Perang Nuklir

Kami Minta Pelarian Korut Mengomentari Potensi Negaranya Terlibat Perang Nuklir

Donald Trump berulang kali melontarkan provokasi yang bisa membuat rezim diktator Kim Jong Un serius memakai bom nuklir. Kira-kira apa pendapat rakyat biasa dari negara tertutup itu tentang semua kisruh politik ini?
19.8.17
Kanan: pelarian Korut Jihyun Park. Kiri: Pengunjuk rasa antinuklir memakai topeng Trump (sumber foto: SIPA USA/PA Images)

Wajah Donald Trump dan Kim Jong-un terlihat saling berhadapan di sebuah layar TV raksasa stasiun kereta Waterloo. Retorika berapi-api keluar dari mulut sang presiden Amerika Serikat. Sebaliknya, ancaman serangan bom pemusnah massal balik dilontarkan diktator pemimpin Korea Utara. Prospek perang nuklir mengancam umat manusia.

Saya tengah menuju New Malden, sebuah kota suburban di selatan Ibu Kota London, Inggris, yang menjadi rumah baru bagi lebih dari 700 pembelot Korea Utara. Angka ini lebih tinggi dibanding daerah manapun di Eropa. Dalam beberapa minggu terakhir, seiring ketegangan antara AS dan Korea Utara memuncak, semakin banyak narasi tentang rezim represif Kim Jong-un ditulis dan dibahas media massa. Semua perhatian yang diberikan terhadap "negara paling tertutup sedunia" itu berpotensi mengaburkan fakta yang ada. Media Barat menganggap semua warga Korea Utara memusuhi dunia luar.

Iklan

Hingga 1980-an, propaganda Korea Selatan masih menampilkan saudara mereka di Korea Utara sebagai makhluk merah bertanduk dan berekor, yang hobi menyebarkan 'penyakit komunisme'. Kini, sisa aroma dari perlakuan kasar dan eksotisme terhadap Korea Utara masih terasa, dan fakta bahwa warga Korea Utara adalah manusia biasa seperti kita semua kerap dilupakan.


SIMAK: dokumenter mendalam VICE News dari garis depan mengenai aksi Neo-Nazi di Charlottesville, AS


Jihyun Park kabur dari Korea Utara dua kali dan sempat menghabiskan enam tahun di Cina hidup sebagai budak pria Tiongkok. Sejak 2008, dia menjalani hidup baru di Kota Manchester, Inggris. Lewat telepon, dia mengaku, "tidak bisa tidur di malam hari karena penuh rasa takut. Saya mengkhawatirkan teman-teman Korea Utara lainnya karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ini menyakitkan."

Kim Tae Hee, seorang pengungsi Korea Utara yang tinggal di Korea Selatan mengamini sentimen Jihyun. Selain potensi perang nuklir makin nyata, ada hal lain yang juga mengusiknya, "Saya benar-benar khawatir dengan situasi saat ini karena apabila rezim Korea Utara mendominasi Korea Selatan, pelarian seperti saya yang tinggal di sini pasti akan dibunuh duluan."

Kekhawatiran seputar keselamatan sahabat dan keluarga di Korea Utara semakin diperburuk fakta sulitnya berkomunikasi dengan mereka. Korea Utara adalah sebuah negara yang terisolasi, tidak bisa ditembus peretas komputer sekalipun. "Saudara-saudara suami saya tinggal di Korea Utara," kata Jihyun. "Dua tahun yang lalu, kami membayar seorang makelar dan berhasil berbicara dengan mereka selama dua menit. Setelah itu kami tidak mendengar kabar mereka selama lebih dari setahun. Ternyata, adik termuda suami saya telah dikirim ke kamp kerja paksa selama enam bulan."

