FYI.

This story is over 5 years old.

Seni

Peneliti Menyimpulkan, Seniman Sukses Harus Punya Modal Narsis

Kunci sukses itu kemampuan untuk membicarakan dirinya dan 'kehebatan' karyanya, secara terus menerus. Hmm, ternyata ada harga yang harus dibayar kalau kita mau jadi seniman tenar.
Patung lilin Kim Kardashian di Museum Madame Tussaud. Foto dari akun @kimkardashian

Artikel ini pertama kali tayang di i-D—situs gaya hidup dan fashion bagian dari VICE.com.

Makalah dari profesor keuangan ,Yi Zhou, yang diterbitkan European Journal of Finance, menyimpulkan kesuksesan ekonomi seorang seniman ada kaitannya dengan tingkat narsismenya. Zhou mengungkap adanya korelasi antara performa pasar dan ego seorang seniman. Beberapa kriteria kesuksesan artistik seorang seniman diukur dari pengakuan dari elit seni rupa, jumlah pameran bersama dan tunggal yang dikuti, jumlah museum atau galeri yang memamerkan karyanya. Sementara kriteria kenarsisan mencakup besarnya ukuran tanda tangan (ada hubungannya dengan perhargaan diri sendiri), jumlah foto diri dan kekerapan menggunakan kata "saya/aku" saat diinterview. Zhou menjelaskan peningkatan jumlah foto diri meningkatkan harga pasar karya seorang artis sebanyak 13% dan penggunaan kata ganti orang pertama bisa meningkatkan harga karya 4%. Sayangnya, Zhou tak memberikan kenapa hal ini jadi. Namun, kalau kita menelusuri kembali hikayah manusia (setidaknya sampai munculnya budaya swafoto), setitik jawaban bisa kita dapatkan. Singkatnya begini: menjadi narsis ternyata akan berbuah manis jika kamu cari makan dari industri seni dan hiburan, karena seniman memang dari sononya memang jago serta nyaman mencari perhatian publik.

Situs seni Artnet menduga seniman yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, lebih pandai meyakinkan orang lain bahwa mereka jenius (contohnya Pablo Picasso dan Kanye West). Rekan Zhou yang melakoni riset keuangan korporat berhasil membuktikan bahwa narsisme CEO menguntungkan karir mereka, perusahaan yang mereka kelola meski kerap dianggap faktor yang merugikan indikator yang kurang menguntungkan. Jadi, kendati sering bikin orang bete, narsisme memungkinkan para CEO dan seniman mendapatkan semangat, perhatian, dan akhirnya, kompensasi yang lebih tinggi atas kerja keras mereka. Di dunia yang makin narsis dan penuh orang-orang narsis (kalian tahulah siapa saja contohnya), penelitian ini mengonfirmasi persepsi kita terhadap seni, serta budaya manusia modern secara keseluruhan.