stream of the crop

9 Album Baru Yang Wajib Kamu Pantengin Minggu Ini

Minggu ini, deretan album yang wajib digeber mencakup album 7 track Teyana Taylor yang diproduseri Kanye West, EP terbaru Nine Inch Nails dan opus baru Kamasi Washington yang durasinya tak tanggung-tanggung: 144 menit.
25.6.18
Kiri: Tim Mosenfelder/Getty Image
Tengah: Barry King/Getty Images
Kanan: Rich Fury/Getty Images for FYF

Awal minggu adalah waktu yang tepat memburu musik-musik baru. Sayangnya, kita kadang kebingungan mulai dari mana. Karena itulah, tiap minggu tim redaksi Noisey menyusun daftar album, mixtape, atau EP yang bisa kamu putar seminggu penuh. Kalian juga bisa mencoba lagunya langsung lewat pemutar streaming di artikel ini. Kami sadar rekomendasi tersebut tidak mungkin bisa komprehensif menggambarkan yang sedang seru dari kancah musik. Setidaknya kami berharap usulan kami membantu kalian menemukan musik-musik baru yang menghibur. Jadi, silakan membaca daftarnya!

Teyana Taylor: Keep That Same Energy

Dalam cuplikan footage yang ditayangkan di sebuah listening party yang digelar kamis lalu di LA, penampilan Tayana sama cairnya seperti suaranya. Dia seperti bisa berganti warna bak bunglon. Teyana menampilkan pesonanya yang mirip gadis-gadis yang menghiasi sampul majalah “Fade”—yang ini bisa dijamin bikin kita menggigil. Selain, ada Teyana yang tampil dengan rambut pendek, mengenakan kacamata hitam berbentuk mata kucing dan celana jins baggie. Lantas, ada juga Teyana yang tampil bersama putrinya. Dia kelihatan menunjukan mikrofon dan mixing board pada sang buah hati. Teyana sepertinya mafhum bahwa jalan yang harus dijalani seorang artis pendatang baru—apalagi yang perempuan non berkulit putih—sangatlah berat dan penuh risiko.

Namun dalam album KTSE, Teyana kedegaran seperti—maaf ini mungkin klise—Teyana. Kemampuan bernyanyi dengan corak yang berbeda-beda namun tanpa meninggalkan ciri khas pribadi adalah aspek yang membedakan mana yang termasuk seni dan mana yang musik jualan murahan. Segala corak estetika yang disuguhkan Tenaya serta luasnya gaya musik yang diacu Teyana menunjukkan satu hal: album ini sepenuhnya digarap oleh seorang perempuan—tanpa campur tangan orang lain. — Andrea Domanick

Nine Inch Nails: Bad Witch

Bad Witch terdengar seperti album Nine Inch Nails standar yang direndam dalam bensin sebelum akhirnya dibakar dan suaranya direkam. Ini adalah album paling galak dan kasar Trent Reznor dalam beberapa tahun ke belakang—terutama setelah dia sober. Menjadi pemungkas trilogi mini album politis Nine Inch Nails, Bad Witch tak berbaik hati pada para pendengarnya. Reznor tak menyediakan beat-beat dance atau chorus-chorus yang anthemic. Yang tersisa hanya sound-sound stoner rock yang dimainkan robot galak. Album ini menggambarkan betapa pergeseran kehidupan di AS menuju masa-masa yang kelam telah menelan segala titik terang di sana. Jadi, jika Bad Witch adalah gambaran kejatuhan Negeri Pam Sam, album ini akan jadi ladang kreativitas Reznor. Musik yang ada di dalamnya era-era kelam di dekade ‘70an yang digali habis-habisan oleh band-band Krautrock dan post-punk. Intinya, Bad Witch membuat keputusasaan terdengar begitu menyalak. — Phil Whitmer

