Kesepian

Efek Kesepian Jauh Lebih Buruk dari Mengisap Berbatang-Batang Rokok

Survei menunjukkan Generasi Z merasa lebih kesepian daripada generasi sebelumnya. Konon, medsos bukan satu-satunya penyebab.
Screenshot via Youtube.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D

Survei terbaru melibatkan 20.000 orang responden menunjukkan kecenderungan generasi muda merasa lebih kesepian dibanding generasi sebelumnya. Hasil survei menunjukkan skor kesepian tertinggi muncul pada kelompok Gen Z (rentang usia 18-22 tahun) mencapai 48. Sementara skor pada kelompok lansia di atas 72 tahun hanya berada di kisaran 39. Parahnya, efek samping kesepian diibaratkan sama buruknya dengan merokok 15 batang sehari. Itu berarti rasa kesepian juga lebih berbahaya dari obesitas.

Kamu barangkali heran bagaimana tingkat kesepian bisa diukur. Survei ini, yang didanai perusahaan asuransi kesehatan Cigna, menggunakan metode pengukuran Loneliness Scale dari UCLA. Penelitian ini melaporkan rasa kesepian dialami generasi muda, baik yang aktif maupun tidak aktif di media sosial, berada di tingkat yang sama.

“Orang kesepian akan merasa jauh lebih baik jika berinteraksi langsung dengan orang lain,” tutur CEO Cigna David Cordani. Ingat, kirim pesan lewat DM atau tukeran meme tidak termasuk interaksi langsung. Lebih dari separuh Gen-Z menandai sepuluh dari 11 perasaan yang terkait dengan kesepian, sementara lebih dari 90 persen lansia di atas 72 tahun menyatakan mereka “terhubung dengan orang lain.” Lalu, bagaimana dengan rokok? Apa hubungannya? Merasa kesepian bisa membuat kita stres. Jika stres berat, maka bisa menyebabkan penyakit yang lebih buruk lagi. Misalnya seperti peradangan kronis. Bagaimana caranya mengatasi kesepian? Survei menyarankan hal-hal klasik seperti tidur, berkumpul bersama keluarga, olahraga, dan jangan terlalu sering lembur kerja. Eh, tunggu deh. Memang sih survei ini nunjukkin kalau kesepian bisa dialami oleh Gen Z yang tidak kecanduan medsos, tapi kok kayaknya saran di atas seperti kasih kode untuk tidak sering-sering ngecek HP ya?!

Hmm, mungkin memang sudah saatnya kamu mengikuti jejak kakek-nenek yang gaptek. Nyatanya hidup mereka jauh lebih bahagia daripada kamu yang “punya banyak teman di internet.”