Ingin Dunia Tanpa Kesenjangan Ekonomi? Kematian Massal Solusinya
Ketimpangan

Ingin Dunia Tanpa Kesenjangan Ekonomi? Kematian Massal Solusinya

Buku yang baru dirilis menyatakan peristiwa buruk seperti revolusi, perang, wabah, dan kebangkrutan negara adalah satu-satunya cara mengurangi kesenjangan sosial ekonomi.
23 Februari 2017, 11:15am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada.

Sepanjang sejarah umat manusia, kesenjangan selalu ada. Di zaman purba, nenek moyang manusia yang mempunyai fisik lebih kuat mampu menaklukan lebih banyak buruan dibanding mahluk lainnya. Mereka yang tinggal dekat sungai atau laut juga otomatis mendapatkan kalori ekstra dari ikan-ikan yang mereka konsumsi. Seiring peradaban manusia berkembang dan status dan kekuasaan bertambah rumit, sebuah kebenaran yang mendasar ternyata tidak berubah: beberapa orang lebih beruntung dibanding yang lainnya.

Dalam beberapa ratus tahun terakhir, para ahli dan banyak pihak kerap mendiskusikan kesenjangan ekonomi sebagai masalah yang bisa diselesaikan. Tapi ahli sejarah dari Stanford, Walter Scheidel yang baru saja merilis buku The Great Leveler: Violence and the History of Inequality from the Stone Age to the Twenty-First Century, membeberkan kabar buruk bagi kita semua yang ingin hidup di masyarakat yang lebih setara: untuk bisa mendekati kesetaraan, kita harus mengorbankan manusia lainnya.

Lewat bukunya, Scheidel membawa pembaca melewati sejarah kesenjangan yang pernah terjadi: mulai dari upah gandum di era Mesir kuno, hingga ukuran rumah di Abad Pertengahan hingga sistem perpajakan modern. Terinspirasi oleh ahli ekonomi Perancis ternama Thomas Piketty yang merilis buku bestseller Capital in the Twenty-First Century di 2014, Scheidel memprediksi bahwa kesenjangan ekonomi antar manusia akan bertambah lebar dalam beberapa dekade ke depan dan berusaha mencari solusinya dengan menilik balik ke dalam sejarah.

Sayangnya, sejarah tidak memberikan jawaban yang menyenangkan. Kesenjangan ekonomi hanya berkurang ketika hal-hal semacam ini terjadi: wabah atau bencana kelaparan, perang dunia, kebangkrutan negara atau revolusi penuh kekerasan. Empat peristiwa ini—disebut sebagai "Four Horsemen" oleh Sheidel—merupakan penyebab tertinggi berkurangnya kesenjangan ekonomi dalam sejarah umat manusia. Wabah yang melanda abad pertengahan Eropa, misalnya, meningkatkan nilai kaum buruh karena jumlah mereka yang terbatas. Dan tentu saja ketika sebuah negara bangkrut, dilanda perang atau mengalami revolusi, banyak harta kekayaan penduduknya hilang. Ini menjadi cara yang ampuh untuk mengurangi jarak antara si kaya dan si miskin—biarpun menimbulkan banyak penderitaan.

Untuk mendapatkan perspektif tentang cara mengaplikasikan pelajaran yang kita tuai dari sejarah ke masalah kesenjangan ekonomi modern—dan bagaimana Donald Trump akan berpengaruh terhadap isu ini—Saya ngobrol dengan Professor Scheidel.

