#CariJodohApaAja

Berbekal Saran Pakar Online Dating, Saya Terima Tantangan Main Tinder Seminggu Penuh

Saya yang kaum rebahan merasa cupu kenalan lewat aplikasi. Pandangan saya berubah berkat tips suhu-suhu aplikasi kencan agar PDKT-nya lebih sip. Tapi saya enggak langsung jadi sekelas Ariel Noah sih....
25.11.19
Berbekal Saran Pakar Online Dating, Saya Terima Tantangan Main Tinder Seminggu Penuh
Walaupun aslinya aktivis rebahan, saya mah ternyata bisa tetap menampilkan citra mempesona di aplikasi kencan Tinder. Semua foto dari arsip penulis. 

Hampir setiap cara saya mendapat teman terjadi lewat cara yang konvensional. Bertemu dulu, ngobrol sana-sini, barulah saling bertukar nomor apabila merasa nyambung dan yakin dia tidak tergabung dalam sekte Kerajaan Ubur-Ubur. Secara sederhana, pertemanan saya dimulai dari kontak dunia nyata, baru kemudian berlanjut ke percakapan via ponsel.

Saat Tinder diluncurkan pada 2012, aplikasi ini seolah jadi antitesis dari cara saya berteman. Soalnya, di aplikasi itu kita diminta menilai mana orang yang kita sukai lewat foto dan informasi diri terlebih dahulu, macam seleksi berkas dalam lamaran kerja perusahaan multinasional. Kalau sudah sama-sama sreg dengan profil masing-masing, kita pun masih enggak serta merta bisa langsung ngajak ketemu. Kita harus ngobrol dulu lewat ruang chat yang sudah disediakan Tinder.

Iklan

Setahun sejak diluncurkan, Tinder langsung menyabet penghargaan Best New Startup of 2013 dalam ajang TechCrunch. Pada 2015, atau tiga tahun berjalan, Tinder sudah memiliki 50 juta pengguna dengan 10 juta di antaranya aktif setiap hari. Angka-angka tersebut membuat saya sadar bahwa ternyata cara berteman saya enggak melulu yang paling benar, meski memang yang ternyaman buat saya.

Baru pindah ke Jakarta beberapa minggu, seorang kolega menawari saya mencoba mencari teman baru lewat Tinder. Mungkin dia prihatin melihat saya yang hidupnya kerja mulu depan leptop enggak pernah party. Di tengah kesibukan saya sebagai warga baru Jakarta, dia merasa teman ngobrol daring bisa jadi selingan bagus untuk menyegarkan otak saya (emang sotoy dia kalau soal kehidupan). Terus saya pikir lagi sambil rebahan, ya emang apa salahnya sih dicoba? Siapa tahu saya dapat teman yang sama-sama ngefans dengan Alvaro Recoba?

Yaudah, saya putuskan aja untuk cari teman baru di Tinder. Apalagi mumpung Tinder sebagai global social discovery app, sedang ngadain kampanye #carijodohapaaaja. Sekalian aja lah eksperimen ini saya lakukan.

Enggak melulu soal asmara ya, kan seru aja gitu kalau saya dapat teman ngobrol nyambung untuk diskusi pertanyaan-pertanyaan terpenting di dunia ini seperti: mengapa Surat Izin Mengemudi (SIM) berbentuk kartu, sedangkan Kartu Keluarga berbentuk surat? (pertanyaan ini saya dapat dari profil Twitter sebuah akun dan sampai sekarang masih terus menghantui saya).

Iklan

Nah, agar tidak terjerembab dalam kerasnya dunia geser-menggeser ini, saya menghubungi dua kawan saya yang sudah bertahun-tahun mainan Tinder demi beberapa onggok wejangan. Orang pertama bernama Sauri, perempuan berumur 30 tahun domisili Jogja yang udah main Tinder dalam rentang waktu 2013-2017. Ia mengaku main Tinder karena bosan aja ketemu orang dengan cara konvensional. Dari Sauri, saya dapat masukan tentang bagaimana memaksimalkan impresi awal lewat pengaturan biodata diri. Wejangan pertama: jangan pasang foto selfie.

“Kalau profil orang yang menarik buatku adalah foto yang bukan selfie dan high angle. Jadi kamu pasang foto biasa aja, enggak jauh dari kamera tapi enggak close-up juga. Nah, tulisan bio yang menarik buat aku adalah yang lucu. Misal: 'I will tell our friends we met at Indomaret’," bimbingnya kepadaku sang pemain baru Tinder. Saya manggut-manggut layaknya boneka anjing di dasbor mobil.

Katanya, harus ada setidaknya tiga elemen dalam foto profil Tinder: foto sendiri, foto melakukan hobi (misal bermain bola atau memanjat tebing oligarki), dan foto bersama teman-teman. Katanya, selain akan memicu bahan obrolan, foto-foto tersebut akan menjelaskan dirimu tanpa harus berkata-kata, “kalau foto pamer gitu aku enggak suka, misal di depan mobil mewah, auto-swipe left. Hahahaha..”

