Simak Karya-Karya Seni Psikedelik yang Terbuat Dari Makanan Busuk

Seniman Felix Kalmenson membuktikan sesuatu yang busuk bisa jadi indah.
11.3.18
semua karya milik seniman ybs

Menonton Growth, karya dari seniman multimedia Felix Kalmenson rasanya seperti mengkonsumsi acid kemudian nonton film bioskop. Warna-warna saling bercampur dalam pola yang aneh dan hidup, menghipnotis mata kita. Sebuah wajah atau anggota tubuh terdistorsi muncul di layar sebelum pudar menjadi larutan bentuk-bentuk tidak jelas.

Video pendek tersebut dibuat dengan cara mengolah jamur dari strawberi busuk di atas stok film trailer The Sisterhood of the Traveling Pants 2 (2008). Seiring jamur tumbuh, film terdegradasi, dan meninggalkan pola psikedelik yang terlihat seperti minyak licin. Rupanya eksperimentasi menggunakan jamur ini memang disengaja. Growth mencerminkan berkembangnya tren BioArt, atau karya seni yang dibuat menggunakan jaringan hidup, bakteria, atau organisme hidup lainnya.

Kalmanson bukanlah pertama kalinya seni dan sains berpadu. Seniman Anickya Yi pernah bekerja sama dengan tim ahli biologi molekular dan ahli kimia forensik untuk pameran 2017-nya, Life Is Cheap, di Guggenheim. Pameran ini menampilkan dua diorama hidup: bakteria yang tumbuh dalam agar-agar dari Pecinan dan Koreatown Manhattan, dan koloni semut yang diekspos ke bau spesial para pengunjung museum. Yang kedua dimaksudkan untuk “menciptakan pengalaman batiniah antara semut dan manusia,” menurut penjelasan acara. Ada juga seniman lain yang pernah menggunakan madu lebah untuk memperbaiki artefak rusak dan mengolah galur bakteria untuk digunakan sebagai pigmen alami.

Masuknya Kalmenson ke ranah BioArt merupakan hasil dari himbauan kolektif Exploding Motor Car di Toronto bagi para seniman dan pembuat film. “Setumpuk trailer film tua diambil oleh kolektif kami karena sebuah bioskop setempat sedang bersih-bersih gudang,” jelasnya ke VICE. “Seniman diundang untuk mengambil sebagian film-film dan mengubahnya sesuai kebutuhan.”

Kalmanson sebelumnya bekerja dengan National Film Board of Canada untuk mengajarkan teknik animasi awal. Dia juga sempat bereksperimen di rumah dengan metode sederhana untuk mengacak gambar film di saat itu. Untuk proyek ini, dia mengatakan, “Saya bereksperimen dengan teknik-teknik yang berbeda-beda tapi kemudian memilih melapisi emulsi film dengan straberi busuk dan menyimpat strip film individual di dalam Tupperware. Gabungan dari panas, kelembapan dan keasaman straberi terbukti berhasil menciptakan jamur.”

Jamur-jamur ini, kata Kalmenson, membutuhkan waktu dua minggu untuk berkembang, tapi hasilnya terlihat dalam seminggu pertama. Setelah perkembangannya berada di “tingkat yang memuaskan,” dia membuka kontainer, mengeringkan jamur, membersihkannya agar sinar bisa menembus dan film bisa di-scan. “Filmnya terlalu tebal dan berbau kuat untuk bisa diterima laboratorium film, karena mereka takut merusak peralatan, jadi dengan hati-hati saya men-scan setiap frame individual (dan ada lebih dari seribu) menggunakan scanner film yang dipinjamkan oleh fotografer dan teman baik saya Sarah Bodri, kemudian saya menggabungkan imej-imej ini secara digital.”

Pola hasilnya menunjukkan bekas jejak jamur. Warnanya saling bercampur, seperti pelangi akumulasi warna dan secara jelas mengungkap pola-pola perkembangan kompleks dari organisme yang menarik ini.