Kamasi Washington: Heaven and Earth

Di hari yang sama Teyana Taylor merilis pentalogi terakhir yang diproduseri Kanye West—isinya tujuh lagu dan panjangnya tak lebih dari 30 menit, Kamasi Washington kembali dengan mahakarya jazz sepanjang dua setengah jam, Heaven and Earth. Satu bagian album ini berurusan dengan dunia internal Kamasi sementara satu bagian sisanya berkisah tentang hal lainnya—bahkan kosmos sekalipun. Heaven and Earth tak hanya ambisius dalam durasinya atau musisi-musisi tamu yang yang bermain di dalamnya, album ini adalah sebuah ruang yang luas yang digunakan Kamasi untuk bereksperimen dengan segala macam corak musik yang dia kehendaki hingga membentuk komposisi yang transenden—salah satunya diawali dengan solo drum di akhir cover komposisi Freddie Hubbard "Hubtones" yang sengaja dibikin lebih panjang. Solo drum ini tak berhenti hingga track "The Invincible Youth". Dan tiap kali Kamasi memutuskan untuk mengeksplor segalanya, dia pasti menjelajai dunia yang sedang carut marut—Greg Tate menjuluki Kamasi sebagai “Suara Jazz dari Black Lives Matter" bukan lantaran saksofonis satu ini kerap menyebrang ke ranah hip-hop, namun lebih karena kemampuannya mencuplik masa lalu yang sifatnya tragikomedi dan mengkontekstualisasikannya dengan masa kini. Tak ayal, bayang-bayang Pharaoh Sanders dan John Coltrane di album ini punya satu fungsi: melambangkan sebentuk pemberontakan seperti yang kentara dalam lirik track bertema Bruce Lee "Fists of Fury" ("Our time as victims is over / We will no longer ask for justice"). Dan, di tengah kemegahan album ini—tentunya setelah diputar beberapa kali dan kita terbiasa dengan riuh rendahnay album ini, solo-solo di dalamnya—kita akhirnya sadar bahwasanya Kamasi jelas bukan saksofonis yang doyan pamer skill belaka. Sebaliknya, skill musisi 37 tahun inilah yang menjadikan Heaven and Earth begitu mengasikkan disimak— Alex Robert Ross

Death Grips: Year of the Snitch

Makin aneh dari album-album sebelumnya, Year of the Snitch, album terbaru Death Grips, benar-benar mewujudkan cyberpunk yang selalu dijanjikan grup rap ajaib ini. Dengan sound-sound synthesizer yang bertebaran di sana-sini, programming perkusi yang sering kali mirip drum atau bass break yang dihasilkan dari melempar perangkat drum dari loteng serta sample-sample berantakan, Year of the Snitch adalah album yang sepenuhnya lahir dari kecintaan akan musik elektronik. Bahkan, riff-riff dalam album ini dipermak sedemikian rupa dan diperlakukan bak sebuah sample. Rapalan/Teriakan MC Ride—satu-satunya sisa sentuhan manusia dalam album-album Death Grips—kini dimixing lebih mendem. Suara MC Ride sepertinya aliran data tak penting dalam banjir data yang hiruk pikuk. Year of The Snitch adalah pengingat bahwa di dunia yang nyaris dikendalikan oleh AI, manusia sebenarnya tak istimewa-istimewa amat. Seperti soundtrack Hacker yang disetel ketika hormon kita tak seimbang, album ini terdengar keren, kelewat manusiawi dan benar-benar tak stabil. Tak aneh jika Death Grips begitu dielu-elukan di Reddit— Colin Joyce

Freddie Gibbs: Freddie

Ketika Freddie Gibbs lekas merilis materi promosi album baru, Freddie, terbersit kesan kalau dia akan menggunakan pendekatan baru dalam bermusik. Trailer untuk album terbarunya adalah parodi penyanyi R&B Teddy Pendergrass, yang dia tiru plek-plekan di cover album barunya. Meski begitu, Freddie tak memiliki satupun lagu ballad—jauh berbeda dengan album Teddy yang dirilis pada 1979—kecuali kalau kamu menghitung track “FLFM,” interlude nyinyir yang merupakan kependekan ari “feel like fucking me.” Dalam rentang 10 track, Gibbs melakukan apa yang selama ini jadi kelebihannya. Membuka Freddie, rapper 36 tahun ini berseloroh bahwa dirinya “pushing weight, and hasn’t pulled a muscle yet.” Mendengarnya, kamu akan terpancing untuk ngeloyor ke gym dan latihan angkat beban. 03 Greedo bertamu di “Death Row,” yang merupakan track pernghormatan bagi mendiang Eazy-E karena mereka menyisipkan sebagian lagu “Boyz-N-The-Hood.” “2 Legit” sayang tak memasukan sampel lagu legendaris MC Hammer itu, tapi cukup memulas frase kebanggan MC Hammer—apapaun itu track ini haram sekali dilewatkan. Untuk beberapa saat, vokal Mary J Blige yang diambil dari lagu “My Life” menyeruak tapi setelah itu, Gibbs menjadi tuan dari komposisi soul yang aslinya digubah oleh Roy Ayers. Gibbs kembali menjadi dirinya sendiri di track “Set Set,” yang pada dasarnya cuma sebuah hook yang disisipi segala macam onomatope. Kebanyakan track lagu di mixtape berduraasi di bawah tiga menit, artinya Gibbs harus mengeksekusi liriknya dengan sangkil dan mangkus. Dari promo album ini, interlude hingga materi lagunya, Freddie adalah album yang akan menempatkan Freddie sejajar dengan idolanya.— Kristin Corry

Kate NV: для FOR

Tahun lalu, label asal New York, RVNG diberi tugas untuk merancang sebuah soundtrack untuk acara meditasi massal di sebuah bekas bioskop dalam rangkaian acara Moogfest di North Carolina. Alih-alih mengurasi playlist atau DJ set penuh improvisasi, RVNG malah mengeluarkan album kompilasi berformat kaset Peaceful Protest yang berisi track-track terpisah dari beragam produser dan komposer. Kelak, album itu disetel keras-keras selama acara meditasi Moogfest.