Cukup dari Sauri, orang kedua yang saya mintai pendapat adalah Edgar, seorang veteran Tinder berdomisili Jakarta yang sudah memakai Tinder sejak 2014. Ia sependapat dengan Sauri, bahwa bio harus ditulis secara lucu. "Enggak semua orang bisa dapat jokes-nya, tapi mereka-mereka yang kena biasanya menarik dan cocok," ujarnya.

Iklan

Dia menyarankan kepada saya untuk lebih proaktif karena di khalayak Tinder Indonesia, masih jarang perempuan yang chat duluan meski sudah match.

"Never start with only a ‘Hi!’ or ‘Salam kenal’ karena enggak ada domino effect yang seru. Biasanya bahas aja yang nyerempet dari elemen-elemen yang ada di foto profil atau bio orang yang mau dichat,” saran Edgar. Kalau fotonya enggak jelas dan tulisan di bionya terlalu abstrak, coba tegur dia dengan pertanyaan macam "Lagi mikirin apa akhir-akhir ini?"

Dari situ, menurut Edgar, tinggal ngalir aja. Kalau pas ngobrol nyambung ya syukur, kalau enggak nyambung ya enggak apa-apa karena semua orang main Tinder karena punya kebutuhannya masing-masing. Kalau ternyata seru banget ngobrolnya dan pengin ketemu, temuin aja.

Edgar mengaku punya teman dari Tinder yang sampai sekarang masih berkontak dan masih sering saling memberi pekerjaan. Pokoknya, buang jauh-jauh pikiran soal Tinder cuma digunain orang buat cari one night stand doang. Itu kuno, menurutnya.

Oke, setelah dibekali tutorial dari para suhu, saya putuskan untuk mulai membuat akun Tinder. Beginilah pengalaman saya semingguan mencoba menarik simpati sebanyak mungkin pengguna aplikasi kencan itu.

Hari ke-1: menentukan batas-batas

Kamis malam setelah selesai beraktivitas, saya unduh aplikasi Tinder dan mulai mengatur profil. Saya pasang foto sesuai dengan tips dari Sauri: foto pertama adalah foto saya sendiri yang bukan selfie dan high-angle, foto kedua adalah foto saya bermain gitar, dan foto ketiga adalah foto saya bersama teman-teman. Sempurna.

Oh ya, tulisan di profil saya: "baru seminggu pindah ke Jakarta, langsung demam kena AC Grand Indonesia". Mudah-mudahan cukup lucu.

1574676270797-DSC02176

Duh, moga-moga lucu.

Selesai mengatur profil, saya mulai memikirkan jawaban atas pertanyaan bagi para pengguna Tinder pemula sedunia: apakah saya akan swipe right semua orang, atau apakah saya cukup bangsawan sampai harus memilih-milih siapa yang akan menjadi teman ngobrol saya nanti?

Setelah semedi 2 menit, saya akhirnya mengambil jalan tengah dengan menentukan beberapa batas. saya akan geser ke kanan semua akun yang saya temui kecuali dua jenis ini: pertama, mereka yang semua fotonya memakai masker. Maksud saya, apa yang ingin Anda tunjukkan dengan foto macam ini? Bahwa Anda peduli dengan kebakaran hutan? Dan kedua, mereka yang memasang foto bukan dirinya. Di malam pertama main Tinder, saya menemukan akun dengan foto absurd seperti Tembok Cina, kumpulan meme (elo kate ini 9gag!), pemandangan laut, sampai foto gelap warna hitam saja. Akun-akun ini saya anggap enggak niat main Tinder.

Iklan

Selesai melakukan penggeseran hingga larut malam, saya memutuskan tidur.

Hari ke-2: terbang ke Jogja

Jumat jam setengah tiga pagi, saya berangkat ke bandara dan untuk mengejar penerbangan pertama ke Jogja dalam rangka pekerjaan. Saya lihat aplikasi, belum ada match.

Sampai di Jogja, saya baru membuka Tinder di siang hari sambil pup untuk melanjutkan menggeser-geser para wanita beruntung ini. Pada momen ini, saya mendapatkan match pertama, seorang wanita berusia 22 tahun domisili Jogja berinisial W. Dari fotonya, ia adalah seorang mahasiswa dan desainer lepas dengan spesialisasi cat air. Mendapatkan cukup informasi untuk memulai perbincangan, saya sapa W dengan penuh antusiasme ala anak baru Tinder.

1574676493653-DSC02175

Hmm, harus dipoles-poles lagi biar makin kinclong.

“Wow, my very first match in Tinder is also a freelancer! Hai!”, saya tulis kalimat ini setelah berpikir hampir sejam biar gimana enggak terlalu maksa tapi bisa membuka obrolan kalau kita tuh sama-sama pekerja lepas gitu. Saya pun tidak lupa menambahkan gambar bergerak anak bayi sedang melambaikan tangan, konon katanya perempuan suka gemes liat anak bayi.

