ramadan

Selama Ramadan Tahun Ini, Gue Sekalian Puasa Pakai Media Sosial

Ternyata puasa ga liat IG atau Twitter bisa mengubah cara pikir kita lho.
7.6.18
Kolase foto oleh Dicho Rivan.

Saat 1,6 miliar Muslim di seluruh dunia memasuki bulan suci Ramadan untuk membersihkan tubuh dan jiwa mereka, gue memutuskan untuk bereksperimen dengan berhenti mengakses media sosial selama sebulan. Sejujurnya, ini lebih sulit ketimbang menahan lapar, haus, dan bergosip. Tapi kini, setelah tiga minggu puasa medsos, gue bisa bilang percobaan ini telah membuat hidup gue lebih baik. Alasan eksperimen ini tidak religius sama sekali—baterai ponsel gue cepat habis. Beberapa minggu sebelum Ramadan, gue mengunduh sebuah aplikasi yang mencatat penggunaan ponsel. Ternyata gue biasanya memakai ponsel selama tujuh jam sehari. Pada hari-hari tertentu, misalnya saat gue menghabiskan berjam-jam menunggu dokter gigi, gue mainan ponsel dua kali lebih lama. Ini nggak sehat. Gue bahkan tidur kurang dari tujuh jam setiap malam. Aplikasi ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah waktu pakai ponsel gue habiskan untuk buka Twitter dan Instagram. Jadi, sehari sebelum Ramadan dimulai, gue memutuskan untuk jauh-jauh dari dua media sosial ini selama sebulan. Pemilihan waktunya pas. Sehari-hari gue ngajar di kampus, dan gue menggunakan Instagram untuk kegiatan belajar mengajar, tapi kampus lagi libur semester. Gue gak sabar untuk menjadi lebih produktif, seperti yang ditulis orang-orang yang mencoba detox media sosial di artikel mereka. Siapa tahu gue juga bisa tidur 15 menit lebih lama dan kulit gue akhirnya berkilau. Gue mengumumkan puasa medsos gue di sebuah twit yang gue pin, dan di Instagram story yang gue masukan ke highlight. Gue bisa saja, sih, menonaktifkan akun-akun gue, tapi rasanya kok dramatis amat. Deaktivasi akun tuh kayak orang baru putus atau terlibat skandal publik. Sebagian followers gue bilang mereka ingin mencoba melakukan eksperimen yang sama. Sebagian lainnya bilang gue gak akan mampu. Seorang kawan yang khawatir menghubungi gue, bertanya apa gue baik-baik saja. Dia bilang pernah membaca bahwa menarik diri dari kehidupan sosial adalah gejala depresi. Sebagian besar follower gue gak peduli. Di hari itu juga gue menghapus aplikasi-aplikasi dari ponsel gue dan memasang program blocker situs di komputer gue.

Iklan

Tonton dokumenter VICE tentang upaya reporter kami mengikuti sunnah nabi, belajar memanah, berkuda, dan berenang, selama ramadan:


Di saat-saat terakhir, gue memutuskan untuk menghapus aplikasi Facebook. Lagipula, gue udah gak ngecek Facebook sejak guru SD gue nge-add dan ngepost bahwa pemerintah kita dikontrol oleh organisasi Yahudi-Cina yang mempromosikan komunisme dan memasukkan virus-virus gay ke dalam vaksin untuk anak-anak sekolah. Tapi Facebook adalah media sosial yang memulai segalanya, jadi memasukannya ke dalam program puasa gue adalah sebuah cara untuk menghargai Mark Zuckerberg.

Berikut hal-hal yang sejauh ini gue dapat dari program puasa media sosial:

Gue Punya Lebih Banyak Waktu untuk Jadi #DiriSendiri

Hari-hari pertama puasa medsos ternyata mudah. Setiap pagi gue langsung bangun dari kasur, padahal biasanya gue menghabiskan 30 menit ngecekin timeline. Sekarang, gue lebih sering baca buku dan berita. Gue jadi lebih proaktif. Gue mulai menghubungi teman-teman, ngajak mereka nongkrong. Biasanya? Gue bakal ngecekin Instagram stories mereka, ngarep mereka lagi di cafe yang bisa gue samper. Saat paha ayam yang gue beli di supermarket baunya aneh, gue nelepon layanan pelanggan alih-alih bikin thread Twitter (tapi ternyata telepon gue gak ada yang ngangkat dan akhirnya gue ngepost review 1 bintang di Google Maps).

Gue belajar untuk menikmati momen-momen indah secara privat saat gue ke Bali pada minggu kedua Ramadan. Gue jadi gak terganggu dengan ribut-ribut antar selebgram, meski jadinya gue ngerasa ketinggalan saat teman-teman gue ngobrolin soal ini di chat grup.

Iklan

Gue Sadar Beberapa Hal dalam Hidup Lebih Penting Daripada Sekadar Medsosan

Seminggu setelah puasa medsos gue dimulai, gue ketemu dengan kawan lama yang sudah rehat dari media sosial selama dua bulan. Dia bilang, ini membuatnya tersadar apa yang benar-benar ia ingin bagi pada kawan-kawannya. Saat itu, gue gak ngerti maksudnya apaan. Tapi pada hari ke-20, gue jadi paham sepenuhnya. Tanpa keriuhan terus-menerus dari timeline, gue jadi tahu apa hal-hal yang gue benar-benar yakini—gue gak sekadar bereaksi. Pikiran gue lebih fokus. Gue gak berpikir media sosial itu buruk dan semua orang lebih baik berhenti main medsos, tapi: media sosial seharusnya enggak mengontrol hidup kita.

Ternyata Ada Banyak Cara Buat Menyibukkan Diri

Pada akhirnya, gue menemukan cara-cara baru buat prokrastinasi. Gue jadi menunda kerjaan dengan cara membaca artikel Wikipedia dan mainan Google Maps. Gue bahkan jadi main Quora dan Reddit, yang itungannya adalah media sosial. Yang paling susah dari puasa medsos, gue jadi ketinggalan meme terbaru, yang adalah bahasan penting di grup sosial gue. Teman-teman gue jadi harus menjelaskan langsung meme-meme ini ke gue. Prehistoris banget deh. Selain itu, gue juga jadi ketinggalan diskon Ramadan, yang biasanya diumumkan brand kesayangan gue lewat Instagram. Sejauh ini, gue berhasil mengurangi penggunaan ponsel menjadi empat jam sehari. Sebuah kesuksesan tersendiri. Jam tidur gue tetap pendek sih, soalnya gue jadi sering nonton serial Netflix biar gak mikirin medsos. Gue mengakui bahwa gue gak sabar kembali ke Twitter dan Instagram, gue bahkan bikin draft twit dan nyiapin foto #throwback Instagram untuk gue unggah di hari lebaran. Tapi buat sekarang, gue puas ngintip timeline lewat ponsel teman gue walau cuma lima menit aja.