Ternyata Mesin Kardio Cuman Nebak Berapa Banyak Kalori yang Kamu Bakar

Jadi semua alat-alat itu bohong? kok tega?
19.12.17

Pernah dengar Big Mac Index? Ini adalah cara yang digunakan ahli ekonomi untuk mengukur Keseimbangan Kemampuan Berbelanja (PPP) antar negara, menggunakan harga lokal dari sebuah hamburger McDonald.

Sandwich ikonik ini—diciptakan pada 1967—merupakan sebuah unit energi. Entah kamu suka rasanya atau tidak, faktanya setiap hamburger ini berisikan 563 kalori.

Kemudian, saya naik ke atas mesin pembakar kardio, memasukkan berat badan, menyetel Appetite for Destruction dan menggoyangkan tubuh saya maju mundur hingga album tersebut selesai. Di titik itu, saya yakin saya sudah membakar cukup energi sehingga saya bisa melahap satu Big Mac tanpa membuat saya bertambah gemuk. Apabila saya berolahraga dan menolak godaan untuk menggantikan energi yang saya gunakan, secara teori, saya akan mengalami defisit kalori dan tubuh saya akan mulai mengkanibalisasi simpanan energi.

Masalahnya, sudah beberapa bulan saya menggunakan mesin pembakar kardio ini, tapi tetap saja saya kurus dengan perut tembem. Sebelum saya menyalahkan perhitungan Boc Mag, saya perlu menyalahkan pihak lain. Kayaknya mesinnya deh yang bohong.

Julie Daly adalah manajer insinyur biomekanik di Life Fitness, sebuah perusahaan yang bertanggung jawab memanufaktur akan sepertiga peralatan fitnes komersil di pasaran dan yang setiap pagi saya gunakan. Daly mengatakan bahwa Life Fitness menggunakan “ekuasi standar emas” dari produk American College of Sports Medicine for Life Fitness. Dalam produk di mana formula ini tidak bisa digunakan, jelasnya, perusahaan menggunakan testing VO2 in-house (cara mengukur konsumsi oksigen seseorang ketika sedang berolahraga dan sebagai indikator fitness kardiorespiratory).

“Kami menguji sekelompok orang dari berbagai gender, umur, berat badan, dan tingkat fitness dalam berbagai level submaksimal pengerahan tenaga,” jelas Daly ke saya via email. “Kami mencatat volume oksigen yang digunakan subyek ketika berolahraga dalam settingan beban yang berbeda-beda. Berdasarkan data yang kami peroleh, kami menerapkan analisis statistik guna mengembangkan ekuasi prediksi kalori.”

Kalau saja kami berbicara tatap muka, saya pasti sudah mengangkat kaos saya dan bertanya “kalo gitu kenapa perut gue masih tembem begini?”

Kan saya sudah melakukan apa yang dia bilang hal terpenting bagi sebuah pengguna peralatan fitness untuk mendapatkan data kalori akurat: memasukkan berat badan. Berat badan mah saya gak pernah lupa.

“Berat badan adalah faktor penting dalam ekuasi pembakaran kalori dan dengan memasukkan berat badan, pengguna akan mendapat hasil paling akurat tentang pembakaran kalori,” jelasnya, menambahkan bahwa faktor lain seperti detak jantung dan umur tidak punya pengaruh besar terhadap pembakaran kalori dan karenanya tidak dimasukkan dalam ekuasi kalori.”

Daly mengatakan akibat banyaknya jenis mesin dan variasi antar individual, dia tidak bisa menyebutkan standar margin kesalahan ke saya, tapi tetap berusaha meyakinkan saya akan nilai penelitian di belakang feedback kalori yang dikeluarkan peralatan Life Fitness. Tidak terpengaruh, saya mencari figur lain yang bisa mendukung argumen saya bahwa mesin kardio itu ngawur.

Dori Arad adalah seorang ahli nutrisi klinik, edukator diabetes bersertifikat, ahli fisiologi kebugaran, dan direktur dari Metabolic, Body Composition, and Sports Performance Clinic di Mount Sinai St. Luke’s di Manhattan. Saya mulai mengenal Arad dan kliniknya ketika sedang meneliti Bod Pod sembilan bulan lalu. Bod Pod adalah kontrasepsi berbentuk telur yang menggunakan plethysmografi pemindahan udara untuk mengetahui lapisan lemak di dalam penggunanya.

