.”

Dibanding lelaki, perempuan lah yang paling dirugikan ketika merebak islamofobia. Foto oleh Zoa Photo via Stocksy

Fatima*, 24 tahun, pindah ke AS ketika ia masih remaja dan saat ini tinggal di Washington DC. Dia tidak memakai hijab setiap hari, tapi setiap kali Fatima mengenakannya, orang “akan menjaga jarak. Tidak selalu negatif, tapi perempuan berhijab diperlakukan berbeda.” Dia pertama kali diserang di bus akibat Islamofobia tahun lalu, setelah sepuluh tahun lebih tinggal di AS.

“Sikap perempuan di belakangku tiba-tiba berubah dan dia pindah tempat duduk. Awalnya saya kira dia hanya ingin pindah, taunya dia ingin menyerangku. Dia menghinaku ‘pemuja Setan,’” katanya.

Serangannya berlangsung sekitar 10 menit sampai perempuan tersebut turun dari bus. “Saya tersenyum dan mengucapkan selamat sore waktu dia melewatiku, tapi dia malah mengumpat dan turun dari bus.” Fatima tertawa melihatnya. “Lucu banget kalau ada orang yang mengata-ngataiku padahal mereka tidak kenal denganku. Reaksi saya baru berbeda kalau ada yang menyerang secara fisik atau mengancam. Saya merasa semakin ke sini tindakan Islamofobia semakin parah saja. Jadi saya harus lebih waspada mengingat saya pakai hijab.”

Bagi Mughal, serangan Islamofobia terhadap perempuan Muslim termasuk ke dalam ketidaksetaraan gender. “Ada alasan gender yang membuat laki-laki ingin menyerang mereka. Perempuan bisa melahirkan anak, yang berarti orang Muslim akan semakin bertambah. Dalam pengalaman kami, unsur penting dari Islamofobia terletak pada kekerasan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan.”

Chaudry mengamini kalau perempuan Muslim lebih rentan mengalami serangan kebencian. “Di suatu supermarket di California, ada laki-laki yang mendorong troli ke perut wanita Muslim yang sedang hamil.” Serangan kebencian ini membuat orang Muslim di Amerika ketakutan untuk berada di tempat umum. “Semakin banyak perempuan Muslim berhijab yang takut keluar rumah. Banyak orang tua yang menceritakan kalau mereka ingin anaknya lepas hijab di sekolah karena ingin anaknya aman.”

Meskipun diskriminasi tidak selamanya berupa kekerasan, perempuan Muslim masih diperlakukan berbeda. “Orang mengira saya tidak bisa bahasa Inggris karena pakai hijab,” imbuh Chaudry. “Mereka berbicara sangat pelan, dan setiap kali saya menjawab mereka pakai bahasa Inggris, mereka akan bilang, ‘Wah bahasa Inggrismu bagus sekali!’ Saya berusaha menjelaskan kepada mereka kalau saya bisa bahasa Inggris walaupun saya Muslim dan pakai hijab. Saya sama saja seperti mereka. Saya suka Star Wars dan melakukan hal-hal yang orang Amerika sering lakukan.”

Exploiting It, film terbaru garapan Jade Jackman, mengusut dampak Islamofobia pada perempuan Muslim. Film ini baru saja diputar di British Film Institute. “Islamofobia tidak hanya menyerang perempuan, tapi mereka mengalaminya pada tingkat yang berbeda. Orang punya fetish perempuan berhijab. Salah satu contohnya di film yaitu mereka menanyakan perempuan berhijab seputar kehidupan seksnya. Mereka mengira perempuan Muslim tidak pernah berhubungan seks.”

Serangan Islamofobia yang dialami perempuan Muslim sering berunsur seksual. “Kami sering melihat perempuan Muslim yang dilecehkan secara verbal di jalanan,” kata Mughal menegaskan. “Tujuannya untuk merendahkan mereka karena ada stereotip semua perempuan Muslim religius. Mereka juga mengalami pelecehan di internet, terutama bagi mereka yang aktif di media sosial.”

Saya bertanya pada Mughal soal ciri khas pelaku serangan. “Laki-laki kulit putih, dari 15 sampai 35 tahun. Menariknya, saat kami berbicara kepada pelaku, mereka mengaku kalau tidak pernah menyerang perempuan. Tapi mereka akan menyerang perempuan Muslim, karena pelaku tidak menganggap mereka perempuan. Pelaku sangat merendahkan perempuan Muslim sampai-sampai mereka tidak memedulikan jenis kelaminnya. Mereka akan menyerang karena Muslim.”

Jackman sepakat kalau orang-orang harus sadar identitas agama dan gender perempuan Muslim itu tidak bisa disatukan. “Perempuan Muslim termasuk orang kulit berwarna. Identitas mereka tidak hanya satu, dan Islamofobia bisa muncul dalam berbagai cara, baik karena gender atau agamanya.”

Mughal sangat terganggu dengan sikap misogini yang mendasari Islamofobia. “Semenjak saya bekerja sama dengan Tell MAMA, saya sadar kalau Islamofobia tidak bisa dipisahkan dari masalah gender.”

“Ada yang aneh dengan laki-laki seperti ini. Di rumah, mereka jadi laki-laki yang menyayangi istrinya. Tapi saat di jalanan, mereka akan menyerang perempuan Muslim. Pelaku menganggap mereka pria sejati, tapi sebenarnya mereka jauh dari istilah itu karena mereka masih menyerang perempuan Muslim. Itulah masalah terbesarnya. Mereka merasa menghargai perbedaan, tapi sebenarnya tidak sama sekali.”

Islamofobia disebabkan oleh ISIS dan kelompok ekstremis lainnya yang ingin meradikalisasi Muslim moderat. “[Sikap Islamofobia] dipicu oleh apa yang sedang terjadi di dunia saat ini, seperti peristiwa di Paris,” jelas Dr Imran Awan, wakil direktur Center for Applied Criminology di Birmingham City University. “Kasus seperti skandal Rotherham [di mana ratusan laki-laki Inggris-Pakistan mendandani dan memperdagangkan perempuan di bawah umur untuk seks] menunjukkan kalau serangan anti-Muslim juga bisa terjadi di sekitar perempuan Muslim.”

Pemicu sikap anti-Muslim juga datang dari golongan kanan. “Kami menyebutnya ekstremisme kumulatif, di mana satu golongan ekstremis mendorong sikap ekstremis lainnya. Golongan kanan semakin bertambah karena ISIS bertambah. Satu sama lain memanfaatkan rasa takut dan teror untuk menyukseskan agenda mereka masing-masing.”

Saya menanyakan Chaudry apakah keadaan akan membaik di tahun-tahun berikutnya. “Saya berusaha untuk optimis, tapi kenyataannya sikap kebencian terhadap Muslim terus memburuk, apalagi sejak insiden 9/11 dan orang-orang dari Partai Republik cenderung mengkampanyekan sikap anti-Muslim untuk mendulang dukungan pemilih.”

Meskipun begitu, masih ada harapan untuk menghentikan rasa takut dan kebencian tersebut. “Banyak orang dari berbagai kalangan yang mulai memperjuangkan hak orang Muslim. Mereka menggaungkan bahwa Islamofobia adalah tindakan keji. Kami harap orang-orang toleran seperti mereka mampu menciptakan perubahan dan menunjukkan kalau Amerika yang sebenarnya adalah negara yang menjaga persatuan.”

*Nama narasumber telah diubah untuk melindungi privasinya

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly