Perubahan Iklim

Jumlah Orang Indonesia Tak Percaya Pemanasan Global Akibat Manusia Kalahkan Saudi dan AS

Responden asal Indonesia yang tak percaya perubahan iklim dipicu perilaku manusia tertinggi dibanding 23 negara lain, merujuk survei terbaru YouGov.
10.5.19
Jumlah Orang Indonesia Tak Percaya Pemanasan Global Akibat Manusia Kalahkan Saudi dan AS
Warga melintasi sawah yang mengalami kekeringan parah di Bojonegoro, Jawa Timur. Foto oleh Sigit Pamungkas/Reuters

Survei terbaru dari lembaga YouGov menyajikan kesimpulan mengejutkan: responden asal Arab Saudi, Indonesia, dan Amerika Serikat jadi tiga besar paling tidak percaya ada perubahan iklim akibat aktivitas manusia. AS juga menjadi negara dengan responden paling banyak menolak gagasan pemanasan global dibanding negara maju lainnya. Total ada 23 negara yang kali ini disurvei oleh YouGov, melibatkan 25.325 responden.

Iklan

The Guardian mengutip hasil survei tersebut, sebenyak 18 persen responden asal Indonesia mengakui perubahan iklim nyata, "tetapi tidak disebabkan oleh ulah manusia." Lebih tinggi dibanding responden Arab Saudi (15 persen), dan Amerika Serikat (13 persen). Namun detail lebih lanjut soal alasan tak percaya ini masih belum dijabarkan oleh Guardian. Sejauh ini sikap menolak gagasan manusia memicu pemanasan global, beriringan dengan banyak-tidaknya populasi konservatif ataupun sayap kanan di negara tersebut.

Di Amerika Serikat, 52 persen responden yang mengidentifikasi dirinya sebagai “sayap kanan” saat disurvei YouGov menyatakan pemanasan global adalah hoax ataupun teori konspirasi yang diusung oleh Presiden Donald Trump.

Tiga besar negara yang tak percaya perubahan iklim dipengaruhi aktivitas manusia ini juga sama-sama mengandalkan ekonominya pada industri ekstratif, baik itu minyak ataupun batu bara. The Guardian melaporkan Arab Saudi, sekutu utama AS di Timur Tengah dan negara pengekspor minyak terbesar, respondennya banyak yang menyangkal bahwa perilaku manusia berpengaruh atas perubahan iklim.

Survei ini digelar oleh YouGov, perusahaan riset dan analitik data di Inggris sebagai bagian dari Proyek Globalisme YouGov-Cambridge. Proyek tersebut kolaborasi antara YouGov, para peneliti University of Cambridge, serta The Guardian.

Total 25 ribu orang yang disurvei dari Eropa, Afrika, Asia dan Amerika. Khusus Indonesia, jumlah orang yang terlibat jajak pendapat ini mencapai 1.001 orang. Para peneliti menanyakan hal-hal berkaitan makanan, perjalanan, teknologi, imigrasi, keyakinan budaya dan lingkungan untuk memahami sikap responden global tentang populisme dan globalisasi.

Para ilmuwan iklim sepakat manusia adalah penyebab perubahan iklim selama tiga dekade terakhir. PBB merilis ringkasan dari laporan baru menunjukkan satu juta spesies bumi terancam punah karena ulah manusia. Kesimpulan lainnya: manusia mempercepat kepunahan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kabar baiknya, menurut The Guardian, YouGov mendapati mayoritas responden di seluruh dunia setuju perubahan iklim itu ancaman nyata. Bahkan di Amerika sendiri, 40 persen responden mengatakan manusia setidaknya bertanggung jawab atas kerusakan alam. Sementara itu, sepertiga responden meyakini manusia adalah penyebab dominan berbagai kerusakan lingkungan parah di muka bumi, sehingga harus ada kebijakan perubahan pola konsumsi dan produksi kita agar situasi planet kita membaik.

Bagus lah. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard