Facebook Live Makin Diwarnai Masalah, Penuh Kekerasan dan Aksi Bunuh Diri

FYI.

This story is over 5 years old.

media sosial

Facebook Live Makin Diwarnai Masalah, Penuh Kekerasan dan Aksi Bunuh Diri

Di Indonesia tempo hari ada pria gantung diri direkam. Kemarin, pembunuhan oleh pria asal Cleveland, AS, disiarkan tanpa Facebook bisa mencegahnya. Zuckerberg pusing tujuh keliling.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Minggu lalu, saat perayaan Paskah, staf klinik kesehatan Kota Cleveland, Steve Stephen diduga menembak dan membunuh Robert Godwin Sr, seorang pria berumur 74 tahun. Tak berhenti di situ, Stephen mereka pembunuhan tersebut dan mengunggahnya ke Facebook. Video itu beredar di Facebook selama beberapa jam sebelum akhirnya dihapus. Di hari yang sama, Stephen juga mem-broadcast sebuah pesan lewat fitur Facebook Live meski tak jelas apa yang dikatakannya. Saat ini akun Stephen sudah dinonaktifkan.

Iklan

Lantaran peristiwa ini, sorotan tak mengenakkan kembali menimpa Facebook Live, sebuah fitur siaran video langsung yang banyak digembar-gemborkan Facebook beberapa tahun belakangan. Sayangnya, fitur ini justru digunakan untuk merekam serangkaian pembunuhan, penyerangan dan berbagai tindakan kekerasan lainnya. Di Indonesia, penggunaan Facebook Live untuk menyiarkan konten bermasalah sudah terjadi pula. Pada 17 Maret lalu, pria bernama Pahinggar Indrawan yang tinggal di Jagakarsa, Jakarta Selatan, menyiarkan langsung aksinya gantung diri lewat Facebook Live. Puluhan kasus semacam serupa terjadi di banyak negara.

Menanggapi hal ini, Facebook mengakui ada masalah dari fitur streaming tersebut. Fitur Live sebenarnya diniatkan untuk memberi "jendela menuju momen-momen terbaik dalam kehidupan penggunanya, fitur yang sama bisa mempertontonkan momen-momen paling buruk dalam kehidupan manusia." Deretan masalah serta konten kekerasan kembali memunculkan pertanyaan—dan ini bukan kali pertama—tentang secepat apa Facebook bakal bisa menangani "[momen-momen] buruk itu."

"Kami bekerja keras menjaga lingkungan sosial media yang aman di Facebook dan tengah bekerja sama dengan penegak hukum jika sewaktu-waktu terdapat ancaman fisik [yang disebarkan lewat Facebook]," kata Juru Bicara Facebook melalui pernyataan tertulis yang dipublikasikan dua hari lalu.

Mulai senin lalu, perburuan terhadap Steven Stephens dilakukan aparat. Pihak penegak hukum juga mewanti-wanti penduduk di kawasan Ohio, Pennsylvania, Indiana, Michigan, dan New York agar ikut mewaspadai keberadaan Stephens. Dalam sebuah konferensi pers yang digelar pihak kepolisian Kepala Kantor Polisi Calvin D. Williams mengatakan bahwa "lokasi terakhir Stephens yang kami tahu adalah di TKP (East 93rd, Saint Claire). Sisanya saat ini masih berupa spekulasi."

Iklan

Stephens akhirnya mengakhiri hidup kemarin malam ketika persembunyiannya diketahui polisi. Selama setahun setelah Facebook Live diperkenalkan ke publik, fitur ini telah digunakan merekam berbagai peristiwa kekerasan. Kami merangkum beberapa kasus paling mencolok:

  • Tak lama setelah pergantian tahun 2017, empat orang remaja merekam penyiksaan yang mereka lakukan pada seorang pria penderita gangguan mental. Korban naas itu ditemukan oleh pelaku sedang berjalan di jalanan kota New York. keempat pelaku lantas didakwa dengan tuduhan kejahatan kebencian.
  • Penembakan yang menewaskan tiga orang di Chicago pertengahan Februari 2017. Aksi penembakan itu dipublikasikan lewat Facebook Live oleh seorang wanita hamil yang luput dari serangan tersebut.
  • Pelecehan seksual yang dilakukan oleh sekelompok penyerang disiarkan lewat Facebook Live Maret lalu. Video itu ditonton oleh banyak orang namun tak ada satupun yang melaporkannya pada pihak berwenang. Ibu korban baru menghubungi polisi setelah anaknya hilang selama beberapa jam.

Selama hampir setahun, tanggapan Facebook tentang konten kekerasan dalam fitur Live tetap sama. Raksasa media sosial ini menyatakan kesulitan memilah atau menghapus konten "terbaik" dan "terburuk" dari apa yang diunggah pengguna. Pernyataan ini, dikeluarkan bulan Juli 2016, muncul dua hari setelah sebuah siaran Facebook Live merekam kondisi pasca penembakan Philando Castile, warga Minneapolis oleh seorang polisi. Insiden itu menyulut protes di seluruh penjuru Negeri Paman Sam.

November lalu, setelah ditemukan bukti—salah satunya dari video Facebook Live—polisi yang menembak mati Castille didakwa dengan pasal pembunuhan.

Tatkala ditanya apakah bakal ada perubahan sesudah insiden pembunuhan di Cleveland, juru bicara Facebook menyatakan akan menghubungi kembali VICE News setelah mendapatkan cukup informasi dari tim investigasi internalnya.