Sejarah Budaya Pop

Sejarah Tersembunyi Islam Dalam Hip-Hop

Sepanjang dekade 90-an, bisa dibilang Islam adalah agama resmi hip-hop waktu itu. Banyak warga AS jadi mualaf berkat lirik-lirik rapper.
28 Juni 2017, 3:11am

Ada sejarah Islam tersembunyi dalam hip-hop. Beragama ekspresi keislaman berakar sanga dalam dalam hip-hop, baik di era awal atau masa keemasannya. Sayang, kebanyakan hiphop head tak bisa membaca kode-kode tersembunyi ini. Mau bukti? Okay, berapa orang yang sudah melihat bagian belakang jaket Rakim di sampul album legendaris Follow the Leader dan paham dengan apa yang tertera di atasnya? Tak banyak tentunya.

Selama paruh pertama tahun 1990-an, Islam pernah jadi agama bagi hip-hop. Bahkan Jay-Z yang masih belia pernah nongol dalam beberapa video bersama anggota kelompok Nubian Islamic Hebrew movement, Brooklyn. Di sisi lain, hip-hop jadi kanal Islam mencapai generasi anak muda pada masa itu. Ini terjadi di tahun-tahun yang ditandai dengan mencuatnya ketertarikan terhadap Islam sebagai agama yang membawa pesan-pesan tentang keadilan sosial, pemberdayaan diri dan perlawanan terhadap supremasi kulit putih. Dalam konteks inilah, Spike Lee merilis biopic Malcom X dan Louis Farahan memimpin jutaan kaum kulit hitam dalam sebuah unjuk rasa—diberi nama Million Man March—menuju Washington. Atas jasa-jasa dan inspirasi yang mereka tularkan, Malcom dan Farakhan didampuk sebagai santo pelindung hip-hop. Nama mereka abadi dalam rima-rima hip-hop. Entah berapa kali suara keduanya sudah disample dalam sejarah panjang hip-hop di Negeri Paman Sam.

Brother Ali meneruskan tradisi keislaman dalam hip-hop seperti ini. Kami lahir pada tahun yang sama (1977) dan mendapatkan hidayah Islam di tahun yang sama pula (1993). Kami bertemu setelah Brother Ali manggung dalam rangkaian turnya di Chapel Hill. Saya tak "gatal" ingin bertanya "Bagaimana ceritanya kamu bisa menemukan Islam?"

Rupanya, pertanyaan serupa tak kunjung keluar dari mulutnya. Namun, dari lingkaran rujukan dan anekdot yang kami punya, rasanya kami menemukan Islam lewat jalan yang hampir sama. Lirik-lirik Rakim dan Public Enemy yang pertama kali meletupkan ketertarikan Brother Ali pada Qur'an. Ali menjadi muallaf pada umur 15 tahun atas bimbingan Warith Deen Mohammed. Sementara bagi saya, jalan menuju Islam adalah Malcolm X, seperti yang dikisahkan oleh Public Enemy.

Brother Ali pernah menjadi saksi kejayaan dan kemunduran hip-hop "politis" atau "conscious rap" yang mewujud dalam dua cara: musisi jenius karismatik yang liriknya butut tanpa isi atau penulis lirik sekaligus pemikir da aktivis mumpuni tapi musiknya payah. Brother Ali tak pilih kasih. Dia mencintai kedua jenis musisi hip-hop manapun spektrum politiknya. Meski demikian, dalam karya-karyanya, Brother Ali tak pernah kesulitan memilih antara seni dan kesadaran sosial. Dia terlalu jago di kedua sisi tersebut.