Beberapa komposisi di album baru Kate NV yang dirilis RVNG, для FOR, awalnya muncul dalam kompilasi Peaceful Protest. Track inilah bisa menggambarkan komposisi ritmis minimalis penuh dengan suara perkusi yang seakan dipukul dengan palu, suara synthesizer dan sound elektronik yang liris dalam album terbaru Kate. Komposisi pop yang sebelumnya digarap Kate juga kedengaran sangat rancak. Cara bagian melodik dari komposisi saling berkelindan adalah padanan dari gif dalam bentuk suara—repetitif tapi menyenangkan. Namun, yang menarik, album ini justru menenangkan emosi siapapun yang mendengarnya. Cocok didengarkan sambil sok-sokan yoga di sore hari— Colin Joyce

So Stressed: Pale Lemon

Setelah merilis dua album post-hardcore penuh kegundahan The Unlawful Trade of Greco-Roman Art (2015) dan Please Let Me Know (2017), So Stressed, band asal Sacramento, nekat menghancurkan bangunan musik mereka dan memulai dari titik nol kembali. Larynx Vokalis utama Morgan Fox tak lagi digunakan untuk berteriak-teriak hingga berdarah. Kenneth Drape pun tak lagi menggebu-gebu menggebuk drumnya. Dia kini menyajikan ketukan-ketukan halus alih-alih beat-beat panik penuh sinkopasi sementara permainan gitaris Andry Garcia sudah sepenuhnya hilang. Mainkan album ini setelah dua album pendahulunya, kamu tak akan menyangka jika tiga album ini dikerjakan oleh satu band yang sama. Patut disayangkan album ini dibuka dengan track yang kurang menyakinkan. "Heavy Gifts" adalah lagu indie pop twangy dengan tempo selamban keong berjalan dan vokal yang kelewat dingin. Namun, setelah itu, kamu akan dibikin girang mendengarkan opsi-opsi menarik yang ditawarkan Fox dan Draper. "Miniature Flag" kaya dengan permainan gitar jazz, vokal ala Elliott Smith sebelum bertransformasi menjadi track ambient. “Grape Skins”, sementara itu, meminjak refrain keren dari band-band club rock beken di dekade ‘90an. Harmoni oktaf di "Nodding in the Dark" membuat mereka lebih dekat pada Waxahatchee daripada Drive Like Jehu; "Snowshoer" bahkan menyertakan bunyi vibraphone. Dan yang paling menyenangkan dari track ini adalah Fox mengulang-ulang kalimat "We're standing on thin ice." Selamat tinggal post-hardcore dan selamat datang musik-musik yang menenangkan. — Alex Robert Ross

Priscilla Renea: Coloured

Apapun masa depan musik country, yang jelas Priscilla Renea akan memainkan peranan penting di dalamnya. Diusir dari rumahnya di Florida pada usia 18 tahun, Renea pindah ke Los Angeles, membawa impian menjadi seorang biduan. Dia adalah sosok yang menulis track "California King Bed" milik Rihanna dan "Timber" yang dipopulerkan Kesha. Dari dua lagu ini saja, kita bisa menebak Renea lebih nyaman menulis lagu down-tempo daripada track ingar bingar. Setelah menjadi penulis lagu jempolan selama 10 tahun, Renea geregetan dan akhirnya memutuskan menyanyi lagu ciptannya sendiri. Coloured adalah album terbaru Renea. (Dia sempat merilis album Jukebox pada 2009) dan berisi lagu-lagu country dan R&B yang soulful. Lirik-lirik dalam Coloured bicara tentang cinta, kehilangan dan rasisme. Warna kulit Renea memaksa kita bangun dari stigma lawas bahwa country adalah musiknya orang kulit putih — Annalise Domenighini,

Galcher Lustwerk: 200% Galcher

Setahun lalu, produser/vokalis Galcher Lustwerk melepas Dark Bliss, album didebut yang digarap dengan saksama yang merangkum pengalaman Lustwerk menggarap beat-beat nocturnal house yang dijadikan kanvas untuk rapalan rap yang riuh. Baru-baru ini, Luswerk mengatakan pada Merry Jane, dirinya punya ruang dan waktu untuk menciptakan musik-musik keren yang umumnya digarap tanpa tekanan dan tenggat yang mencekik. Baginya, resepnya untuk album terbarunya cuma “bersenang-senang,” “perbanyak sumpah serapah,” dan “berkelakarlah seperti Ween.” Lah kok Ween? Serius nih? Beneran kok. Apapun itu, sebaiknya kamu tak usah ambil pusing. Toh hasilnya adalah album house yang ringan dan riang seperti 200% Galcher. Lewat album ini Lustwerk cuma ingin bilang, house music juga bisa ringan dan karenanya nama Lustwerk harusnya sudah mulai dikenal banyak orang. — Colin Joyce