FYI.

This story is over 5 years old.

Politik

Perempuan Kenya Diminta Libur Tak Melayani Seks, Supaya Para Suami Mau Ikut Pemilu

Usulan nyeleneh ini diserukan politikus kondang di negara itu, Mishi Mboko.
Foto oleh Getty Images

Artikel ini tayang pertama kali di VICE Australia.

Berita semacam ini terdengar mirip plot drama Yunani Kuno Lysistrata atau salah satu karya Spike Lee Chi-Raq. Faktanya: kaum perempuan di Kenya saat ini benar-benar diminta untuk libur "memberi jatah seks" pada suami mereka sampai para suami mendaftarkan diri sebagai pemilih dalam pilpres Kenya, Agustus mendatang.

Mishi Mboko, salah satu anggota Parlemen Kenya, meminta kaum perempuan di Kenya untuk "libur memberi jatah pada suami sampai mereka menunjukkan kartu pemilih pilpres mendatang." Aturan pendaftaran pemilih memang sangat ketat. Warga Kenya diharuskan mendaftarkan diri pada tanggal 17 Februari mendatang agar bisa ikut serta dalam pilpres yang dilakukan musim panas tahun ini.

Iklan

Dengan demikian, rencana Mboko memberi arti baru bagi frase "Januari yang Kering."

Usulan yang dikemukan Mboko adalah salah satu langkah yang diambil oleh partainya untuk mengalahkan presiden yang berkuasa saat ini, Uhuru Kenyatta, dalam pemilihan Agustus mendatang. Kenyatta, anak dari presiden pertama dan pendiri Kenya, masih berusaha menduduki posisi nomor satu di Kenya meski telah didakwa melakukan kejahatan terhadap kemanusian oleh  Mahkamah Kriminal Internasional. Dalam dakwaannya, Kenyatta dituduh menjadi dalang kericuhan yang meletus pasca pilpres 2007 yang menenal korban sebanyak 1.300.

Namun, tingkat popularitas Kenyatta kembali meroket setelah tuduhan yang ditimpakan padanya dicabut karena kurangnya bukti. Sementara di saat yang sama, biaya hidup dan utang publik masih membelenggu Kenya.

Mogok seks bukan barang baru dalam kancah politik Kenya. Pada tahun 2009, Women's Development Organization meminta kaum perempuan Kenya untuk mogok seks selama seminggu. Tujuannya untuk memaksa presiden saat itu Mwai Kibaki dan perdana menteri Raila Odinga rujuk setelah hubungan mereka memanas dalam piplres 2007. Nyatanya, Kenya cuma butuh mogok seks seminggu saja untuk membuat roda pemerintahan kembali berjalan.

Sementara itu di sisi lain benua Afrika, pada 2011 aktivis kemanusian Leymah Gbowee memenangkan Nobel Perdamaian atas usahanya mengakhiri perang saudara kedua di Liberia dengan menggunakan mogok seks.

Melihat betapa manjurnya penggunaan mogok seks sebagai sebuah aktivitas politik, seperti para suami di Kenya bakal segera berbondong-bondong mendaftarkan diri Februari untuk ikut pilpres Agustus Mendatang.