Foto-Foto Sumur Minyak Kuwait yang Diubah Jadi Neraka Oleh Tentara Irak
Foto

Foto-Foto Sumur Minyak Kuwait yang Diubah Jadi Neraka Oleh Tentara Irak

"Saya belum pernah jadi saksi bencana buatan manusia sebesar itu, sebelum atau sesudah Kuwait," tulis fotografer Sebastião Salgado yang memotret momen pembakaran kilang-kilang Kuwait saat invasi tentara Irak pada awal 1991.
14.11.16

Artikel ini pertama kali tayang di VICE.

Berikut adalah cuplikan buku Sebastião Salgado yang segera dirilis "Kuwait: A Desert on Fire" (beredar di toko-toko buku mulai 23 November via Taschen). Dalam cuplikan ini, fotografer asal Brazil itu menguraikan inspirasinya saat memotret kobaran api di kilang minyak yang dipicu serangan tentara Irak pada 1991. Dia menjelaskan khususnya alasan baru merilis kumpulan foto ini 25 tahun kemudian. Semua foto © Sebastião Salgado/Amazonas images, dimuat atas izin Taschen.

Iklan

Ketika mendengar kilang minyak Kuwait terbakar, kebetulan saya sedang di Venezuela, memotret industri minyak negara itu yang begitu besar. Berita kebakaran di kilang di Kuwait bikin Venezuela ketar-ketir. Imbasnya, Venezuela langsung menutup akses semua kilang minyaknya dari warga negara asing. Saya, tak luput dari dampak kebakaran di Kuwait, akhirnya kena usir dari daerah penghasil minyak Maracaibo. Saat itu, 1991, semua media massa besar dunia memberitakan aksi tentara koalisi di bawah pimpinan Amerika Serikat yang bersiap memukul mundur tentara Irak. Kesuksesan tentara koalisi inilah nantinya menandai awal ketidakstabilan politik Timur Tengah yang dampaknya terasa hingga saat ini.

Segera setelah tentara koalisi memasuki Kuwait di tengah Februari 1991, hancurlah mimpi basah invasi Saddam Hussein hanya dalam 2 minggu. Saya sadar 'cerita' yang sebenarnya kini sedang berlangsung di Kuwait. Kala itu, setidaknya ada 600 sumur minyak yang terbakar dan lebih banyak lagi lainnya dirusak oleh tentara Irak.

Tak mau kehilangan momen saya langsung mengontak Kathy Ryan, editor fotoThe New York Times Magazine, dan mengajukan diri untuk memotret apa yang tengah terjadi di Kuwait. Kathy menerima proposal saya dengan antusias. Lalu, rencana kami pun mulai bergulir.

Minyak adalah awal dan akhir dari kisah invasi Irak. Rezim Saddam di Baghdad percaya Irak memiliki klaim historis atas wilayah Kuwait. Sejatinya yang membuat Saddam Hussein berang pada negara tetangganya itu adalah kelebihan produksi industri minyak Kuwait, melemahkan harga minyak di pasaran minyak global pada awal 1990. Lebih dari itu, Diktator asal Irak itu kadung percaya bahwa di ladang minyak Rumaila, yang terbentang di kedua sisi daerah perbatasan Irak-Kuwait, menggunakan metode "slant-drilling" untuk menggembosi cadangan minyak negaranya. Dengan menjajah Kuwait, Irak berniat tak cuma menambah cadangan minyaknya namun sekaligus menguatkan kendalinya terhadap pasar minyak global. Di sisi lain, awalnya invasi Irak terhadap Kuwait dianggap sebagai sebuah hukuman—setidaknya di mata Saddam—bagi setiap keluarga kerajaan Kuwait yang "nakal" karena berani menentangnya.