“Ey” jawabnya. Perbincangan kami berakhir. Hehehehe. Hiks.

Hari Ke-3: jalan ke Bandung

Sabtu sore, pekerjaan mengharuskan saya cabut ke Bandung. Saya lihat aplikasi, masih sama: satu match yang kemarin gagal. Saya mulai ragu apakah saya tidak memberikan perempuan area sini cukup waktu untuk menemukan saya, atau karena ya memang bio saya tidak selucu itu aja.

1574676305772-DSC02203

Di tengah keramaian, aku mulai hanya fokus mengembangkan karir menggaet perhatian calon teman baru di Tinder. Kepercayaan diri perlahan meningkat.

Menjelang tidur di penginapan Bandung, saya sempatkan main aplikasi lagi. Malam itu, saya match dengan dua perempuan, satu berusia 22 tahun berinisial Y, satunya lagi 21 tahun berinisial R. Karena sudah larut malam dan saya begitu kelelahan, saya putuskan tidak langsung menyapa. Malam itu saya tidur dengan perasaan menjadi cowok paling menarik se-Ciumbuleuit.

Hari Ke-4: satu hari satu-satu

Saat istirahat kerja, saya putuskan menyapa Y terlebih dahulu. Di fotonya, saya asumsikan anaknya agak sinting karena memasang foto tiduran di lorong minimarket sebagai profil. Di foto yang lain, ia bergaya bak foto model di depan warung masakan padang yang udah tutup. Oke, mari kita mulai pertanyaan dengan membahas warung masakan Padang.

"Fotonya kocak banget. Suka nasi padang ya?" ujar saya. Kalau saya ingat lagi, pertanyaan saya ini kok level basa-basinya rendahan banget ya.

Iklan

"Yes," jawabnya.

“Apakah kamu orang Padang?” tanya saya.

“No.” jawabnya. Lalu saya di-unmatch.

Sip.

Hari Ke-5: akhirnya….

Sekitar jam 1 siang, saya menyapa R. Dari informasi di profilnya, ia adalah seorang mahasiswi salah satu universitas di Bandung. Hal yang saya suka dari foto R adalah rambutnya yang kribo, jadi saya putuskan mulai percakapan dari sana saja.

"Rambutmu bagus banget! Kenapa rambutku enggak begitu ya,” ujar saya dengan kepasrahan akan di- unmatch lagi.

“Wihii makasih banyak. Jadi malu haahaha. Udah nemu alesannya? Btw, captionmu 100!” balas R. Akhirnya! akhirnya tuips! ada juga orang yang mengakui kualitas kelucuan caption yang saya buat.

Dari situ, percakapan kami berlanjut selama kurang lebih satu jam. Menyenangkan sekali! Ngobrol dengan R nyambung banget! Frekuensi bercanda kami juga kurang lebih sama, meskipun saya yakin masih lucuan saya ya. Selama sejam penuh, kami membicarakan kualitas kontenstan Dangdut Academy selama dua tahun terakhir, syarat-syarat menjadi Duta Anak Muda, UU Perlindungan Satwa, dan jenis-jenis foto yang dipakai laki-laki sebagai profil Tinder.

Perbincangan berakhir dengan keputusan kami saling mengikuti media sosial masing-masing dan janjian ngobrol lagi di waktu mendatang. Benar-benar terjadi guys. Saya beneran dapat teman sinting baru dari Tinder!

Hari ke-6 dan ke-7: sadar diri kalau saya bukan Ariel Noah….

Saya sepertinya harus puas dengan hasil tiga match dalam seminggu. Dua hari terakhir menggunakan Tinder tidak menambah jumlah teman meski saya sudah gerilya menggeser ke kanan setiap makhluk yang saya jumpai (bahkan mereka yang memasang foto pemandangan atau selfie bermasker).

Tenang, saya tidak merasa rendah diri. Saya meyakinkan diri bahwa para perempuan ini pasti merasa saya terlalu baik untuk mereka.

1574676395790-DSC02256

Kenyataan memang pahit, tapi saya kayaknya bakal terus mainan Tinder deh. Termasuk saat di WC kayak gini.

Berkaca dari kata-kata bijak Pak SBY: seribu teman masih kurang, satu musuh sudah terlalu banyak. Berkat Tinder, saya punya tiga teman baru meski yang mau ngobrol sama saya ya cuma satu. Memang masih kurang 997 lagi dari standar mantan presiden saya itu, tapi kemudahan mencari teman yang disediakan Tinder membuat saya semangat untuk bertemu R R yang lain di waktu yang akan datang.

Jangan takut untuk #CariJodohApaAja!


The Ultimate Soulmate Showdown merupakan seri video dan artikel VICE Indonesia yang bekerja sama dengan Tinder.