Politik Internasional

Yang Perlu Kita Ketahui Soal Penangkapan Belasan Pangeran dan Elit Pemerintahan Arab Saudi

Apakah ini murni pemberantasan korupsi atau ada motif kekuasaan di balik itu?
07 November 2017, 3:30am
Charles Platiau/REUTERS

Akhir pekan lalu, Putra Mahkota Kerajaan Saudi Arabia memerintahkan penangkapan besar-besaran. Puluhan elit politik diciduk, mulai dari pangeran, menteri, dan pejabat-pejabat teras dengan tuduhan korupsi. Tindakan ini ditengarai sebagai taktik yang digunakan sang putra mahkota guna memperkokoh kekuasaannya.

Hanya berselang beberapa hari setelah diangkat menjadi Kepala Komite Anti Korupsi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, putra kesayangan Raja Salman yang berusia 32 tahun, segera menahan 11 pangeran dan beberapa pejabat tinggi kerajaan Arab Saudi.

Pangeran Alwaleed bin Talal, salah satu investor utama di Twitter dan Citigroup, adalah satu elit yang ikut dicokok akhir pekan lalu. Taipan asal Arab Saudi itu dituduh terlibat dalam kegiatan pencucian uang, penyogokan, dan penggelapan, ujar seorang sumber pada kantor berita internasional Reuters.

Pihak berwenang Kerajaan Arab Saudi Senin lalu mengumumkan pembekuan rekening bank semua tersangka, seperti yang dilansir oleh kantor berita milik pemerintah Arab Saudi Al-Arabiya. Tindakan putra mahkota Arab Saudi ini ternyata berimbas pada melonjaknya harga minyak bumi. Harga satu barel Minyak Mentah Brent saat ini dibanderol $62,55 (sekitar Rp844 ribu), harga tertinggi sejak Juli 2015.

Berikut beberapa hal yang patut kalian ketahui tentang penangkapan akhir pekan lalu itu :

1. Pihak berwenang Arab Saudi belum membeberkan nama semua tersangka yang ditangkap akhir pekan lalu. Meski demikian, beberapa pejabat yang diwawancarai Reuters memastikan bahwa Pangeran Miteb bin Abdullah, mantan kepala Garda Nasional Arab Saudi ditangkap bersama Menteri Ekonomi Adel Fakeih, Gubernur Riyadh Pangeran Turki bin Abdullah serta mantan Menteri Keuangan Ibrahim al-Assaf.

2. Reuters melaporkan bahwa beberapa tersangka disekap Ritz Carlton hotel yang terletak di wilayah diplomatis Riyadh.

3. Mohammad bin Salman, atau kerap dikenal dengan nama MbS, ingin mereformasi masyarakat Arab Saudi dan ingin memutus ketergantungan negara petro dolar itu pada pendapatan dari minyak bumi. Setelah namanya melonjak secara dramatis beberapa tahun terakhir, MbS praktis menjadi salah satu pengambil keputusan utama beragam kebijakan dari ekonomi hingga keamanan. Putra Mahkota Arab Saudi itu juga yang memicu perang dengan Yaman yang sudah berlangsung selama dua tahun dan ketegangan diplomatis dengan Qatar baru-baru ini.

4. Meski dikenal sebagai penggagas kebijakan pengetatan ekonomi. MbS tak segan-segan menghambur-hamburkan hartanya. Tahun lalu, saat sedang berlibur di kawasan selatan Perancis, Putra Mahkota Arab Saudi itu menemukan sebuah yacht milik seorang taipan dari Rusia dan segera membelinya dengan harga $550 juta (sekitar Rp7,4 triliun).

5. Gonjang-ganjing di Kerajaan Arab Saudi makin runyam setelah Pangeran Mansour bin Muqrin tewas setelah helikopter yang ditumpanginya jatuh di dekat perbatasan Yaman. Sampai saat ini penyebabnya jatuhnya helikopter itu belum jelas. Kendati demikian, 24 jam lalu, Pemerintah Arab Saudi mengumumkan keberhasilannya mencegat peluru kendali dekat Bandar Udara Internasional Riyadh.

6. Satu faktor lainnya yang memperparah gejolak di Kerajaan Arab Saudi adalah mundurnya Saad al-Hariri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Libanon dengan alasan keselamatannya terancam. Di samping itu, al-Hariri menuding Hezbollah dan pendukungnya di Iran sebagai dalang berbagai kekacauan di Lebanon. Hezbollah membalas tudingan al-Hariri, menuduh Arab Saudi memaksa al-Hariri mundur. Senin Lalu, al-Hariri dikabarkan bertemu dengan Raja Salman di Riyadh.