Putus Cinta

Aplikasi-Aplikasi Ini Dirancang Untuk Mengobati Kalian yang Patah Hati

Buat yang masih sulit 'move-on', coba pakai aja. Siapa tahu betulan bisa membantumu melupakan mantan.
14.2.19
Ada aplikasi untuk membantu mereka yang masih teringat mantan.
Kolase foto stalking mantan oleh Broadly

Duniaku seketika berubah setelah putus dari mantan yang benar-benar saya sayangi. Saya jadi sulit tidur, mudah gelisah, dan susah payah menahan diri untuk tidak menghubunginya lagi. Sebelum pacaran dengannya, saya terbiasa melakukan apa pun sendiri. Tapi sekarang, ‘sendirian’ adalah hal paling menakutkan buatku.

Putus cinta bisa membuat kita merasa terasingkan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengurangi rasa sakitnya. Kata-kata menenangkan dari orang lain tak akan mampu mengobati kesedihan kita. Namun, belakangan ini, ada sejumlah aplikasi self-care yang dibuat khusus untuk orang yang baru putus. Aplikasi semacam ini diharapkan bisa mengatasi rasa kesepian yang mereka alami.

Elle Huerta, CEO dan pendiri Mend, belum lama ini pindah ke San Francisco. Dia tinggal sendirian dan baru saja putus. Itulah kenapa dia terinspirasi membuat aplikasi ini. "Saya baru kali ini tinggal di kota besar. Saya memang punya teman kerja, tapi saya merasa terisolasi,” katanya kepada Broadly. "Saya konsultasi ke terapis yang sangat membantu, tapi saya masih merasa kesulitan di sela-sela sesi. Patah hati itu tidak kenal waktu."

Huerta ingin Mend berfungsi sebagai “sahabat yang punya nasihat hebat” dan penghibur selama hari-hari setelah putus. Aplikasi ini mendorong kalian untuk memprioritaskan hubunganmu dengan diri sendiri. Pengguna bisa membuat jurnal, mencatat aktivitas merawat diri (self-care), atau mendengarkan rekaman pelatihan dari pakar kesehatan mental dan fisik.

Iklan

Ellen tidak sendirian. Pendiri Stila Cosmetics Jeanine Lobell dan terapis Jane Reardon meluncurkan Rx Breakup pada 2015. “Program 30 hari, tiga langkah” ini menyediakan alat yang bisa membantu kalian mengelompokkan pemikiran dan perasaanmu melalui latihan menulis secara analitis. Aplikasinya bertujuan untuk menggantikan cara mengatasi masalah negatif dengan yang positif.

Rx Breakup dimaksudkan untuk menyesuaikan pengalaman pengguna dengan cara yang sangat pribadi. "Kami melihat kebutuhannya dan berpikir kalau kami bisa memenuhi itu," kata Reardon kepada Vogue. "Saya sudah baca ratusan buku self-help, tapi isinya terlalu berlebihan dan sama saja dengan lainnya."


Tonton dokumenter VICE mewawancarai lelaki yang percaya kalau dia adalah putri duyung:


Ada juga Break-Up Boss, yang dibuat pada 2017 oleh penulis dan kolumnis hubungan percintaan Australia Zoë Foster Blake. Aplikasi ini dirancang untuk memperingatkan pengguna yang ingin menghubungi mantan. Break-Up Boss punya ilustrasi yang menunjukkan betapa kerennya jadi jomblo (bisa pilih acara TV yang mau ditonton atau pindah ke negara lain), dan tombol SOS yang akan memberikan kutipan motivasi dan saran tentang bagaimana putus cinta bisa mengubahmu jadi lebih baik lagi.

Fiturnya yang paling impresif memungkinkan pengguna untuk melampiaskan perasaan lewat pesan palsu ke mantan. Jadinya kalian tidak perlu lagi menyesal karena sudah chat marah-marah ke mantan.