VICE: Apakah kesenjangan itu sendiri hal yang buruk dan sesuatu yang harus kita basmi?
Walter Scheidel: Menurut saya kesenjangan bukanlah hal yang terburuk, biarpun jelas itu bukan hal yang baik. Bandingkan dengan isu kemiskinan misalnya yang jauh lebih mendesak, tidak hanya di Amerika Serikat tapi di manapun di dunia. Apabila kesenjangan dilihat isu bagaimana sumber daya didistribusikan tanpa pandang bulu, ada beberapa sudut pandang yang perlu diperhatikan: sudut pandang etis dan sudut pandang moral. Apakah adil apabila pendapatan sebuah ekonomi didistribusikan dengan tidak imbang? Mungkin ini adil, tapi jelas perlu ada penjelasannya, paling tidak di negara bersistem demokrasi. Seorang ahli ekonomi mungkin akan mengatakan, itu akan berakibat negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Misalnya, dalam sebuah masyarakat yang tidak setara, sebagian besar populasinya akan kesulitan untuk mengkonsumsi dan berinvestasi. Jadi kesenjangan justru bisa menghambat perkembangan ekonomi sebuah negara.

Dan kesenjangan ini cenderung berlangsung terus-menerus. Kalau tingkat kesenjangannya tinggi, maka kemungkinan besar orang tua yang beruntung akan menurunkan harta benda mereka ke anaknya. Dalam jangka panjang, ini akan dilihat sebagai ketidakadilan apabila anda tinggal di dalam masyarakat demokrasi sosial—atau meritokrasi.

Di buku, anda menyebutkan Four Horsemen—perang, revolusi penuh kekerasan, kebangkrutan negara dan wabah/penyakit—sukses menurunkan kesenjangan dalam sejarah. Bisakah anda jelaskan sejarah intelektual konsep ini? Apakah ini teori ciptaan anda sendiri?
Dalam penelitian saya, empat faktor inilah yang paling menonjol, makanya saya sebut sebagai Four Horsemen. Saya terinspirasi oleh artikel Piketty yang membahas Perang Dunia II dan seterusnya. Setelah membaca artikel tersebut, saya berpikir, Bagaimana dengan sejarah lainnya? Saya sendiri sudah pernah meneliti wabah, merilis penelitian tentang perkembangan upah dan kesenjangan, dan bagaimana ini terpengaruh ketika wabah menyerang. Jadi ketika anda bandingkan hasil penelitian saya dan artikel Piketty, ada semacam konsistensi di situ. Revolusi sosial jelas akan mengurangi kesenjangan karena mereka meratakan sebuah negara. Tapi kemudian saya berpikir, ada gak ya kekuatan-kekuatan lainnya seperti ini? Dan dalam riset saya, akhirnya empat peristiwa itulah yang menonjol dibandingkan yang lain.

Di lingkaran kelompok radikal di AS, sering muncul ide menghabisi kaum orang kaya. Namun kalau membicarakan teori Four Horsemen milikmu, rasanya menangkapi beberapa pengusaha dari Wall Street tidaklah cukup. Anda sempat menggunakan Pemerintahan Teror Perancis sebagai contoh usaha penghapusan kesenjangan yang gagal. Bisa anda jelaskan?
Masalahnya di era itu, gak ada yang mengukur tingkat kesuksesan misi tersebut. Kita tidak punya data yang lengkap ketika Teror tersebut sedang memuncak, awal kemunculan Napoleon. Agak sulit menelaah seberapa besar Teror tersebut mempengaruhi Restorasi Kerajaan Perancis. Mungkin agak tidak adil untuk mengatakan, "yah Teror itu gagal," karena efeknya mungkin baru terasa beberapa waktu kemudian.

Tapi ya revolusi mereka waktu itu lumayan dangkal. Mereka memang membunuh beberapa ribu orang kaya, tapi ya jadinya itu hanya sekedar revolusi borjuis. Revolusi semacam ini tidak akan redistributif apabila anda tidak menarik perhatian populasi berpenghasilan rendah dan mengatakan, "Kamu yang akan paling diuntungkan dari revolusi ini." Mirip dengan pandangan sayap kiri. Masalahnya Revolusi Perancis terobsesi dengan hal milik properti—tidak ada gerakan kolektif, semuanya hanyalah fenomena kelas menengah.

