PM Selandia Baru Ogah Menyebut Nama Pelaku Teror di Christchurch Agar Ideologinya Tak Menyebar

"Pelaku mungkin saja ingin dunia mengenal namanya lewat aksi keji ini. Tapi, kita di Selandia Baru seharusnya tak memberinya panggung—termasuk dengan menyebut namanya."
20.3.19
PM Selandia Baru Jacinda Ardern ogah menyebut nama pelaku terori Christchurch agar ideologinya tak menyebar
PM Selandia Baru Jacinda Ardern bertemu keluarga korban aksi teror di Christchurch. Foto oleh Getty Images

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern bertekad tak akan membeberkan nama pelaku penembakan massal di dua masjid Kota Christcurch, agar sang pelaku gagal mendapatkan apa yang dia inginkan: popularitas. Tekad tersebut dinyatakan Perdana Mentar Jacinda Ardern dalam sidang parlemen Selandia Baru Selasa (3/19) lalu.

"Pelakunya jelas seorang teroris, dia penjahat sekaligus esktremis. Setiap kali saya membuat pernyataan terkait tragedi ini, namanya tak akan saya sebutkan," ujar Ardern dalam sidang perdana parlemen Selandia Baru, setelah teroris membantai lebih dari 50 jamaah yang menggelar salat jumat di kawasan Christchurch pekan lalu. "Saya mendesak anda semua, agar menyebut hanya nama mereka yang tewas, alih-alih nama pembunuhnya. Pelaku mungkin saja ingin dunia mengenal namanya lewat aksi keji ini. Tapi, kita di Selandia Baru seharusnya tak memberinya panggung—termasuk dengan menyebut namanya."

Pelaku penembakan—lelaki 28 tahun berkewarganegaraan Australia—kini dijerat dengan pasal pembunuhan berencana. Ardern menambahkan lelaki asal Negeri Kanguru itu kemungkinan akan didakwa dengan berbagai pasal lainnya terkait dengan serangan teroris paling parah sepanjang sejarah Selandia Baru. Satu WNI dipastikan tewas dalam serangan tersebut. Dua WNI lainnya luka parah dan masih dirawat di RS sampai artikel ini diturunkan.

Tersangka pelaku penembakan hadir di pengadilan tanpa ditemani pengacara. Sidang berikutnya akan digelar pada 5 April mendatang. Sebelum melakukan penyerangan—yang sempat disiarkan fitur Facebook live, sang teroris mempublikasikan manifesto panjang mempromosikan ideologi supremasi kulit putih rasis lewat forum-forum internet yang menjadi sarang para rasis.

Sejak lama berbagai pengamat terorisme yang meneliti aksi penembakan masal, sudah menganjurkan media dan pejabat tinggi negara agar menghindari penyebutan nama pelaku guna mengurangi “efek penularan” aksi terorisme. Menurut pakar, sorotan pada satu pelaku akan memancing pelaku lainnya melancarkan serangan serupa.

Kelompok aktivis anti terorisme “No Notoriety” yang dibentuk setelah insiden penembakan massal di sebuah bioskop di Aurora, Arizona, yang menewaskan 12 orang, baru-baru mempromosikan panduan media membatasi paparan warga terhadap para pelaku serangan teror serta manifesto ideologi ekstrem.

Awal pekan ini, Ardern juga mengumumkan reformasi peraturan pemilikan senjata api pasca insiden penembakan di Christchurch. Targetnya perubahan beleid ini akan selesai minggu depan. Sebagai catatan, pelaku penembakan mendapatkan lisensi memiliki senjata api pada 2017.

Saat melancarkan serangannya, lelaki itu memuntahkan peluru dari lima senjata api—dua di antaranya adalah senjata semi otomatis. Di samping itu, Jacinda telah meminta platform media sosial seperti Facebook agar menertibkan konten kebencian dan membatasi akses menuju manifesto yang diterbitkan pelaku penembakan massal.

Senada dengan imbauan Jacinda, Asosiasi Pemasang Iklan Selandia Baru menyatakan pelaku bisnis Selandia Baru bisa saja menarik iklan dari Facebook, jika raksasa medsos ini tak menertibakan konten kebencian terkait serangan di dua masjid tersebut, seperti dilansir New York Times.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News