Sains

Ilmuwan Meyakini Manusia Belum Selesai Berevolusi

Walaupun sekarang umat manusia dalam periode genetik stabil, bukan berarti secara fisik kita tidak akan berubah di masa mendatang.
8.5.17
Foto via via Getty Images.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Di antara pakar biologi dan ilmuwan dispilin ilmu lainnya, sudah tidak ada lagi perdebatan mengenai evolusi tentang benarkah kita ini keturunan kera. Mereka sudah bersepakat soal itu. Ilmuwan sekarang fokus pada hal-hal lebih penting, contohnya spekulasi bahwa kita masih terus berubah sebagai spesies. Ketika kita ngobrolin soal evolusi, kalimat yang hampir sudah pasti tercetus adalah "survival of the fittest" atau "yang kuat yang akan menang," nukilan dari buku terpopuler Charles Darwin yang terbit 1859: Origin of the Species. Tentu, itu bukan berarti pemenang permainan CrossFit akan dinobatkan sebagai raja. Melainkan, kalimat itu merujuk pada kebugaran genetik: orang-orang dengan gen yang paling cocok dengan sebuah lingkungan dapat hidup cukup lama untuk memiliki anak-anak dan menurunkan gen mereka, menurut Sharad Paul, pakar biologi evolusioner dan penulis The Genetics of Health. Kini, kita berada pada periode di mana genetik relatif stabil, ujar Nathan Lents, pakar biologi molekuler di John Jay College of Criminal Justice dan penulis Not So Different: Finding Human Nature in Animals. Sebagian besar orang hidup cukup lama untuk menghasilkan keturunan sebanyak yang mereka inginkan, dan mereka yang meninggal di usia muda biasanya karena penyebab non-genetik seperti kecelakaan. Namun itu bukan berarti kita tidak akan berubah, bahkan ketika perubahannya lamban dan kita tidak menyadarinya. "Kita terus berubah, meski tempo perubahannya lamban," ujar Paul. "Lebih dari 50,000 tahun belakangan, migrasi dan pola makan kita telah membentuk perawakan dan warna kulit kita. Kesannya kita tidak berevolusi karena kita memandang konsep ini sebagai sesuatu yang besar." Lagipula, seleksi alam bukan satu-satunya cara evolusi dapat berlangsung—hanya saja, itu yang paling dikenal. Perubahan-perubahan acak yang tidak memberikan manfaat bertahan hidup juga berperan penting. Ini adalah fenomena disebut penyimpangan genetik, dan hal ini menjadi lebih jelas ketika populasi manusia mengecil akibat peristiwa dramatis—misalnya saja, perang nuklir, bencana alam, atau perubahan iklim global. Pertahanan hidup hari-hari gini lebih berhubungan dengan keberuntungan atau geografi alih-alih genetik, dan apapun perangai yang dimiliki segelintir orang beruntung ini akan diturunkan ke generasi berikutnya, ujar Lents. Mengingat peristiwa akhir-akhir ini, tingkat evolusi kita mungkin akan kembali meningkat dalam jangka waktu dekat, ujarnya. Sementara itu, para ilmuwan mengatakan kita akan terus berubah walaupun pelan-pelan dan kadang tak kasat mata.

Manusia Sukses Mengalahkan Banyak Penyakit

Perubahan DNA kita mungkin berperan penting dalam penurunan risiko penyakit menular. Misalnya, para peneliti menemukan puluhan variasi yang membantu meningkatkan kekebalan tubuh terhadap malaria—yang membunuh banyak anak-anak kecil—yang semakin umum pada populasi Afrika. Kita juga menggunakan tes genetik untuk mendeteksi, dan mengeliminasi, kondisi genetik tertentu. Misalnya, menguji kondisi serius disebut thalassaemia, yang berefek pada tingkat hemoglobin dalam darah dan dapat menyebabkan tipe anemia, telah memotong angka kasus baru-baru ini sebanyak 95 persen di beberapa wilayah. Akhirnya, tes dapat memiliki pengaruh besar terhadap penyakit-penyakit seperti penyakit Huntington, karena semakin banyak orang membuat keputusan reproduktif dengan pengetahuan apakah mereka membawa mutasi tertentu, ujar Lents. Pada beberapa suku asli tertentu, seperti warga Kepulauan Pasifik di Papua Nugini, orang-orang dapat juga berevolusi untuk menolak diabetes tipe 2. Tingkat tersebut meroket ketika suku-suku yang sebelumnya terpapar sedikit dengan dunia luar, bertemu dengan pola makan kaya kalori ala Barat. "Orang-orang meninggal sebelum mencapai usia reproduktif, atau pada usia reproduktif, dan membawa mati gen mereka," ujar Lents. Sementara itu, mereka yang memiliki manfaat genetik—misalnya, memiliki mutasi tertentu yang mempengaruhi metabolisme—hidup lebih lama dan menurunkan manfat tersebut. "Situasi-situasi seperti itu jarang dan biasanya terisolasi—namun situasi istimewa seperti ini terbilang menarik dari sudut pandang populasi, karena mereka bisa menunjukkan betapa cepatnya evolusi bekerja," ujarnya.