Jadi ada perbedaan antara revolusi politik level permukaan dengan pergolakan besar-besaran yang melibatkan kekerasan?
Anda bisa gunakan contoh Revolusi Amerika—perang melawan tenaga asing—, Perang Saudara Amerika Serikat atau lainnya sebagai contoh. Memang dalam contoh-contoh tersebut ada kekerasan yang dilakukan terhadap kaum kaya yang diancam akan direbut asetnya, tapi tetap saja mereka bukan revolusi besar-besaran yang menyeluruh. Revolusi Perancis memang lebih tinggi levelnya, tapi dibandingkan revolusi Komunis, semua terasa cemen karena sebelum revolusi Komunis belum ada yang berani mencoba menstruktur ulang seluruh lapisan masyarakat.

Bagaimana dengan konsep kekerasan vs ancaman kekerasan? Bukankah ancaman saja cukup untuk mengurangi kesenjangan? Di 1930an misalnya, berbagai program kesejahteraan muncul di AS menjelang Perang Dunia II, disebabkan karena dinamika politik dunia saat itu dan kekhawatiran akan munculnya kaum sosialis di AS.
Agak sulit memang karena di AS tidak pernah ada gerakan sayap kiri yang benar-benar kuat. Tapi di Eropa misalnya, setelah 1917 orang-orang di negara Eropa barat sangat takut akan ancaman Komunisme. Wah semua orang-orang miskin akan bangkit, membunuh kita dan menjarah harta benda kita. Dan ini bukan sekedar fantasi karena ini benar-benar terjadi di negara-negara tetangga. Insiden ini mendorong munculnya program-program kesejahteraan yang bermaksud meredam kemunculan Komunisme.

Populisme di Amerika agak berbeda karena tidak seekstrem itu, tapi biasanya mulai muncul di waktu yang serupa. Dan kekhawatiran akan Komunisme juga selalu ada di AS. Dan tentunya ancaman-ancaman ini mempengaruhi kebijakan-kebijakan di negara demokrasi Barat. Anda bahkan tidak perlu membunuh orang-orang kaya—apabila ada semacam sistem alternatif yang lebih menarik, ini pasti mempengaruhi kebijakan pemerintah.

Dan ada perdebatan soal ini. Ketika Uni Soviet mulai kehilangan tajinya, gerakan-gerakan ini mulai tidak menjadi ancaman lagi. Apakah kebetulan saja bahwa kesenjangan mulai kembali timbul ketika Perang Dingin berakhir? Ini disebabkan karena kaum elit mulai tidak lagi khawatir soal ancaman-ancaman seperti ini.

Bukankah program-program kesejahteraan itu agak membantah teori anda—bahwa ancaman kekerasan sudah cukup tanpa harus adanya kekerasan itu sendiri?
Itu benar, tapi saya bisa beragumen bahwa kekerasan harus terjadi di suatu tempat terlebih dahulu. Jadi apabila warga Rusia mulai membunuh orang-orang kaya mereka, ini bukan berarti kekerasan terjadi di negara lain. Tapi kini semua orang tahu bahwa kekerasan bisa terjadi dan telah terjadi. Inilah yang terjadi dengan Revolusi Perancis. Kerajaan-kerajaan Eropa mengatakan, "Parah nih, di Perancis kaum aristokrat kepalanya dipenggal, kita harus menghentikan ini dan menginvasi Perancis."

Efek-efek kuat seperti ini tidak secara langsung terjadi. Kekerasan ini tidak perlu terjadi di tanah air sendiri, tapi selama itu pernah terjadi, maka ancamannya menjadi nyata. Mari ambil Kuba sebagai contoh: Apabila Fidel Castro mengambil alih harta kaum kaya di Kuba, semua orang kaya di Peru, Cili dan Meksiko akan berkata, Ini bisa kejadian sama kita nih. Kita mesti gimana? Mau pilih ditindas atau reformasi aja? Karena kekerasan yang nyata terjadi di luar sana, tiba-tiba ancamannya menjadi nyata bagi mereka.