"Mourning in America", salah satu lagu di album terbaru Brother Ali, membawa semangat hip-hop politis yang ditemukan Ali beli—lengkap dengan sample suara Malcolm X di awal lagu—namun menerjemahkan tradisi tersebut dalam konteks yang lebih kiwari. Lagu itu mengutuk terorisme sebagai "perang orang kecil" dan peperangan sebagai "terorisme kaum tajir." . Mourning in America and Dreaming of Colour, judul album itu, menawarkan hasil pemikiran mendalam Brother Ali terhadap kondisi kekinian di Amerika Serikat. Album itu bicara tentang kemiskinan, prasangka dan lanskap pasca-rasial. Sang Rapper juga meneruskan tradisi hip-hop menyuarakan keadilan, kebebasan dan kesetaaan untuk mengeyahkan homofobia dari kultur hip-hop itu sendiri. Menyangkut hal terakhir ini, Brother Ali bahkan mengaku bersalah atas ujaran-ujaran homofobiknya di masa lalu dalam salah satu liriknya "I haven't always been on the right side of that battle," . (Kini, saban tampil dengan lagu lamanya, Brother Ali selalu melakukan swasensor). Malah, dalam lagu "Say Amen", Brother Ali tak segan-segan mencecar MC homofobik. "Fuck 'No Homo, You a no-homeownin' old grown/ unsigned chump, month behind on your car loan."

Dalam konsernya malam itu, ketika seorang penonton meneriakan sesutau tentang "menangis seperti perempuan," Brother Ali lekas mengoreksi perkataan fannya tersebut. "Coba sekali-kali lihatlah seorang ibu yang sedang melahirkan, kalian tak akan bisa menggunakan kata-kata itu lagi, apalagi menggangap seorang perempuan lemah." Tak beberapa lama kemudian, dia menghentikan pertunjukannya barang sebentar guna memberikan wejangan. "Maaf ya, kalian mungkin membayar untuk nonton ini," ujarnya. "Tapi beberapa dari kita sudah terlalu diistimewakan sejak lahir."

Malam itu, di balik panggung, seusai manggung, Brother Ali menyempatkan ngobrol dengan saya. Topik obrolan kami tak jauh-jauh dari tentang menjadi pria, memiliki kulit putih dan Islam "Rasulullah itu pria yang gampang mencucurkan air mata," ujarnya pada saya." Beliau menangisi anak-anak, budak, orang lanjut usia dan kaum papa."

Baik di atas panggung atau dalam albumnya, Brother Ali dan serenteng rapper yang dia undang mengoplos amarah dan rasa welas asih. Lagu "Gather Round" diakhiri dengan penampilan brilian Amir Sulaiman yang merepet tentang menyandera hakim dan menyebut kebebasan sebagai tempat "between the page and the pen/ between the grenade and the pin (di antara halaman dan pulpen/antara granat dan pin-nya)." Beberapa tahun lalu, Brother Ali menyulut kontroversi dengan lagunya "Uncle Sam Goddamn." Namun dalam lagu "Letter to My Countrymen", dia malah menyatakan cintanya pada Amerika Serikat. Tentu saja, Amerika yang dicintai Brother Ali bukanlah tanah Amerika yang historis, melainkan sekumpulan janji tentang masa depan yang menjanjikan "I want to make this country what it says it is." Lagu ini pun dipungkasi dengan sebuah ujaran bijak dari Dr. Cornel West: "You want to be a person with integrity who leaves a mark on the world."

"I think the struggle to be free is our inheritance," kata Brother Ali dalam lirik lagu "Letter to My Countrymen". Ini sejatinya adalah perjuangan yang dia temukan dalam hip-hop dan sejarah Islam yang yang tersembunyi di dalamnya, sebuah mutasi yang melahirkan mutasi lainnya. "Dunia ini sudah kelewat aneh," ujarnya selepas manggung. "Kenapa aku harus repot-repot memikirkan tetek bengek ras setiap saat? Dunia yang aneh ini nyatanya sudah bikin aku jadi aneh juga."

Michael Muhammad Knight adalah penulis beberapa buku di antaranya The Five Percenters: Islam, Hip-Hop, and the Gods of New York dan Why I Am a Five Percenter .