Film

Film Bergenre Horor Telah Mengambil Alih Pamor Drama

Film macam 'Hereditary', 'Get Out', dan 'A Quiet Place' memakai teror sebagai katalis industri film indie. Kini yang dianggap artistik dan prestisius justru horor, bukan lagi film drama.
31 Juli 2018, 8:00am
Dari kiri ke kanan, The Witch, Get Out dan Hereditary. | Cuplikan milik A24 studios dan Universal Pictures. 

Berisikan pemakaman, rumah boneka, dan sosok anak aneh memegang burung dengan kepala terpenggal, Hereditary jelas merupakan sebuah film horor yang menggunakan elemen-elemen yang muncul dari film horor klasik, The Exorcist.

Berbulan-bulan setelah menimbulkan hype di Sundance, film Ari Aester berbudget $10 juta ini melampaui ekspektasi di box office dan menghasilkan $13 juta minggu lalu, angka terbesar sepanjang masa untuk rilisan studio kecil A24. Boleh juga, mengingat ini film tentang sebuah keluarga yang berhadapan dengan tragedi kematian anggotanya yang tragis.

Hereditary adalah film terakhir dari tren film horor art-house macam Get Out dan A Quiet Place yang menemukan kesuksesan mainstream biarpun menampilkan kisah cerita yang serius dan depresif. Dan melihat box office yang didominasi film superhero dan Star Wars, ini adalah sebuah anomali.

Melihat angka penghasilan kotor tertinggi film-film tahun lalu, dari 25 film puncak, hanya dua yang mungkin masuk kategori drama, yaitu Dunkirk dan Wonder. Biarpun memang setiap tahunnya kita disuguhkan film seperti The Post atau Phantom Thread, faktanya jelas bahwa Hollywood merasa tidak banyak audiens untuk film-film bertema dewasa. Memang kadang ada film indie yang berhasil menjadi hit, seperti Moonlight (2016), tapi ini sangat jarang terjadi.

Tapi nyatanya film-film horor berhasil meraih kesuksesan justru lewat eksperimentasi.

Hereditary—sebuah film tentang seorang ibu (Toni Collette) yang keluarganya mulai hancur berantakan setelah rahasia mengerikan tentang leluhur mereka terungkap—seharusnya bukan film penghasil uang karena emosi yang dijual saja mengerikan: duka. Tipe rasa duka yang menghantam tanpa henti bagaikan ombak. Film ini sangat suram, dan entah bagaimana caranya bisa membawa penghasilan box office yang lumayan.

Dalam beberapa tahun terakhir, hanya sedikit film horor bergengsi berhasil melakukan hal serupa. Mereka menggunakan rasa takut sebagai kait untuk mengisi bioskop, menampilkan topik berani ala drama-drama indie tanpa khawatir tidak sukses secara box office. Dalam prosesnya, mereka mengambil alih percakapan budaya tentang film drama indie masa lalu—misalnya film macam Requiem for a Dream (2000), Fruitvale Station (2013), dan Boys Don’t Cry (1999). Film 2018 seperti Hereditary menggunakan elemen supernatural untuk semakin meningkatkan ketegangan drama dan emosi—tragedi, kesalahan, dan rasa duka yang tidak bisa dihindari.

Penghargaan untuk film horor memang jarang didapatkan, semua gara-gara film slasher 80an yang dipenuhi pembunuh bertopeng (11 film Halloween, dan 12 sekuel Friday the 13th), horor meta (Evil Dead, Peeping Tom, Scream) dan film penyiksaan era 2000an (Saw, Hostel, The Human Centipede, The Hills Have Eyes). Tapi selalu ada beberapa pengecualian dari film-film bergengsi seperti The Shining dan Rosemary’s Baby.

Dalam 10 tahun terakhir, tingkat kemunculan film horor arthouse sangatlah tinggi. Film macam

It Follows, The Babadook, Let the Right One In telah menunjukkan bahwa kritikus dan penggemar film horor memiliki titik tengah. Film macam Hereditary bisa mengikuti jejak tersebut, menyembunyikan tema yang sulit dijual di balik ekspektasi teror yang menakutkan. Semua adegan direkam dengan teknik yang menimbulkan perasaan janggal dan klaustrofobik. Momen-momen kengerian yang dingin dan perlahan berakumulasi, dan imej-imej terasa biadab: kepala burung, tubuh terbakar, ekspresi kaget membeku. Semuanya menyajikan seperti apa bentuk dan rasa duka lewat sebuah film.

Beberapa film horor art-house berbudget kecil yang sukses menekel isu dengan cara yang serupa. Get Out karya Jordan Peele (rasialisme), The Witch (paranoia), A Quiet Place (keluarga dan kehilangan), dan The Babadook (duka)—semuanya menggunakan elemen horor untuk menjual drama, dan bahkan memenangkan Oscars.

Saya sama sekali tidak keberatan dengan semua ini. Perpaduan drama dan horor ini memang telah membelah audiens (Hereditary hanya mendapat skor audiens 59 persen di Rotten Tomato), tapi saya harus bertanya, bagi kalian para penggemar horor, apa yang kalian cari? Berapa kali kamu bisa nonton film horor menakut-nakuti sebelum semua terasa membosankan? Film memang harus menghibur, tapi juga mengedukasi dan mengejutkan. Apabila sebuah genre mendapat suntikan agar topik lama terasa segar dan baru, tidak ada alasan kesuksesan ini akan berhenti.