Iklan

“Perasaan yang terpendam bisa dilepaskan dalam fitur surat ‘no send’ dan jurnal,” kata anggota Counselling Directory dan terapis bersertifikat Beverley Hills. "Akan tetapi, pengguna tidak bisa mendapatkan umpan balik atau berdiskusi langsung di mana mereka bisa mengeksplorasi beberapa perspektif dan pola perilaku. Karena itu, perjalanan pribadi klien yang menggunakan aplikasi ini sangat satu dimensi."

"Aplikasi ini dirancang untuk memperingatkan pengguna supaya membatalkan rencana menghubungi mantan."

“Ya, setiap pasien saya punya haknya sendiri bagaimana mereka menjalani hidupnya di luar konsultasi. Akan tetapi, saya sarankan supaya mereka lebih berhati-hati karena konflik bisa saja terjadi, terutama jika aplikasinya tidak melihat dinamika hubungan masa lalu,” lanjutnya.

Beberapa jomblo patah hati melihat aplikasi macam ini sebagai alternatif terapi yang lebih mudah diakses. "Dulu saya sempat melakukan konseling tatap muka, dan saya sangat menginginkan itu, tapi harganya terlalu mahal, jadi aplikasi ini juga lumayan," kata Verity, pengguna Mend dan jurnalis asal London berusia 24 tahun. "Saya terus-terusan menelepon teman-teman dan keluargaku, tapi saya takut mengganggu mereka. Jadinya, kamu tidak usah bangunin mereka di tengah malam, dan aplikasinya takkan tersinggung kalau kamu tidak mengikuti nasihatnya."

“Sepertinya patah hati masih ada banyak stigmanya; perasaan tersebut dilihat sebagai sesuatu yang harus kamu ‘lupakan,’” kata Huerta. “Terlalu banyak orang bersikap meremehkan ketika membicarakan putus cinta, tapi siapapun yang pernah mengalami putus cinta atau perceraian pasti tahu betapa melemahkan rasanya.”

Iklan

Munculnya aplikasi ini tepat waktu, dengan populernya perawatan diri dalam kebudayaan milenial, dan teknologi yang mengizinkan kita bisa selalu dihubungi—aplikasi-aplikasi ini memfasilitasi proses moving on dalam waktu yang kamu butuhkan dan tanpa batasan ruangan terapi. Zoë Foster Blake menggambarkan aplikasinya kepada majalah Who sebagai “terapis digital untuk hatimu yang hancur dan penuh trauma”

“Lagipula,” lanjutnya, “kenapa juga membiarkan putus cinta mendikte hidupmu, suasana hatimu, kepribadianmu, dietmu, kehidupan sosialmu, pola tidurmu, dan kebiasaan minum alkohol (yang kini menjadi kacau dan rakus)? Enak aja.”

Hills menyarankan para pengguna untuk memasukkan preferensi data sharing pada aplikasi macam ini dengan hati-hati. Dia percaya bahwa interaksi tatap muka masih sangat penting, mengingat bahwa tidak ada privasi terjamin saat melakukan apapun di internet. “Maka itu, terapi tatap muka jauh lebih efektif,” lanjutnya. “Kami bersumpah untuk menjamin kerahasiaan lewat pedoman etis yang kami patuhi.”

Penelusuran internet Verity sudah termasuk “patah hati berat,” jadi dia berkata privasi kurang penting baginya. Tapi sifat patah hati berarti bahwa aplikasi layaknya Mend berpotensi menjadi korban kesuksesan mereka sendiri: Semakin efektif aplikasinya, semakin kecil kemungkinan penggunanya akan membutuhkan aplikasi tersebut.

“Saya cenderung memakai aplikasinya pas lagi sendirian malam-malam, apalagi kalau lagi mabuk. Saya menilai suasana hatiku sebagai yang paling buruk setiap kali saya membuka aplikasinya,” kata Verity. “Ketika saya mulai merasa suasana hatiku dapat dinilai lebih tinggi, aplikasinya sudah kulupakan—itu bagus, dong.”

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly