Bisnis Restoran

Restoran Diminta Berhenti Menyajikan Makanan Pakai Papan Kayu

Ada satu aktivis yang gigih di balik akun Twitter 'We Want Plates' jadi motor gerakan kembali pakai piring ini. Apa alasannya?
Phoebe Hurst
London, GB
22.8.17

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Ada masanya dalam setiap seri Masterchef—setelah tantangan pastry yang ribetnya enggak ketulungan serta sebelum montase video keluarga yang bikin mewek—para peserta dibikin tegang oleh semacam guru kuliner internal yang bilang sudah waktunya untuk lebih serius. Nah dorongan untuk menjadi lebih serius sayangnya tidak mewujud pada kegiatan-kegiatan yang berfaedah—seperti latihan sebelum masuk fase masak risotto. Paling banter, semagat baru seperti ini terlihat dalam kecenderungan para peserta menyajikan makanan di atas papan kayu dan memotong sedikit papan tersebut. Intinya: mereka memilih apapun selain piring berwarna putih. Lagian, ini kan masterchef, mana mau mereka menyajikan makaan di atas piring? "Ini intepretasi saya atas makanan penutup ala perancis," kata mereka, ketika menyuguhkan Crème Brûlée yang telah didekonstruksi (atau lebih tepatnya sih berantakan) di atas papan yang mirip sisa bahan kasur IKEA. Dan seperti yang terjadi pada semua kompetisi TV yang menyebalkan, kegemaran menyodorkan makanan di atas papan kayu sudah menular ke luar studio TV. kami berani bertaruh, ortu kalian pasti pernah kebingungan ketika diajak ke restoran dan makanan yang mereka pesan disuguhkan di atas papan kayu. Tahun lalu, kita pernah heboh lantaran ada restoran yang menyuguhkan makanannya di atas wc jongkok.

Kita bukanya kesal lantaran adab kita menggunakan perangkat makan di atur orang lain. Lagipula, siapa sih kita sampai berani-beraninya dongkol terhadap pilihan estetik seorang chef kelas atas? Masalahnya adalah presentasi yang nyentrik ini senantiasa dipilih untuk menyamarkan masakan yang buruk. Gini deh, kalau kamu menghabiskan banyak waktu menyusun breadstick dalam bentuk miniatur troli belanja, kemungkinan masakannya enggak enak-enak banget. Perkara hilangnya piring dari sajian restoran mencapai titik kritisnya minggu lalu, ditandai dengan kemunculan akun Twiter We Want Plates Twitter account. Akun ini mengemban tugas mulai: memimpin perlawanan terhadap "makanan yang disuguhkan di atas potongan kayu dan pecahan genteng. Yang juga kena semprot akun ini adalah minuman yang disajikan dalam wadah selai. Dalam sekejap, netizen mengeluarkan segala macam unek-unek menahun tentang penggunaan pengganti piring yang kian hari kian ajaib. We want Plates langsung difollow ribuan orang. Banyak dari mereka membagikan kisah-kisah unik (tapi nyebelin tentunya) tentang makanan yang tak disajikan di atas piring. Ada yang potongan toast yang ditaruh di atas potongan kayu, kentang goreng di atas sekop dan brownie yang meleleh cakram pemutar plat yang kekecilan. Seorang netizen—namanya Marina O'Loughlin mengunggah foto roti yang disajikan di atas sebuah flat cap. Mantap! Ross Mcginnes, seorang editor konten online berusia 40 tahun dari West Yorkshire, adalah lelaki di balik We Want Plates. Saya ngobrol dengannya via email tentang perlawanannya terhadap makanan yang enggak disuguhkan di atas piring.

MUNCHIES: Hai Ross, apa sih yang membuat kamu bikin We Want Plates?
Ross McGinnes: aku membuat akun twitter ini minggu lalu setelah seorang teman memacak foto steak berukuran biasa di atas telenan berukuran besar. Caption foto itu sangat ironis. "Ini baru makan besar!" menurutku ini cuma omong kosong yang mementingkan gaya di atas kualitas. Aku lalu mencari akun twitter yang mungkin komplain tentang hal serupa, tapi nihil. Karena itulah We Want Plates akhirnya lahir. Kapan kamu pertama kali sadar ada tren menyajikan makanan tanpa menggunakan piring?
Ketika aku disuguhi sepotong kueh di atas bet tenis meja. Sampai sekarang aku masih keki karenanya. Apa yang kamu lakukan kalau tak memoloti foto makanan yang disajikan di atas perkakas rumah selain piring?
Aku dibikin kewalahan dua minggu ini. Jadi, kalau ada yang sedang nganggur dan ingin mengurus We Want Plates, DM langsung saja. Aku juga ngetweet tentang fotografi, sesuatu yang aku lakukan buat refreshing dari kegilaan We Want Plates. Dari semua Foto pengganti piring yang disubmit ke We Want Plates, mana yang paling lucu menurutmu?
Roti di dalam topi flat cap adalah foto favoritku. Sosis dan kentang pure dalam sebuah gelas wine, makanan yang disajikan di atas piring makan anjing, kebiasan menyuguhkan roti di atas sendal dan sebuah restoran AS yang menaruh spaghetti di atas meja—DI MEJA BENERAN YA—dan kamu cuma diberi garpu. Masalahnya, enggak cuma piring yang diganti dengan obyek lain yang maksa. Tren minum dengan wadah selai masih kuat belakangan…padahal wadah selai udah bikin banyak orang gemas. Aku juga kaget kenapa orang ngambek karenanya. Ada yang lebih parah kok, seperti minuman yang disajikan di kaleng cat. Kalau aku mau merogoh uang untuk beli gin dan tonik, aku enggak mau pesenanku di kaleng Dulux Fast-Drying Wood Primer. Menurutmu menyajikan kentang goreng dan pot tanaman atau salad di atas sekop adalah cara chef menunjukkan kreavitasnya?
Oh itu, pertama-pertama yang perlu ditanyakan: rasa makanannya bagaimana? Menurutku sih ini cuma gaya-gayaan doang. Banyak waktu dibuang-buang untuk menyeimbangkan enam kentang goreng di sebuah kereta sorong mini. Rasanya malah dinomorduakan. Coba deh tanya seperti apa rasa makanan yang disajikan dengan sok keren ini. Paling banter jawabannya: "ya gitu deh." Apakah obsesi menyajikan makanan di, katakanlah potongan kayu atau serpihan genteng ini, akan berakhir?
Ini kan cuma siklus. Sepuluh tahun dari sekarang, mungkin bakal ada grup We Want Boards group di platform apapun yang jadi pengganti twitter. Isinya orang-orang yang geram terus memposting makanan di atas piring Cina putih. Sepertinya itu bakal keren. Terimakasih Ross sudah mau ngobrol denganku!