Arus Samudra Membawa Sampah Plastik Manusia Ke Kutub Utara
Samudra

Arus Samudra Membawa Sampah Plastik Manusia Ke Kutub Utara

Polusi laut semakin mengerikan. Laut Arktik jadi korban terbaru plastik hasil konsumsi manusia.
25.4.17

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard. 

Lautan Arktik masih dianggap sebagai lingkungan yang relatif murni, sebagian karena tidak banyak orang hidup di tepiannya. Namun ternyata manusia memadati lautan Arktik dengan sampah-sampah plastik, lewat arus laut, bahkan jika sampah plastik itu mulanya dibuang jauh dari sana. Sampah plastik mulai memenuhi Arktik dari AS dan Inggris Raya, dan ternyata, semakin banyak sampah plastik menuju sana. Ini masalah serius. Semua orang sudah tahu lah ya, bahwa plastik kini memenuhi lautan kita, bahkan di lokasi-lokasi yang amat dalam dan terpencil. Ketika sampah plastik dibuang di Samudra Atlantik atau Pasifik, biasanya enggak mandeg di sana saja. Pastinya sampah plastik itu terbawa arus dan pindah ke daerah lain. Nah, penelitian baru-baru ini menemukan bahwa sebagian besar sampah plastik itu terseret ke arah Arktik.

Iklan

Makalah baru, diterbitkan di Science Advances, menunjukkan bahwa Arktik adalah jalan buntu bagi sampah-sampah plastik di Atlantik Utara, dan banyak polusi air ini ditemukan pada bagian timur Greenland dan utara Skandinavia, meski hanya ada sedikit orang yang hidup di kawasan itu. Meski sampah-sampah plastik di Arktik berjumlah kurang dari tiga persen dari seluruh sampah plastik di perairan dunia, sebagian besarnya hanyut di kawasan itu berkat arus air. Pada penelitian tersebut, para penulisnya menggunakan 17.000 pelampung untuk mengkonfirmasi jalur terhanyutnya sampah plastik.

Sampah ini berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan sebuah laporan yang belum lama dirilis, Ocean Conservancy mengklaim bahwa Cina, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam menghasilkan 60 persen sampah plastik yang memasuki perairan dunia.

Bermacam sampah mikro yang ditemukan di Laut Arktik. Gambar oleh: Andres Cozar

Salah satu penulis makalah itu, Carlos Duarte, profesor dari King Abdullah University of Science and Technology di Arab Saudi memberi penjelasan tambahan lewat email kepada Motherboad. Dia menyatakan sebagian besar sampah plastik yang memasuki lautan luas kini dalam perjalanan menuju Arktik. Dia juga menulis sampah-sampah yang terdeteksi oleh rekan-rekannya kemungkinan besar berasal dari Atlantik Utara, namun plastik-plastik dari kawasan produksi mayor seperti Cina dan India, membutuhkan dekade supaya sampai ke sana. Penulis pemimpin Andrés Cózar, profesor biologi di Universidad de Cádiz di Spanyol, menjalani eksplorasi lautan sirkumpolar tahun 2013. Dia dan timnya menggunakan jaring untuk menjerat sampah plastik yang mengapung di perairan. Mereka menemukan bahwa sebagian besar perairan tanpa es di Arctic Polar Circle hanya tercemar sedikit sampah plastik, tidak seperti di Greenland dan Barents Seas.

Sebagian besar serpihan plastik yang ditemukan adalah "film tipis," seperti Saran Wrap, menurut Duarte. "Jika plastiknya lokal, kontributor dominannya adalah benang pancing," ujar Duarte, "seperti Barents Sea, berlokasi di pesisir Norwegia dan Rusia, mendukung salah satu perikanan paling produktif di dunia." Nelayan Norwegia dan Russia berfokus pada ikan cod, haddock dan capelin.

Kapal Penelitian Tara menjaring plankton tapi malah memperoleh banyak sekali sampah mikro. Foto oleh: Anna Deniaud/Tara Expeditions Foundation

"Arktik adalah terminal bagi ban berjalan global yang memindahkan panas, dan kini juga plastik, ke seluruh perairan global," tulis Duarte. "Satu ban berjalan global membutuhkan 600 tahun hingga selesai." "Plastik dicerna oleh banyak spesies…lalu berpindah dari satu titik permulaan hingga ke rantai makanan, di mana manusia juga terhubung di dalamnya," tulis Duarte. "Dampak negatif beragam dari sistem pencernaan yang tersendat hingga keracunan yang disebabkan oleh polutan dalam plastik." Duarte dan timnya kini merencanakan langkah selanjutnya untuk memverifikasi seberapa banyak sampah yang tersebar di dasar laut.