Warga Kristen Irak yang Berjaga di Reruntuhan Usai Kotanya Dihancurkan ISIS
Altar pembaptisan di gereja kuno Mar Benham Irak. Semua Foto oleh Angela Catlin.
Irak

Warga Kristen Irak yang Berjaga di Reruntuhan Usai Kotanya Dihancurkan ISIS

Kota Al-Hamdaniya terletak di dekat Mosul, kini tinggal puing-puing. Sekelompok lelaki bertahan, agar ketika ISIS dikalahkan, tetangga dan keluarga mereka bisa langsung pulang.
15.6.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Kelompok Teroris Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) masih kokoh bertahan di Mosul, kota terbesar kedua di Irak, sementara pasukan koalisi Amerika Serikat dan Irak terus merangsek dalam peperangan sengit merebut kembali kota tersebut. ISIS memang tengah terpukul mundur perlahan. Namun, salah satu kota dekat Mosul tak mau berleha-leha.

Di pinggiran Mosul, terdapat kota bernama Al-Hamdaniya yang hampir porakporanda karena serangan ISIS dua tahun lalu. Kini, di kota itu muncul sekelompok warga yang tinggal untuk menjaga reruntuhan kota, melakukan patroli untuk memastikan tak satupun pejuang ISIS masuk ke kota itu. Sekelompok lelaki ini masih menjaga asa suatu saat nanti anggota keluarga dan tetangga mereka bakal kembali dengan selamat.

Kota Al-Hamdaniya, kota yang dihuni mayoritas pemeluk Kristen Assyria di utara Irak. Semua foto oleh Angle Catlin.

Ketika pasukan militan ISIS menyerang wilayah Al-Hamdaniya, penduduk beragama Kristen yang sudah lama beranak-pinak terpaksa mengungsi. Yang angkat kaki pertama kali adalah perempuan dan anak-anak, diikuti para pria yang sebelumnya bertahan sembari berharap ISIS tak menginvasi kota mereka.

"Empat putraku ini kami tetap bertahan di sini—mereka semua insinyur. Mereka bilang 'kami akan tinggal di sini karena kemungkinan ISIS tak akan datang kemari'," ujar Behanan Aboush yang bekerja di markas besar Nineveh Plains Protection Units (NPU) di Al-Hamdaniya.

Iklan

Aboush adalah pendiri sekaligus pemimpin NPU, kelompok milisi yang didirikan pada awal 2015 oleh umat Kristen Assyria untuk melawan serangan ISIS di seantero dataran Ninevah. Tentara ISIS akan memaksa minoritas seperti mereka memeluk Islam, menurut Aboush. Sampai saat ini, sekitar 100.000 penganut agama Kristen pergi meninggalkan rumah mereka gara-gara serangan ISIS.

Ketua NPU Behanam Aboush.

Pada suatu malam yang larut Agustus 2014, Aboush menerima informasi bahwa kelompok teror islamis tengah bergerak menuju kotanya. Tanpa menunggu lama, Aboush segera mengumpulkan putra-putranya dan menyuruh mereka pergi dari kota dengan siapapun yang ada di dekat mereka.

"Aku melihat bencana yang bakal dihadapi penduduk kota ini saat itu," jelas Aboush. "Ketika aku menyadarinya, aku langsung berpikir. 'Aku harus melakukan sesuatu untuk melindungi orang-orang ini–dan kota ini'."

Pasukan NPU di sebuah rumah yang pernah diduduki ISIS.

Populasi Al-Hamdaniya—kota Kristen terbesar di Irak—mencapai 50.000 jiwa sebelum semua peperangan ini. Nyaris semuanya pergi meninggalkan kota seiring serangan militan khilafah. ketika pasukan ISIS masuk kota Al-Hamdaniya, hanya ada 35 orang yang masih berdiam di kota itu, ungkap Aboush. Dia menambahkan kebanyakan dari penduduk yang tersisa ini berhasl kabur, namun malang empat di antaranya jadi korban pendudukan ISIS serta empat lainnya tak diketahui rimbanya,

Sebagai mantan pasukan angkatan udara Irak, Aboush mengaku mendirikan NPU untuk melindngi Al-Hamdaniya dan kawasan mayoritas Kristen lainnya pasca serangan ISIS. mulanya, milisi bentuknya hanya beranggotakan 15 orang. Kini, ada sekitar 500 pria anggota NPU yang sudah menerima pelatihan dari militer AS dan dipersenjatai oleh angkatan bersenjata Irak.

Patroli milisi Kristen di ujung senja. Foto oleh Angela Catlin.