Bagaimana anda membuktikan bahwa korelasi bukan semata-mata berarti ada hubungan sebab akibat—seberapa jauh kesenjangan dipengaruhi peristiwa besar yang mengejutkan dan apabila kesenjangan jugalah yang menimbulkan terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut?
Masalahnya sulit sekali untuk menetapkan hubungan yang pasti antara kekerasan dan kesenjangan. Belum ada penelitian yang cukup tentang topik ini. Semoga apa yang saya kerjakan bisa menginspirasi orang untuk meneliti topik ini lebih lanjut di masa depan. Namun kalau ditanya sekarang, saya tidak bisa setuju dengan ide bahwa kesenjangan lah yang menyebabkan peristiwa-peristiwa kekerasan.

George Will, seorang kolumnis konservatif di koran Washington Post menggunakan bukumu untuk membenarkan pandangan dunianya. Apabila kekerasan adalah satu-satunya cara untuk mengurangi kesenjangan, kenapa repot-repot mengadakan program kesejahteraan? Apakah anda setuju bahwa program-program seperti ini tidak ada gunanya?
Saya tidak setuju. Bukti sejarah bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Anda bisa saja mengambil sudut pandang Will dan mengatakan, "Ya udah, nyerah aja dan gak usah ngapa-ngapain." Atau anda bisa mengambil posisi ekstrem dan mengatakan "Kalau kekerasan adalah hal yang baik, ya udah bunuhin orang kaya yuk." Saya tidak mendukung kedua posisi tersebut. Dalam 15 tahun terakhir, Amerika Latin menunjukkan bahwa perubahan secara bertahap bisa terjadi. Namun apabila anda menginginkan penurunan kesenjangan ekonomi substansial, ini sangat sulit. Tidak boleh sembarang kekerasan dilakukan, tapi kekerasan yang terjadi secara spesifik dan mempengaruhi kebijaksanaan-kebijaksaan negara.

Ada banyak optimisme ketika Obama menjadi presiden AS tahun 2009. New York Times mengatakan bahwa rencana budgetnya "berani" dan akan "melawan pelunjakkan kesenjangan ekonomi yang telah terjadi di AS dalam 30 tahun terakhir." Tentu saja kaum sayap kanan berusaha menentang agenda ini. Namun kini, delapan tahun kemudian, melihat kebelakang rasanya kaum miskin hanya terbantu sedikit. Obama tidak berhasil membuat banyak perubahan soal kesenjangan ekonomi. Apakah anda melihat ini validasi atas teori anda? Bahwa Obama kurang keras?
Kompresi di kalangan kaya terjadi bukan karena kebijakannya, tapi karena resesi. Resesi mempengaruhi kaum elit karena investasi mereka yang beresiko. Namun beberapa tahun kemudian, keadaan kembali normal. Jadi yang terjadi bukan disebabkan oleh kebijakan Obama, tapi kekuatan-kekuatan luar.

Apa yang akan terjadi apabila Bernie Sanders yang menang, bukan Obama? Kemungkinan besar kebangkitan kaum sayap kanan akan tambah marak. Ini adalah isu yang menarik karena di AS kesenjangan selalu erat hubungannya dengan polarisasi politik. Ketika kesenjangan sedang parah-parahnya di tahun 1900, secara politik penduduk AS juga sedang terbagi-bagi di kala itu. Namun karena peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi saat itu—populisme, Depresi Besar, Perang Dunia II—polarisasi menurun karena orang berpikir: Kalau kita gak bekerja sama dan melakukan perubahan, bisa kacau semua nih. Di saat seperti itulah anda bisa mengimplementasikan kebijakan yang radikal.

Namun sejak itu, polarisasi politik kembali naik dengan cepat, terutama semenjak dekade 80an. Kesenjangan pun naik semenjak 80an. Dan dua hal ini sudah pasti ada hubungannya. Ketika negara anda mengalami buntu politik dimana satu sisi berusaha menghancurkan hasil kerja keras oposisi, tidak akan ada yang berhasil.

