Duo Jenius di Balik Musim Baru ‘Stranger Things’

Saya menghubungi pencipta Stranger Things, Matt dan Ross Duffer tiga minggu sebelum musim baru seri tersebut dimulai. Mereka sedang sibuk menyiapkan efek visual untuk seri hit Netflix mereka itu, tapi tetap terdengar rileks biarpun dikejar deadline yang mepet dan ekspektasi yang luar biasa tinggi dari penggemar.

Saya langsung merasa nyaman dengan mereka, dan seiring kami ngobrol, saya sadar betul kenapa Stranger Things menjadi sukses besar. Di luar referensi kultur-pop 1980an, casting pemeran yang menawan, efek visual yang memukau, dan kesbaran meladen detail yang luar biasa, gairah merupakan kunci dari kisah seri ini (dan juga kunci dari karya kakak-beradik Duffer).

Videos by VICE

Gairah inilah yang melahirkan otentisitas. Biarpun estetika 1980-an dan referensi kultur pop membantu pengisahan cerita tentang Will Byers dan The Upside Down, Matt dan Ross tidak ingin elemen-elemen ini menutupi kunci dari karya mereka: kebahagiaan dan rasa takut yang kita semua alami ketika masih anak-anak.

Ketika masih kecil, Ross dan Matt menghabiskan musim panas mereka menciptakan film independen amatir bersama teman. Semenjak kelas 4 SD, mereka selalu membawa camcorder Hi8 dan tripod dan menghabiskan hari-hari mereka berpetualang di kota kelahiran Durham, North Carolina sampai masuk-masuk ke dalam hutan. Orang tua mereka tidak pernah tahu apa yang mereka sebenarnya lakukan.

“Bagian terpenting dari masa kecil kami adalah membuat film,” jelas Ross. “Dorongan terbesar kami dalam hidup adalah untuk bisa melakukan ini sebagai pekerjaan utama, dan juga berusaha menangkap kembali perasaan yang kami punya di musim panas saat masih kecil dulu.”

Mereka juga tentunya menonton banyak film, mulai dari Stand By Me, E.T., Poltergeist, dan masih banyak lagi lewat video VHS. Menonton film, berpetualang, dan menciptakan cerita merupakan bagian penting dari masa kecil pasangan kakak-adik berumur 33 tahun tersebut. Matt secara spesifik ingat menonton The Goonies pertama kali: “Film itu sangat berpengaruh buat kami, karena rasanya seperti menonton kami sendiri berpetualang. Anak-anak di film itu sangat mirip dengan kami dan teman-teman, dan mereka menjalani petualangan yang sangat luar biasa.”

Matt dan Ross ingin penonton bersemangat menonton karya mereka sama seperti bagaimana mereka bersemangat menonton film-film favorit semasa kecil—dan sejauh ini, mereka sukses. Stranger Things adalah acara Netflix nomor satu yang paling sering ditonton maraton, menurut Business Insider, dan memiliki rating 96 persen di Rotten Tomatoes. Ditanya seputar ekspektasi tinggi dari penonton dan apakah mereka sanggup menjawab tantangan tersebut, Ross bersikap rendah hati. “Dalam hal ekspektasi, kamu hanya bisa berusaha membuat sesuatu yang akan kamu suka,” jelasnya. “Begitu kamu berusaha menghitung-hitung dan mencari tahu apa yang sebagian besar penonton inginkan, kamu akan gagal.”

Jenis film yang mereka gemari kebanyakan adalah penuturan cerita yang khas di film-film 80-an: cerita seputar masa remaja yang dikemas dalam bentuk thriller petualangan. Film-film kesukaan mereka berkisah tentang anak-anak yang melakukan petualangan-petualangan epik dan akhirnya mengalami perubahan diri setelah menyelesaikannya. “Ini adalah jenis cerita yang menurut kami belum ada di pasaran,” jelas Matt.