Rencana itu berantakan ketika Saddam menyadari pasukannya terancam babak belur saat berhadapan dengan tentara koalisi internasional dan operasi Desert Storm yang dipimpin AS. Menjelang Januari 1991, tentara Irak mulai membakar sumur-sumur minyak Kuwait, sebuah strategi untuk memuaskan satu keinginan Saddam—membuat harga minyak dunia melonjak. Sang Diktator juga menilai bahwa aksi sabotase ini bernilai strategis. Asap yang membumbung dari sumur yang terbakar bisa—dan memang terbukti—membatasi jarak pandang pesawat tempur musuh, memberikan sedikit perlindungan bagi angkatan darat Irak. Oleh sebab itu, tentara Irak diperintahkan menggali parit dan mengisinya dengan minyak guna memerlambat pergerakan tank dan kendaraan militer musuh. Pada akhirnya pada 28 Febuari 1991, pendudukan Irak atas Kuwait berakhir. Meski demikian, toh Irak meninggalkan sedikit kenang-kenangan: sumur minyak yang terbakar.

Iklan

Tak lama kemudian, insinyur perminyakan dan teknisi dari Amerika Utara dan Eropa berdatangan ke Kuwait, mempertaruhkan nyawa mereka guna memadamkan api dan mencegah kebocoran minyak. Sebelum terjun ke Kuwait, saya menunggu beberapa minggu sampai beberapa perusahaan yang diminta memadamkan api rampung membentuk sebuah tim lalu mulai bekerja. Setidaknya, ada selusin perusahaan dibayar memadamkan api di banyak sumur-sumur. Di antara perusahaan itu, yang paling banyak memadamkan api kuwait adalah Kanada Safety Boss team, the Red Adair Company, Boots & Coots International Well Control, serta Wild Well Control, tiga yang disebut terakhir berasal dari Amerika Serikat. Yang juga turut serta dalam usaha pemadaman adalah warga negara asing, supir-supir handal dan berbagai macam penolong dari Afrika Timur dan anak benua India. Sumbangsih pekerja asing ini tak bisa dipandang sebelah mata: lebih dari 300 ahli dari berbagai negara datang demi mencegah kerusakan tanah dan air, memulihkan Industri minyak Kuwait, menyelamatkan ekonomi negeri Teluk itu, dan tentu saja menstabilkan harga minyak global.

Namun, warga negara asing ini yang bergerak layaknya hantu dalam keremangan, kuyup dengan minyak selama bekerja, benar-benar bekerja seksama dengan nyawa mereka sebagai taruhan. Apa yang mereka lakukan menuntut pengalaman, kemampuan berimprovisasi, disiplin, solidaritas, kebugaran badan, serta kekuatan akal pikiran. Tanpa campur tangan mereka, niscaya harga yang dibayar oleh Kuwait—dalam bentuk korban dan kerusakan alam—bisa jauh lebih besar. Pada awal April 1991, saya akhirnya mencapai perbatasan Irak dan Kuwait. Setelah gusar menunggu izin masuk Kuwait, saya akhirnya menyewa kendaraan 4X4 dan langsung saja nyelonong berkendara menuju Kuwait—ke arah asap hitam terpekat yang pernah saya lihat.

Iklan

Saya baru menerbitkan buku ini 25 tahun setelah Invasi Kuwait. Alasannya gampang saja, saat menengok kembali portofolio saya, ada banyak foto yang tak pernah diterbitkan. Namun, alasan yang paling penting adalah kualitas foto ini tak lekang dimakan waktu. Foto-foto ini diambil 1991 silam, namun mereka bisa saja diambil dari sebuah bencana serupa yang terjadi hari ini atau besok. Secara pribadi, foto-foto adalah perjalanan ke masa lalu saya. Saya terkenang momen-momen ketika mengarahkan kamera untuk mengambil foto-foto ini. Kumpulan foto itupun masih sangat menyentuh seperti saat pertama kali saya melihatnya seperempat abad silam.

Saya tak pernah jadi saksi bencana buatan manusia sebesar itu, sebelum atau sesudah Kuwait.

'Kuwait: A Desert on Fire' oleh Sebastião Salgado mulai beredar 23 November di jaringan Taschen. Untuk pre-order klik di sini, Teruskan membaca jika ingin melihat lebih banyak foto dari buku tersebut.