Perdagangan Satwa Liar

Sindikat Perdagangan Gading Terus Menghantui Gajah di Sumatra

Awal pekan ini aksi penyelundup gading dicokok kepolisian Jambi. Gading gajah per kilogram dihargai hingga Rp25 juta. Populasi gajah di Sumatra terancam karenanya.
21.4.17
Foto oleh humas polda Jambi.

Kepolisian Daerah Jambi menangkap tiga orang yang diduga terlibat dalam sindikat perdagangan gading gajah. Ketiga tersangka yakni Arwin Hendarno, Saini, dan Mustafa Kamal, ditangkap di lokasi tempat terpisah. Menurut kepolisian, gading-gading gajah tersebut merupakan pesanan dari Jakarta.

"Harga per kilogram gading gajah bisa mencapai Rp25 juta. Kami sedang mengembangkan penyelidikan dan sangat yakin mereka adalah bagian dari sindikat," ungkap Kapolda Jambi Yazid Fanani.

Iklan

Sementara menurut Yazid, berat gading gajah tersebut masing-masing berkisar antara 8-10 kilogram. Ketiga tersangka tersebut akan dijerat Undang-undang tentang Sumber Daya Alam dan Konservasi Ekosistem, dengan ancaman maksimal lima tahun penjara.

Peneliti dari World Wildlife Fund (WWF) Sunarto mengatakan bahwa sepanjang kurun 2012 hingga 2014, kasus kematian gajah selalu dibarengi dengan hilangnya gading. "Motifnya menurut saya adalah perburuan. Selama masih ada demand (terhadap gading gajah) dari masyarakat, entah itu untuk pipa atau hiasan, perburuan akan tetap terjadi," ungkap Sunarto seperti dikutip Mongabay. Menurut Sunarto, konflik gajah-manusia menjadi latar belakang maraknya praktik perdagangan gading.

Di Aceh, yang merupakan habitat alami gajah liar selain Riau dan Lampung, gajah kerap menjadi korban akibat habitatnya yang semakin menyusut karena konversi lahan. Saat ini terdapat 539 gajah liar di Aceh menurut Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

"Kami juga sedang concern menyudahi konflik gajah dengan manusia yang selama ini terjadi. Termasuk sepanjang tahun ada saja gajah mati di perkebunan warga. Ini perlu sikap tegas semua unsur terkait," kata Kepala BKSDA Aceh Aji Sapto Prabowo saat dikutip Detikcom.

Praktik perdagangan gelap gading gajah masih kerap terjadi lantaran permintaan gading gajah Sumatera—yang rata-rata bisa mencapai panjang 170 cm—masih tinggi di kalangan kolektor. Pembeli gading percaya gigi gajah adalah obat mujarab untuk berbagai macam penyakit.

Hal ini menyebabkan status gajah Sumatera saat ini sebagai satwa critically endangered karena populasinya yang semakin menyusut sepanjang tahun akibat perburuan menggunakan senjata api maupun racun.

Dari data Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), sedikitnya 150 ekor gajah terbunuh sepanjang kurun 2012 hingga 2016. Angka riil perdagangan gading diprediksi lebih besar karena banyaknya kasus yang luput dari perhatian aparat.