Iklan

Kim Tae Hee masih bisa berbicara dengan sanak saudaranya di Korea Utara secara berkala. Tidak semua pengungsi bernasib seberuntung itu. Pengungsi lainnya, Jiyoeng Lim, mengatakan dia adalah satu-satunya anggota keluarga yang masih hidup, dan dia tidak mampu berkomunikasi dengan siapapun di dalam Korea Utara. Hyungsoo Kim, seorang warga Korea Utara yang tinggal di Seoul, mengaku hanya bisa berbicara dengan anggota keluarganya tiga atau empat kali setahun.

"Bagi semua penduduk Korut, makna di balik ucapan Trump barangkali sulit dipahami. Masalahnya… besar kemungkinan mereka akan salah paham."

Bagi warga sipil yang tinggal di Korea Utara, percakapan mereka seputar prospek perang nuklir sudah pasti akan sangat terbatas, mengingat Rezim Kim Jong-un mengatur dengan ketat apa yan boleh ditonton ataupun dibaca warganya.

"Penduduk Korea Utara menjadi korban propaganda pemerintah yang melukiskan Kim Jong-un sebagai satu-satunya penyelamat dan penyedia sumber daya bagi warganya," kata Markus Bell, dosen bidang studi Korea dan Jepang di University of Sheffield. Bell mengatakan konfrontasi dengan AS akan dilihat oleh warga Korea Utara sebagai "aksi agresif dari AS yang imperialis, antek dari Korea Selatan."

Namun, Jihyun Park meyakini bahwa ada dasar untuk meyakini situasi di area ini sudah sedikit membaik. "Ketika saya di Korea Utara, saya dicuci otak," jelasnya. "Namun kini banyak warga Korea Utara yang mendengarkan siaran radio asing dan menonton film Korea Selatan. Ini illegal dan berbahaya, tapi memberikan orang akses informasi dari dunia luar."

Iklan

Mantan duta besar Inggris untuk Korea Utara, John Everad, mengatakan reaksi warga Korea Utara tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain yang berada dalam situasi terancam: "semacam campuran dari harga diri patriotik, rasa takut dan keprihatinan". Everard bercerita dengan positif tentang Korea Utara dan menambahkan, "Korea Utara adalah masyarakat yang subtil, dan memiliki berbagai macam orang, tidak seperti yang dilihat dunia luar."

Everard mengatakan bahwa warga Korea Utara memiliki "selera humor yang ajaib" dan sebagai seorang diplomat, dia sering bersenda gurau dengan pejabat pemerintahan Korea Utara tanpa masalah. Gurauan seperti ini, katanya, tidak akan digubris oleh pemerintah AS di Washington, DC.

Biarpun begitu, mantan duta besar ini mengatakan "kita sudah sepatutnya khawatir, biarpun ketegangan ini masih berada di tahap awal, ada risiko nyata situasi ini bisa berkembang liar. Pasti sulit bagi warga Korea Utara memahami pernyataan dan bahasa yang digunakan Trump…ada risiko mereka akan salah tangkap."

Markus Bell menambahkan, kehadiran Trump sebagai presiden AS juga berarti "Kita semua harus mengandalkan kepemimpinan kalem orang-orang di sekitar Trump agar kita tidak menuju masa depan dimana puluhan ribu warga Korea terbunuh. Mengingat orang-orang terpercaya Trump tidak memiliki pengalaman dalam politik luar negeri, saya tidak optimis semuanya bakal berakhir damai."

Apabila John Everard berasumsi bahaya akan muncul dari prospek Korea Utara menyalahtanggapi pernyataan Trump dan kemudian nekat menyerang AS, Bell justru mengatakan hal sebaliknya. "Saat ini, Trump adalah ancaman yang lebih besar terhadap kedamaian dibanding Korea Utara."

Iklan

Beberapa pengungsi Korea Utara yang saya tanya memiliki perasaan yang berbeda-beda tentang Trump—yang dalam beberapa minggu terakhir, ironisnya justru terdengar tidak jauh berbeda dengan Kim Jong-un. "Saya suka Trump karena dia jujur. Kim Jong-un itu beda banget," kata Jihyun Park. "Saya sangat setuju dengan ide Trump menghukum Korea Utara."