"Pendirian NPU adalah semacam ujicoba memastikan warga kami dapat selalu aman. Kami mencoba sebisa mungkin menjaga dan menolong mereka. Kami lihat apa yang terjadi pada suku Yazidi dan bagaimana negara lain dan kekuatan besar dunia tak menghiraukan mereka. Kami merasakan kepedihan suku Yazidi," ujar Aboush.

Al-Hamdaniya dibebaskan pada 21 Oktober 2016, lebih dari dua tahun setelah jatuh ke tangan ISIS. ketika VICE News datang ke kota itu Mei lalu, tak seorang penduduk pun yang sudah kembali menempati rumah mereka. Sebagaian besar wilayah kota ini hancur—75 persen bangunan rusak berat—sebelum pasukan ISIS mundur ke Mosul. Butuh dana jutaan dollar untuk membangun kembali kita ini dan prosesnya bakal berjalan bertahun-tahun lamanya.

Iklan

Pejuang NPU digaji $400 perbulan oleh pemerintah Irak. mereka adalah lelaki biasa yang dulu bekerja di pabrik atau wirausahawan kecil yang kini rutin berpatroli serta memiliki izin untuk membunuh.

Amar Yashuh—24 tahun—bekerja sebagai polisi sebelum bergabung dengan NPU. Yashuh dilatih oleh militer Amerika di Chamchamal.

Kini, Al-Hamdaniya semacam kota hantu yang menyeramkan. Sisa-sisa kehancuran yang ditinggalkan ISIS masih jelas terlihat. Memilih menerap strategi bumi hangus saat muncur, pasukan ektremis ISIS merusak kota, menarget tiap rumah yang mereka temui. Mereka juga menyerang dan membakar gereja katolik Suriah Mar Behnam, mengobrak-abrik altar dan menghancurkan lonceng menaranya. D

Graffiti berwarna hitam ditemui di sana-sini. ISIS menandai rumah milik umat Kristen dengan menggunakan huruf Nun, yang merupakan singkatan dari 'Nazarene yang punya konotasi jelek.'

NPU telah membangun sebuah pos pengawasan yang dilengkapi dengan senjata mesin berat buatan Rusia—mereka menyebutnya dengan istilah "Dushka." sekitar 90 meter dari situ, pasuka NPU telah menggali parit mengelilingi kota, guna-guna berjaga-jaga barangkali ISIS kembali menyerang.

Gereja Kuno Mar Behnam di Kota Al-Hamdaniya yang dihancurkan ISIS.

"Pelatihan kami berlangsung selama 6 bulan," ujar Amar Yashuh yang pernah bekerja sebagai polisi. Rumah Yashuh hancur berkeping-keping karena serangan ISIS. Saddam—prajurit NPU lainnya—juga punya nasib serupa. Istri Saddam dan empat anaknya kini tinggal di kota Ebbil.

Menara pengawas memakai salah satu rumah yang ditinggalkan.

Rumah-rumah yang pernah dikuasai ISIS masih berdiri sempurna dan berisi selimut dan kantong tidur. Di dalam satu rumah, ada sebotol sampo, satu celana jeans denime, dan bungkus kosong rokok merek Gauloise. Di lantai, tergetelak sebuah ponsel yang hampir tak berbentuk. Sebuah jubah berwarna putih kotor menggantung di pintu.

Anggota NPU tak begitu yakin dengan masa depan organisasi itu dan kota Al-Hamdaniya. Mereka cuma ingin kembali hidup dengan damai. Masalahnya, jika Mosul akhirnya bisa direbut dari ISIS, warga Al-Hamdaniya akan menghadapi sebuah persoalan baru—ketegangan antara suku Kurdi dan Irak akan kembali muncul dan kota itu akan kembali diperebutkan.

Salib raksasa di pintu masuk kota Al-Hamdaniya.

Aboush sangat berhati-hati menanggapi perkembangan terakhir. Baginya keputusan terletak di tangan penduduk Al-Hamdaniya.

"Aku ingin penduduk kota ini menentukan sendiri masa depan mereka—entah mereka ingin jadi bagian dari Irak atau pemerintah regional Kurdistan—dan aku harap pilihan mereka dihormati oleh orang lain," ujarnya. "Tapi, yang paling penting, kami ingin bisa membela diri sendiri kapanpun."

Billy Briggs adalah wartawan lepas pemenang penghargaan yang menulis untuk The Guardian, The Times, Aljazeera, BBC, dan VICE News. | Angela Catlin fotografer lepas yang tertarik dengan masalah kemanusiaan dan sosial www.angelacatlin.com