Daftar Musik Tak Biasa

Delapan Musisi Keren (Tapi Kurang Terkenal) Ini Cuma Merilis Satu Album

Dari The Postal Service hingga Madvillain. Para musisi tersebut tentu punya alasan kuat cuma berkarya sekali sesudah itu mati. Tapi tetep aja, coba mereka lebih rajin lagi berkarya.
18.4.17

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.

Dalam sejarah panjang musik dunia, kita umumnya mengingat musisi-musisi besar saja. Misalnya para pemenang Grammy award. Mereka-mereka yang wajahnya sudah kelewat sering terlihat di kaos ataupun majalah budaya pop. Atau band-band yang memulai gerakan musik baru. Seiring waktu berjalan dan ingatan pudar, musisi-musisi besar inilah yang nantinya kita ingat di hari tua.

Iklan

Lalu bagaimana nasib musisi yang hanya pernah merilis satu album? Ada banyak sekali seniman yang hanya merilis album tunggal, entah sebagai proyek sampingan iseng, atau karena mereka dipecat label sesudah rilisan pertama, atau mereka sudah bosan dengan proyek tersebut. Memang biasanya alasan yang utama dibalik album tunggal adalah entah albumnya jelek atau secara penjualan tidak mendukung. Tapi jangan salah, banyak juga band-band atau seniman yang merilis album tunggal luar biasa yang membuat kita kebingungan kenapa mereka tidak pernah merilis album kedua.

Dalam daftar 8 album luar biasa kami ini—tidak akan ada daftar kedua tentunya—ada beberapa album yang sengaja tidak dimasukkan. Misalnya The Miseducation of Lauryn Hill, Out of Step milik Minor Threat, Never Mind The Bollocks karya Sex Pistols atau album self-titled The La's—karena secara universal semua orang sudah sadar pada kualitas para musisi satu-album itu. Emang mau berapa kali lagi denger album Grace-nya Jeff Buckley itu pecah banget? Di daftar ini kami mencoba berfokus di album-album yang belum mendapat pengakuan sebesar rekaman-rekaman di atas.

Semoga daftar ini akan terus hidup di internet. Ingat, yang penting itu kualitas bukan kuantitas.

Test Icicles
For Screening Purposes Only

Trio asal London yang berumur pendek Test Icicles muncul di tengah puncak musik dance-punk di awal 2000an ketika lagu The Rapture "House of Jealous Lovers" kerap diputer di toko-toko musik dan acara-acara party. Yang membuat Test Icicles unik adalah sikap mereka yang tidak peduli, terlihat dari upaya mereka 'merusak' genre tersebut dengan memasukan elemen screamo dan thrash. Alih-alih terdengar seperti LCD Soundsystem, mereka lebih terdengar seperti Glassjaw dibalut musik rave. Apabila anda salah satu anak "indies" atau "skena" di awal tahun 2000-an, musik ini cocok untuk anda.
—Joe Zadeh

Madvillain
Madvillainy

Sebagai individu, jelas kedua anggota Madvillain sudah terkenal di dunia rap, tapi sebagai grup, MF Doom dan Madlib hanya merilis dua album—album debut mereka Madvillainy dan album berikutnya Madvillainy 2: The Madlib Remix. Lah itu 2 album? Mengingat album kedua itu hanya berisikan lagu-lagu remix, jadi kita hanya menghitung album pertama mereka. Seperti yang kita tahu, Madvillainy sudah menjadi bagian dari sejarah hip-hop, mempengaruhi banyak produser dan rapper backpack. Kalau anda belum dengar album ini, tunggu apa lagi?
—Ryan Bassil

Germs
GI

Kematian Darby Crash merupakan salah satu yang paling tragis di dunia musik. Seorang junkie punk asal LA yang mati akibat overdosis heroin di umur 22 tahun, Crash merupakan sosok yang keras dan puitis secara bersamaan.

Secara gaya musik, GI merupakan album hardcore punk sebelum hardcore menjadi genre yang penting nantinya. Musiknya cepat, sombong, kasar namun penuh dengan melodi dan ironisnya, penuh dengan semangat hidup. Biarpun tidak serusuh penampilan live mereka, album ini terbilang rapih berkat hasil produksi Joan Jett. Biarpun musiknya simpel, vokalis Crash menampilkan penampilan yang luar biasa, memuntahkan kata-kata penuh dengan pengaruh berbagai kultur mulai dari David Bowie hingga Charles Manson. Lirik Germs hampir sama bagusnya dengan musik mereka, dan ini adalah sesuatu yang jarang kita temukan di banyak band, apalagi band punk.

