Sophia, robot dengan kecerdasan buatan dari Hanson Electronics, diberi kewarganegaraan oleh Kerajaan Saudi.
Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.Pekan lalu, Arab Saudi resmi menjadi negara yang pertama kali di dunia yang memberikan status kewarganegaraan pada sebuah robot. Robot bernama Sophia tersebut mendapatkan kewarganegaraan Arab Saud dalam pertemuan Future Investment Initiative digelar di Ibu Kota Riyadh. Kabar mencengangkan tersebut diumumkan oleh pembawa acara CNBC yang hari itu berperan sebagai moderator panel.
"Saya ingin berterima kasih sebesar-besarnya pada Kerajaan Saudi Arabia," ujar Sophia kepada para pengunjung dari dari sebuah podium. "Saya tersanjung dan merasa bangga atas perlakuan istimewa ini."
Sophia dibuat oleh Hanson Robotics asal Hong Kong dan pertama kali diaktifkan April 2015. Sophia adalah robot perempuan kulit putih yang tampil sepenuhnya bak manusia dipakaikan wig. "Kulit" Sophia berhenti sedikit di atas jidatnya dan bagian belakang telinganya.
Akibatnya, bagian mesin—di tempat otak manusia biasanya terletak—bisa dengan mudah terlihat. Dalam sebuah laman web yang didedikasikan bagi Sophia, perusahaan pembuat Sophia memberikan deskripsi mendetail tentang penampakan Sophia—perlakuan yang jarang diterima robot-robot "laki-laki."
"[Sophia] didesain agar mirip dengan Audrey Hepburn, Sophia mewarisi kecantikan klasik ala Hepburn: kulit mulus bak porcelain, hidung yang bangir, tulang pipi yang tingg, senyum yang menawan serta mata ekspresif yang warnanya seperti berubah tiap kali terkena cahaya."
Sejak pertama kali diaktifkan, Sophia menjelma menjadi mesin yang mencatatkan prestasi yang luar biasa, mulai dari muncul di sampul Ella Brazil hingga jadi tamu di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon. Belakangan, Sophia terlibat perdebatan sengit dengan Elon Musk, bilyuner yang sangat keras mengkritik perkembangan Artificial Intelligence. Bagi Elon, AI bisa menjadi biang kerok Perang Dunia selanjutnya dalam sejarah umat manusia.
Di King Abdullah International Conference Center tempat pertemuan Future Investment Initiative, penganugrahan kewarganegaraan Sophia ditanggapi dengan tepuk tangan dan teriakan gembira. Namun, begitu beritanya menyebar, banyak warga negara Arab Saudi yang menunjukkan respon negatif. Sebagian di antaranya mengklaim Sophia, sebagai warga negara baru Arab Saudi, sudah menikmati hak-hak yang tak pernah dirasakan oleh perempuan Arab Saudi betulan. Misalnya, Sophia dipamerkan di depan banyak lelaki tanpa mengenakan hijab atau abaya, baju longgar panjang warna hitam yang umumnya dikenakan oleh perempuan Arab Saudi. Perempuan Saudi bisa dicokok aparat cuma karena mengunggah foto mereka tanpa abaya dan hijab.
Di Twitter, perempuan Arab Saudi muali mempertanyakan keberadaan wali laki-laki Sophia dan penasaran apakah Sophia diharuskan memiliki wali seperti yang diwajibkan bagi semua perempuan Arab Saudi oleh sistem perwalian yang berlaku di sana. Menyusul pengumuman pemberian status kewarganegaraan pada Sophia, hastag #صوفيا_تطالب_باسقاط_الولايه atau #sophia_demands_that_guardianship_be_dropped sontak viral di twitter.
"Saya ingin jadi Sophia suatu hari nanti dan menikmati hak-hak saya," kata perempuan Arab Saudi lewat tweetnya.
Penduduk Arab Saudi lainnya mengutuk pemberikan status warga negara kepada sebuah robot. Apalagi aturan hukum mengatur masalah kewarganegaraan di Arab Saudi masih begitu bermasalah, ketat, dan kerap dikritik oleh banyak organisasi hak asasi manusia. Perempuan yang memiliki kewarganegaraan Arab Saudi, misalnya, tak bisa mewariskan statusnya pada anak dan pasangannya jika mereka warga negara asing.
Lebih jauh, Kerajaan Arab Saudi dikenal punya catatan buruk dalam memperlakukan 9 juta perempuan buruh migran yang bekerja di wilayahnya. Para pekerja asing ini tak diperkenankan memiliki kewarganegaraan Arab Saudi dan tak leluasa meninggalkan wilayah Negara Petro Dollar itu.
Broadly menghubungi enter for International Communication (CIC) Arab Saudi untuk memastikan apakah Sophia akan diperlakukan layaknya perempuan Arab Saudi lainnya. Sampai saat ini, kami belum menerima jawaban. Artikel ini akan diperbarui setelah kami menerima pernyataan dari Kerajaan Saudi.
Baca juga liputan VICE tentang dampak kebijakan baru Saudi terhadap ulama garis keras di Tanah Air:
Baca juga liputan VICE tentang dampak kebijakan baru Saudi terhadap ulama garis keras di Tanah Air:
Pemberian kewarganegaraan Sophia terjadi ketika Arab Saudi berusaha menjelma menjadi salah satu pemimpin dunia dalam kancah gaya hidup dan kemajuan teknologi. Beberapa tahun ini, Arab Saudi telah melonggarkan beberapa aturan perwalian terhadap perempuan. Contohnya, baru saja perempuan akhirnya bisa memperoleh SIM, dan artinya diizinkan mengemudikan kendaraan sendiri, mulai 2018.
Putra mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, sudah melakukan gebrakan lain sebelum Sophia dapat kewarganegaraan. Dia memberi pengumuman penting kepada media massa seluruh dunia kalau negaranya siap meninggalkan ekonomi minyak, wahabisme, dan diskriminasi terhadap perempuan. Pendek kata, menjadi negara modern sehingga bisa menarik investor asing.
Pertama, berjanji Kerajaan Arab Saudi akan "menciptakan islam yang lebih moderat dan lebih terbuka terhadap dunia." Lalu rencana kedua, PAngeran Mohammed berencana membangun kawasan bisnis sekaligus sebuah mega-city bernama NEOM yang bernilai sekitar US$500 miliar (setara Rp6.783 triliun). Para pakar menduga dua pengumuman ini saling berkaitan satu sama lain. Menurut rilisan pers yang diterima Broadly dari Center for International Communication (CIC) Arab Saudi, "Penggunaan robot bakal jadi satu fitur utama NEOM."