Bod Pod mengatakan bahwa saya memiliki 17.8 persen lemak tubuh. Ini berarti saya jatuh di kategori “moderately lean” untuk pria berumur 40 tahun. Gak jelek-jelek banget sih, tapi kategori “lean” di bawah 12 persenlah yang diidam-idamkan, yaitu ketika otot abdominal mulai terlihat oleh mata telanjang.

Setelah melihat penilaian komposisi lemak tubuh itulah saya mulai memikirkan Big Mac sebagai patokan dari unit energi. Saya mulai menciptakan defisi kalori sekitar 563 per hari, dan mengkonsumsi kurang dari 4000 kalori per minggu. Namun setelah semua usaha ini, saya tetap saja terlihat tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.

Ketika saya menceritakan kefrustrasian saya, Arad menjawab secara ilmiah. “Sulit untuk mendapatkan angka margin of error di mesin kardio karena ada variasi yang besar antar individu,” jelasnya, mengamini pernyataan Daly. “Namun, ada penelitian yang menyatakan angka margin kesalahannya bisa sebesar 30 persen atau bahkan lebih tinggi.”

Potensial margin kesalahan 30 persen dalam latihan kardiovaskular harian saya nilai kalorinya tidak jauh dari sekedar hash brown atau kentang goreng dalam skala McDonald. Ini berarti sekitar 1344 kalori per minggu yang belum saya hitung. Apakah ini alasan bekas cetakan pinggang saya terlihat di perut setelah saya melepas celana di akhir hari?

Arad kemudian menjelaskan bahwa dua orang dengan umur, BMI, gender, latar belakang yang sama, bisa melakukan latihan dengan intensitas yang sama dan membakar jumlah energi yang jauh berbeda. Ini bisa diatribusikan terhadap perbedaan tingkat metabolisme—jumlah kalori yang tubuh bakar ketika tidak sedang melakukan apapun.

“Ketika sedang melakukan penaksiran akurat tentang jumlah energi yang kamu bakar ketika berolahraga, kita harus tahu jumlah energi yang kamu bakar ketika sedang tidak melakukan apa-apa,” jelasnya. “Ketika kamu naik ke atas sepeda dan berlatih selama sejam, mesin mengatakan kamu telah membakar 600 kalori. Tapi mesin kardio tidak memperhitungkan jumlah energi yang kamu bakar ketika kamu duduk beristirahat di sebuah kursi di samping sepeda. Kalau kamu membakar banyak kalori ketika beristirahat—100 per jam misalnya—berarti kamu harus mengurangi itu dari angka 600. Tapi kalau kamu hanya membakar 50 kalori ketika sedang diam, berarti latihanmu membakar lebih banyak kalori.”

Faktor lain yang tidak diperhitungkan mesin kardio gym adalah titik manis intensitas olahraga di mana tubuh membakar jumlah lemak maksimum sebagai bahan bakar. “Kamu perlu datang ke klinik dan mengambil tes Fatmax,” jelasnya. “Kami bisa menghitung titik persis ketika lemak sedang dibakar agar seseorang bisa pergi ke gym dan berlatih dalam tingkat intensitas yang dibutuhkan.”

“Jadi bisa saja saya berolahraga tapi bukan pada tingkat yang optimal untuk mengurangi lemak tubuh?” Tanya saya, menyeringis atas ironi kegagalan saya karena berusaha terlalu keras.

“Mungkin saja,” jawabnya, menambahkan bahwa mengerti metabolisme tubuh akan membuat perbedaan besar dalam cara kita berolahraga dan mencapai gol.

Kecuali AI sudah berkembang segitu pesatnya, kayaknya mesin kardio belum sanggup berbohong deh. Apa yang mereka lakukan adalah memberikan pengguna informasi terbaik yang mereka agregasi menggunakan tes seperti yang digunakan Arad di kliniknya. Prediksi ini akan tepat guna bagi beberapa orang, tapi mungkin meleset bagi orang lain, karena ya itu tadi, kita semua sangat berbeda.

Bahkan kalaupun kamu memiliki berat, tinggi, umur dan gender yang sama dengan individual lain, jumlah oksigen yang dikonsumsi, dan lemak yang dibakar ketika melakukan kegiatan yang sama bisa tetap berbeda. Kini sadar akan pentingnya pengetahuan tentang metabolisme, saya sudah siap melakukan beberapa tes dengan Arad dan semoga berhasil mendapatkan six-pack di 2018 nanti.