Iklan

Bisa dibilang Germs mempengaruhi banyak sekali musisi, mulai dari band skate punk hingga Sonic Youth dan Ratking. Bayangkan kalau Crash tidak bunuh diri dulu.
—Emma Garland

Fever Ray
Fever Ray

Setelah merilis tiga album bersama The Knife, Karin Dreijer Andersson memilih untuk mengeluarkan semua uneg-unegnya lewat album solo, Fever Ray. Namun sesuai dengan kepribadian Andersson, dia curhat dengan cara yang tidak umum: manipulasi vokal total yang membuat suaranya kadang terdengar seperti malaikat, dan kadang iblis. Konsep album ini terinspirasi oleh fenomena kurang tidur dan hingga saat ini masih menjadi salah satu bentuk seni paling indah dan akurat tentang apa rasanya ketakutan di dalam kegelapan.
—Joe Zadeh

Wild Flag
Wild Flag

Jujur deh. Kalian pasti udah eneg duluan kan kalau baca frasa "indie supergroup"? Nah salah satu pengecualiannya adalah ketika kita ngomongin Wild Flag. Band yang cemerlang tapi berumur pendek ini sempat merilis album self-titled di tahun 2011.

Terdiri dari Carrie Brownstein (jagoan gitar dari Sleater-Kinney, dan nantinya bintang acara TV Portlandia), mantan drummer Bright Eyes, Janet Weiss, gitaris Mary Timony (dari band Autoclave) dan mantan drummer The Minders, Rebecca Cole yang memainkan synth, proyek Wild Flag dimulai dengan berbagai postingan misterius nan aneh di Facebook ("Seperti apa bunyi salju longsor menerpa seekor lumba-lumba? Apa hasil persilangan hamburger dengan hot dog? Jawabannya adalah WILD FLAG.")

Iklan

Mereka mulai hiatus di 2013 dengan alasan sulit menjalankan band yang anggotanya "berjarak lima jam perjalanan pesawat terbang", memaksa kita terus memutar album tunggal mereka.
—Francisco Garcia

Life Without Buildings
Any Other City

Ingatkah anda dengan masa muda? Ketika anda masih agak narsistik, sinis, arogan dan sok tahu? Diri anda yang belum terbebani kehidupan. Diri anda yang menyukai banyak hal secara tulus? Zaman ketika anda masih punya band favorit. Zaman ketika anda masih rajin membaca lirik. Apabila anda kangen dengan masa ini, putar album ini sekarang.
—Josh Baines

The Postal Service
Give Up

Masih ingat ketika lagu-lagu macam "Sleeping In" dan "Such District Heights" kerap diputar di stasiun-stasiun radio lokal 14 tahun yang lalu? Bahkan mereka-mereka yang belum kenal indie hero Ben Gibbard, sang vokalis/gitaris yang juga bermain di Death Cab to Cutie pun langsung bertanya, "Ini siapa sih? Enak banget lagunya." Silakan dengar kembali album ini dan sadari bahwa synth-pop itu bisa sangat efektif tanpa harus berlebihan.
—Emma Garland

Late of the Pier
Fantasy Black Channel

Melihat kembali album debut Late of the Pier, Fantasy Black Channel memang pengalaman yang membingungkan. Dari satu sisi, mestinya musik funk bubblegum macam ini tidak cocok dengan pendengar musik jaman sekarang, tapi di saat yang sama album ini menjadi semacam penerus benih-benih yang ditabur oleh Gary Numan, Brian Fery, dan kontemporer seperti The Klaxons. Berisikan 12 lagu dance kontemporer yang membius—biarpun era British New Rave sudah lewat satu dekade silam—Fantasy Black Channel terdengar sangat asing. Tidak sembarang band bisa menciptakan musik yang terdengar seperti orgi dari musik house, tekno, David Bowie dan pop. Status cult mereka bertahan hingga sekarang—dan penggemar mereka masih kerap meminta band reunian dan menulis album baru.
—Ryan Bassil

Kalian bisa follow tim redaksi Noisey: Emma, Francisco, Josh, Ryan dan Joe lewat Twitter mereka masing-masing.