Palagan Terakhir di Tanah Sikerei
Teusabit Sagolu, Sikerei di Bekkeiluk menggelar ritual penyembuhan. Penyakit bagi Sikkerei adalah roh-roh tidak baik yang harus ditenangkan. Foto oleh Ramadhani.
Tengkorak-tengkorak tergantung di pintu-pintu Uma. Kera dan babi hutan adalah hewan buruan yang lazim dikonsumsi Masyarakat Mentawai. Tengkorak hewan-hewan ini menjadi hiasan di Uma, sebagai kebanggaan berburu. Foto oleh Ramadhani.
Azrel dan Riko Sabulukkungan mengenakan cawat, pakaian adat Mentawai. Keduanya telah masuk pendidikan anak usia dini dan siap melanjutkan sekolah. Foto oleh Ramadhani.
Martina Sagolu, serupa anak-anak lain di Desa Bekkeiluk, harus berjalan sekitar dua jam menembus hutan menuju dusun Salappa saat bersekolah. Jika hujan deras memicu banjir, otomatis mereka libur. Di desa mereka, sekolah baru tersedia sampai kelas tiga. Jika tamat SD kelak, Martina harus menyeberang ke Desa Muntei untuk menyambung sekolah. Foto oleh Ramadhani
Baca juga liputan VICE tentang penganut agama sinkretis di Lombok:
Gereja Katolik di desa Tetesinabak. Katolik menjadi ajaran agama yang datang dari luar ke Mentawai selain Protestan dan Islam. Tiga agama asing ini menggeser, Arat Sabulunngan, kepercayaan lama masyarakat Mentawai. Foto oleh Ramadhani.
Justina Magdaobuk Saumanuk menjadi wanita terakhir yang masih melakoni ritual rajah tubuh atau Titti di Uma Sabulukkungan. Rasa sakit yang tak tertahankan dan perubahan zaman membuat banyak masyarakat Mentawai tidak lagi memasang Titti di tubuh mereka. Foto oleh Ramadhani.