Manusia Modern Sudah Bisa Hidup di Ketinggian

Semakin tinggi daratan, semakin sulit bagi kita untuk bernapas, berkat tingkat oksigen yang rendah. Reaksi seketika tubuh kita adalah untuk meningkatkan denyut jantung (atau terkena penyakit dataran tinggi). Setelah beberapa hari atau minggu, kamu memproduksi lebih banyak sel darah merah yang mengirim oksigen berharga bagi tubuh. Nah, menurut Lents itu bukan evolusi, yang membutuhkan perubahan sungguhan pada kode genetik kita. Dan itu juga tidak memberi manfaat jangka panjang. Kalau sel darah merah bisa berakibat buruk bagi perempuan hamil, karena melambatkan proses perkembangan fetus dan meningkatkan risiko bayi lahir di pegunungan meninggal seketika setelah melahirkan. Meski begitu, para ilmuwan mengidentifikasi perbedaan DNA orang Tibet, yang tinggal di ketinggian di atas 4 km, percaya bahwa mereka merepresentasikan pergeseran evolusioner. Kode genetik disebut EPAS1 yang mengandung protein yang membantu tubuh mendeteksi oksigen dan memperbaiki produksi sel darah merah. Dan ini lebih umum di Tibet dibandingkan di Cina Han, sanak saudara yang tinggal di dataran rendah.

Manusia Cenderung Semakin Baik Hati

Sampai saat ini, bagian otak abu-abu yang mengingat nomor ponsel dan jalan tidak mengalami atrofi lengkap—percaya atau enggak, biasanya mungkin untuk bertahan hidup dan bahkan bereproduksi tanpa iPhone. Namun otak kita sebetulnya mengecil sejak kita bisa berdiri dan memiliki kesadaran—sampai 10 persen selama 20,000 belakangan.
Meski tidak ada yang yakin apa alasannya, Lents bilang otak selalu lapar energi—kira-kira 20 persen kalori kita biasanya untuk kerja otak. Jika mutasi genetik dapat memproduksi otak yang lebih kecil dan lebih efesien tapi juga bekerja cukup baik untuk menguasai keterampilan bertahan hidup, lebih masuk akal bahwa mereka yang memilikinya bisa hidup lebih lama di era penyakit dan kelangkaan dulu. Ukuran otak tidak 100 persen berhubungan dengan inteligensi (jikapun ya, berarti paus akan menguasai dunia). Namun mereka hanya memiliki satu keuntungan: Mereka membuat kita terlihat tidak seagresif itu, dan justru lebih koperatif. Peneliti di Duke University, selain tempat lainnya, telah membandingkan otak-otak hewan terdomestik dengan hewan liar dan menemukan 10 hingga 15 persen penurunan. Bahkan, beberapa orang percaya bahwa kita mendomestifikasi diri kita sendiri, menciptakan tekangan evolusioner utnuk berkomunikasi dan berkolaborasi untuk memajukan peradaban.

Warna kulit kita berbeda-beda

Populasi di berbagai belahan dunia memiliki warna kulit berbeda-beda, menunjukkan tanda evolusi yang jelas, menurut Paul. Karena nenek moyang kita hijrah dari Afrika ke Eropa, warna kulit mereka menjadi lebih terang karena vitamin D tingkatan berbeda. Ketika laki-laki (dan perempuan juga dong!) berjalan dari bagian selatan ke daerah lebih terik, warna kulit mereka menggelap. Ini dapat terjadi karena sinar ultraviolet memecah folate, nutrisi esensial yang mencegah kelainan sejak lahir dan membantu sel tubuh kita terpecah, ujar Paul. Analisis baru-baru ini membandingkan gen dari tengkorak prahistoris dengan orang-orang Ukrania yang hidup saat ini, menemukan bukti bahwa mutasi yang menguntungkan warna kulit lebih terang—termasuk variasi gen disebut TYR—delapan kali lebih umum di zaman modern dibandingkan 5,000 tahun silam.

Manusia kini menjadi perancang yang cerdas

Kita memang belum sampai titik bisa memanipulasi gen dengan cukup ketangkasan untuk mempengaruhi generasi selanjutnya. Namun berkat teknologi seperti teknik penyuntingan gen CRISPR, dalam waktu dekat kita bisa menciptakan bentuk "seleksi tidak alamiah" yang bisa melakukan segala hal dari mengeliminasi penyakit genetik hingga menciptakan bayi-bayi perancang untuk melawan proses penuaan, ujar Lents.

Apakah hal ini merepresentasikan evolusi boleh diperdebatkan—menurut Paul, dia tidak yakin, meski dia takut implikasi kita menciptakan artificial intelligence akan melampaui diri kita sendiri. Namun Lents berpendapat sebaliknya. "Jika kita pergi ke sana dan memotong genome kita sedikit, yang akan berubah adalah pelengkap genetik generasi selanjutnya, jadi ya, ini adalah evolusi, setahu saya," ujar Lents. Dia berharap bahwa hal tersebut dapat membawa banyak perubahan lebih bermanfaat, seperti menurunkan risiko penyakit genetik, yang bisa kita diskusikan dan sesuaikan dengan buku panduan etika sambil jalan