Aksi Massa Menolak Trump Terus Berlanjut dan Meluas di Kota-Kota AS
Berita

Aksi Massa Menolak Trump Terus Berlanjut dan Meluas di Kota-Kota AS

Unjuk rasa menolak kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden AS telah berlangsung empat hari. Aksi susulan diikuti puluhan ribu orang telah direncanakan hingga awal tahun depan mendatang.
14.11.16

Unjuk rasa besar-besaran menolak kemenangan Donald Trump dalam pemilu pekan lalu terus berlangsung di berbagai kota Amerika Serikat. Demonstrasi diikuti ribuan orang ini memasuki hari keempat, meletup ambil contoh di Kota New York, Portland, Indianapolis, Miami, Atlanta, hingga Birmingham di Negara Bagian Alabama.

Aksi massa di Distrik Manhattan, New York, berlangsung akhir pekan lalu setelah jam makan siang. Ribuan orang dari bermacam latar belakang dan etnis turut serta. Mike Pence, wakil presiden terpilih yang mendampingi Trump turut menjadi sasaran.

Iklan

Peserta demonstrasi meneriakkan slogan-slogan seperti, "kami menolak sosok presiden terpilih," "Bangun pagar di sekeliling Mike Pence," "Dia bukan presidenku," atau "Tubuhku, Otoristasku!"

Pengunjuk rasa berpawai hingga kawasan Fifth Avenue, simbol kota New York, lalu mendekati barisan polisi antihuru-hara yang bersiaga persis di depan Gedung Trump Tower.

Pengunjuk rasa mengusung plakat berisi kecaman pada Trump.

Pada saat unjuk rasa berlangsung, Trump dilaporkan sedang berada di gedung tersebut, menemui tokoh sayap kanan Inggris, Nigel Farage, yang tempo hari sukses memenangkan referendum Brexit. Farage khusus datang ke AS untuk merayakan kemenangan Trump.

Beberapa pegawai Trump Tower serta petugas keamanan terlihat berswafoto dari balkon, dengan latar orang-orang yang berunjuk rasa. Juru bicara Kepolisian New York menyatakan kepada NBC News, bahwa pada puncak pawai massa yang terlibat mencapai 25 ribu orang.

Seorang pengunjuk rasa membawa poster anti-Trump.

Selain di New York, nyaris 8 ribu orang tumpah ruah di jalanan Kota Los Angeles menolak kemenangan Trump. Berbeda dari demonstrasi dua kota besar yang berlangsung damai, kekacauan muncul dari protes Anti-Trump di Kota Portland sehari sebelumnya. Demonstran melempar botol dan benda-benda lain ke arah barikade aparat, mendorong barisan polisi mendekati rel kereta, ada pula sebagian pengunjuk rasa yang menyerang wartawan sedang meliput situasi kacau tersebut seperti dikutip dari keterangan polisi setempat. Polisi Portland menahan 19 orang yang dituding biang kekacauan. Surat kabar the Oregonian memperkirakan demo rusuh itu diikuti 250-an orang.

Belum ada tanda-tanda unjuk rasa menolak Trump akan berakhir. Aksi lanjutan sudah disiapkan oleh para pegiat di masaing-masing kota. Sebanyak 5 ribu orang menyatakan kesediaan hadir dalam pawai 'Kelompok LGBTQ dan sekutunya menolak Trump." yang berlangsung 17 Desember mendatang di Kota New York.

Sambil digendong kawan prianya, seorang pengunjuk rasa di New York membawa plakat dukungan bagi Hillary Clinton.

Adapun unjuk rasa pegiat perempuan di Kota Washington sudah dipatok pada 21 Januari mendatang, sehari setelah Trump resmi dilantik. Sejauh ini, 55 ribu orang menyatakan siap hadir dalam unjuk rasa di Washington melalui laman Facebook resmi panitia aksi.

"Aksi damai ini merupakan bentuk solidaritas demi menuntut jaminan rasa aman bagi kawan-kawan kami, yang sekarang terancam dimarjinalkan, ketika seorang pelaku pelecehan seksual bisa terpilih menjadi presiden dan dianggap sesuatu yang biasa," seperti dikutip dari rilis panitia aksi, merujuk tudingan kata-kata Trump yang melecehkan seorang perempuan di sebuah video.

Foto Cover oleh Tess Owen dari VICE News.