Ross langsung menambahkan: “Menurut saya, jenis penuturan cerita seperti ini bisa efektif tanpa hanya memanfaatkan nostalgia semata. Kami memilih setting 1980-an untuk seri ini karena alasan spesifik, tapi bukan hanya nostalgia. Penonton seharusnya sadar bahwa cerita macam ini tetap akan bisa menyentuh penonton era masa kini, biarpun dengan estetika 80-an.”

Ketika pertama kali menulis Stranger Things, kami menulis adegan anak-anak memainkan Dungeons & Dragons,” jelas Matt. “Dan kami menulisnya hanya dalam dua menit. Semuanya langsung tumpah keluar karena kami dulu mengalaminya sendiri. Kami hanya perlu menyelami perasaan yang kami alami selagi anak-anak. Itu adalah pertama kalinya saya merasakan itu, karena biasanya ketika menulis kamu berusaha menangkap sebuah suara yang berusaha kamu tiru—tidak sepenuhnya dirimu sendiri. Namun karena Stranger Things terasa sangat pribadi, bagian penulisan menjadi jauh lebih mudah.”

Ross berharap seri ini terasa seperti sesuatu yang dibuat di tahun 1983, dan maka dari itu sangat berhati-hati memilih referensi yang digunakan dan seberapa sering. “Iya, anak-anak pasti akan ngomongin Star Wars. Di film E.T. aja ada referensi Yoda kan? Itulah yang menjadi obsesi anak-anak di era itu.”

Matt memotong sambil sedikit membeberkan musim kedua Stranger Things: “Di episode Halloween, mereka semua mengenakan kostum Ghostbusters,” jelasnya. “Dulu kami juga mengenakan kostum Ghosbusters, jadi ini bukan main asal lempar referensi kultur pop semata. Untuk alasan inilah mengapa saya berharap seri ini akan sukses, karena orang-orang seumuran yang besar di era itu juga akan mengerti.”

Biarpun begitu, tak bisa dipungkiri bahwa banyak penonton menyukai faktor nostalgia dari seri ini—biarpun bagi mereka yang lahir setelah 80-an, sama seperti kakak-beradik Duffers. “Yang mengejutkan adalah bagaimana seri ini berhasil menghubungkan mereka dengan generasi muda,” jelas Matt. “Saya selalu merasa ada sesuatu tentang Stranger Things yang menarik bagi generasi muda, mungkin kebebasan sebelum era ponsel, bagaimana anak-anak kecil tumbuh di masa itu. Ada elemen yang memiliki daya tarik tersendiri.”

Matt dan Ross di lokasi syuting Stranger Things. Foto oleh Jackson Lee Davis/Netflix

Di musim kedua, sama seperti film sekuel yang baik, pasangan sutradara Stranger Things telah belajar dari musim pertama seri—dari segi plot dan perspektif aktor—dan menerapkannya. Di musim baru, fokusnya akan jatuh ke Will Byers (Noal Schnapps), semenjak dia kembali dari the Upside Down, dan bagaimana ini berdampak ke dirinya. Tidak seperti musim lalu, Schnapps akan menjadi inti cerita. Musim ini juga akan dipenuhi oleh karakter baru: Alumni Aliens, Paul Reiser akan memainkan seorang dokter dari Departemen Energi; Sean Astin memainkan Bob Newby, dan lainnya.

Ketika ditanya berapa musim lagi Stranger Things akan bertahan, pasangan kakak-beradik sutradara mengatakan hal ini sulit diprediksi. “Kami hanya ingin memastikan kami bersemangat setiap tahunnya dan tidak sekadar makan gaji buta,” jelas Ross. “Kami tahu titik akhir dari ceritanya. Jadi, kami tahu kami mengarah ke mana, dan tempat tujuannya. Tapi kami masih belum memutuskan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tiba di sana.”

Thank for your puchase!
You have successfully purchased.