Fashion

Alasan Model Gucci Bawa Potongan Kepala di Catwalk

Apa sebenarnya yang ada di pikiran desainer Allesandro Michelle saat merancang pergelaran busana absurd tersebut? Ternyata mengandung pesan yang positif sih.
23 Februari 2018, 8:26am
Foto via Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D UK.

Alessandro Michele barangkali salah satu perancang paling sinting sekaligus paling menghibur saat ini. Di kancah fesyen modern, Michele bak berperan sebagai seorang ilmuwan gila yang menyuguhkan koleksi paling mewah, paling aneh sekaligus paling menghibur di antara semua barang fesyen keluaran rumah model Gucci. Michele pun seperti tak pernah kehabisan inspirasi. Referensi yang dia comot selalu bikin terperangah. Begitu seterusnya, dari musim ke musim.

Pekan ini, Michele memamerkan keganjilan karya-karyanya ke level paling absurd.

Mengambil inspirasi dari buku Donna Haraway A Cyborg Manifesto yang terbit pada 1984, Michele menerabas segala macam batasan dan memaksa kita—manusia jelata yang sok-sok jadi pemerhati fesyen—untuk mempertanyakan dualitas dan dikotomi identitas manusia. Dalam lanskap fesyen yang teatrikal, dia menggunakan pisau bedahnya untuk membuka kemungkinan baru dalam fesyen, mengiris-iris sekaligus membentuk ulang bahan dan kain untuk menciptakan gaya busana yang membebaskan. Dikontraskan dengan backdrop yang steril, koleksi Michele menjelma menjadi busana yang bisa berubah bentuk dan disusun daru percampuran pengaruh, imajinasi dan daya cipta yang luar biasa.

Mulai dari mantel tanpa tangan cum tas garmen, balaclava renda-renda hingga busana-busana quilt, koleksi Michele tahun mendorong estetika punk ke luar angkasa sembari mengomentari identitas manusia di muka bumi. “Koleksi Gucci Cyborg adalah kaum post-human,” demikian tertulis dalam booklet yang menyertai peragaan busana itu. “Matanya terletak di lengan. Gucci Cyborg juga memiliki tanduk Faun, anak naga serta berkepala dua. Pada dasarnya, Gucci Cyborg adalah makhluk yang tak terbatas secara biologi namun sangat berbudaya. Bentuk oplosan identitas yang paling terakhir sekaligus paling ekstrem dalam transformasi yang terus berjalan serta simbol kemungkinan yang emansipatoris yang membantu kita menentukan akan jadi apa kita di masa depan.”

Pusing kan? Tenang, penjelasan njelimet itu bisa dirangkum dengan sederhana: kita bebas jadi apa saja yang kita mau. Terus, “apa saja” di sini bisa diartikan sebagai busana yang warnanya saling tabrakan, memakai topi berbentuk pagoda, bordiran New York Yankees di sana-sini, menggendong boneka anak naga atau menenteng replika kepala kita sendiri. Oke deh.