Di akhir buku, anda menyarankan perang nuklir sebagai cara terbaik mengurangi kesenjangan. Bagaimana kita bisa tetap berharap terbentuknya masyarakat yang setara ketika solusi yang tersedia hanyalah bencana besar?
Perang nuklir adalah satu-satunya jalan pintas yang kita punya. Kalau anda ingin ada perubahan besar dalam hal kesenjangan dalam 10 atau 15 tahun ke depan, harus ada peristiwa besar yang terjadi—tidak harus perang nuklir. Tentu ini bukan berarti perubahan bertahap tidak mungkin. Ada banyak hal dalam sistem negara Amerika yang perlu dibenahi: masalah perpajakan, politik uang, dan sebagainya. Apabila hal-hal tersebut bisa dibenahi—dan di atas kertas, harusnya bisa—maka perubahan dalam skala kecil dapat terjadi. Apabila bisa dipertahankan dalam jangka panjang, paling tidak kita punya harapan.

Tapi apabila anda berharap macam-macam—seperti ucapan Trump yang kurang lebih mengatakan "Saya akan membawa ekonomi Amerika kembali seperti 40 tahun yang lalu"—maka anda akan kecewa kecuali peristiwa yang besar terjadi. Dan peristiwa besar tersebut mungkin akan membuat banyak orang menderita.

Apakah diangkatnya Donald Trump menjadi presiden membuat prospek terjadinya salah satu dari skenario burukmu menjadi lebih realistis? Dan apakah berarti pengurangan kesenjangan ekonomi menjadi lebih mungkin terjadi?
Menurut saya kita melebih-lebihkan kemampuan Trump untuk mengubah keadaan. Kita sudah melihat bagaimana birokrat AS berusaha melawan dirinya, dan ini akan bertambah sengit seiiring waktu. Memang mudah baginya untuk melakukan perubahan di permukaan, tapi rasanya sulit untuk bisa benar-benar mengubah fondasi negeri ini.

Dan kalau membahas kebijakannya, di satu sisi dia menempatkan diri sebagai seorang populis bagi kelas buruh dan mengaku ingin membangkitkan profesi pabrikan dan sebagainya tapi di saat yang sama dia menjalin kerjasama dengan partai yang selalu menuntut pemotongan pajak bagi orang kaya. Ini dua hal yang tidak sesuai.

Akhir-akhir ini banyak omongan tentang "menonjok kaum Nazi" dan menggunakan kekerasan untuk melawan kaum supremasi kulit putih. Saya sadar bahwa menentang Donald Trump dan ingin mengurangi kesenjangan bukanlah hal yang sama, tapi apakah teori anda berlaku di sini? Apakah mereka yang anti-fasis, yang mendukung adanya kekerasan mempunyai argumen yang valid?
Begitu anda berada di dalam masyarakat di mana tingkat kesenjangan tinggi, kekerasan cenderung lebih mungkin terjadi. Inilah yang selama ini terjadi di Amerika Latin dimana perselisihan dan pemberontakan kerap terjadi. Jadi anda bisa bertanya ke diri sendiri: "Apakah menonjok kaum Nazi hanyalah gejala awal yang diakibatkan polarisasi politik dan kesenjangan yang mencolok?" Saya melihat mereka sebagai hasil dari kondisi-kondisi ini.

Apa ramalan anda untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan, mengingat kebangkitan populisme di negara Barat, xenophobia di beberapa daerah di dunia, kesenjangan yang tinggi dan lainnya? Ke arah mana umat manusia bergerak? Bagaimana kisah ini akan berakhir?
Menurut saya Four Horsemen tidak akan terjadi dalam waktu dekat karena beberapa hal. Dalam jangka pendek, 10 hingga 20 tahun, kita akan melihat iklim politik memburuk dan polarisme akan semakin berkembang, kekerasan bertambah, populisme berkembang, gerakan-gerakan akar rumput muncul. Tapi sistem ekonomi yang kita punya saat ini akan bertahan baik-baik saja dan melewati semua cobaan ini. Dan selama perekonomian kita tidak terpengaruh, maka kesenjangan juga akan selalu ada.