"Jujur," kata Kim Tae Hee ke saya, "Para pengungsi Korea Utara berharap Trump akan merobohkan rezim Korea Utara sesegera mungkin. Tapi, nyatanya dia tetap saja kaku ketika berhadapan dengan Korea Utara. Saya jadi berpikir, mungkin dia sama seperti politikus lainnya."

"Kayaknya ketegangan antara Korea Utara dan AS itu sebetulnya hanya antara Kim Jung-un dan Trump," kata Jiyoeng Lim. "Korea Utara mengatakan bahwa Korea Selatan dan AS adalah penjajah yang ingin memulai perang dan Trump adalah orang jahat. Untuk merubah rezim Korea Utara, warga sipil Korea Utara harus memiliki akses ke informasi luar." Pandangan negatif warga AS terhadap Korea Utara sudah sangat mengakar sehingga ketika Jihyun Park pertama kali bertemu seorang warga AS di kehidupan nyata, dia langsung ketakutan.

Pemerintah Korea Utara telah menggunakan retorika Trump sebagai bukti niat jahatnya sebagai imperialis. "Setiap kali Trump berpidato menggunakan pendekatan, 'nanti kita tembak saja,' dia semakin menguatkan klaim Korea Utara bahwa AS hanyalah sebuah negara imperialis yang berusaha mengganggu kedamaian Korea Utara," ungkap Markus Bell. "Trump tidak akan bisa mengungguli permainan manipulasi diplomatik Korea Utara. Mereka sudah melakukan ini selama beberapa dekade."

Tumpukan surat kabar 'Free NK'. Foto oleh: Thomas Hjelm

Di New Malden, warga Korea Utara selalu menundukkan kepalanya. Sam Yu, manajer sebuah cafe di High Street, mengatakan dia bisa menghabiskan berhari-hari di kota kecil Inggris tersebut tanpa harus menggunakan bahasa selain Korea. Warga Korea Utara yang tinggal di Inggris kebanyakan tidak fasih berbahasa Inggris. Mereka rata-rata bekerja di supermarket, restoran, dan toko-toko. Para pelarian politik kerap sulit mendapat pekerjaan karena status mereka tidak legal dan minim kemampuan berbahasa Inggris.

Di Korea Foods, jaringan supermarket besar di Inggris, sang manajer mengaku memperkerjakan satu pelarian dari Korea Utara. Si orang Korut ini tidak pernah mau berbicara di depan media. Di samping Korea Foods, ada bekas kantor surat kabar bernama Free NK—koran berbahasa Inggris yang memberitakan Korea Utara. Redaksi koran itu sejak lama bangkrut. Ketika saya hubungi lewat email, Joo-il Kim, pemilik Free NK, mengatakan dia sudah tidak lagi tinggal di New Malden.

Bagi pengungsi Korea Utara, yang mereka dambakan adalah transformasi negara asal mereka menjadi lebih demokratis. Ada juga yang berharap Korut bisa kembali bersatu dengan Korsel. Beberapa orang berharap meningkatnya ketegangan dengan AS bisa memulai perubahan nyata di rezim tertutup Korut. Sayang, semua keributan ini bisa saja sesungguhnya hanyalah usaha kaum neo-konservatif AS mengurangi kekuasaan Cina, sekaligus mendirikan markas baru Amerika di Samudera India.

Mesin propaganda Korea Utara menarik banyak perhatian dunia luar, namun gagal melindungi warga mereka dari kekhawatiran seputar prospek terjadinya perang. Para pengungsi Korea Utara yang berhasil kabur dan kini tinggal di New Malden, Manchester dan berbagai wilayah di dunia sadar benar akan hal ini. Mereka khawatir pada nasib sahabat dan keluarga mereka yang masih tinggal di sana. Mereka terus khawatir tentang masa depan tanah airnya.

Follow penulis artikel ini di akun Twitter @oscarrickettnow