Perang Suriah

Terjadi Serangan Gas Sarin Tewaskan 72 Warga Sipil, Rusia Membela Pemerintah Suriah

PBB menggelar rapat merespons insiden menewaskan anak-anak itu, yang kemungkinan besar dilakukan militer loyalis Presiden Bashar al-Assad.
6.4.17
Foto oleh Ammar Abdullah/Reuters.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Dilaporkan 72 orang tewas, termasuk 20 anak-anak, ketika jet tempur diduga milik militer Suriah menembakkan gas sarin ke Kota Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib, Suriah, Selasa (4/4) pagi waktu setempat. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa kemarin menggelar rapat darurat merespons insiden yang masuk kategori kejahatan perang tersebut.

Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, pemerintah Rusia sebagai sekutu Presiden Suriah Bashar al-Assad, melakukan pembelaan. Rusia mengklaim serangan udara Suriah menyasar gudang senjata pasukan pemberontak, namun ternyata di dalamnya ada banyak senjata kimia. Negara-negara lain menolak penjelasan tersebut, karena lembaga independen menemukan bukti bila rudal yang diarahkan ke pemukiman Idlib sudah mengandung senjata kimia sejak awal. Rusia pun sudah berulang kali membela Assad tanpa alasan selama perang saudara yang berlangsung enam tahun ini.

Iklan

Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, bergegas menolak pembelaan Rusia. "Bukti-bukti yang saya dapatkan memastikan bila serangan mengerikan itu didalangi oleh Rezim Assad… mereka menggunakan senjata pemusnah massal terhadap rakyatnya sendiri," ujarnya. Salah satu pejabat tinggi Amerika Serikat, seperti dikutip kantor berita Reuters, menyebut pembelaan Rusia "tidak sesuai kenyataan."

Pakar senjata kimia menyatakan serangan di Idlib kemarin lusa kemungkinan menggunakan gas sarin atau klorin. Racun ini tidak berbau dan tidak berwarna, serta efeknya langsung melumpuhkan syaraf otak. Kondisi korban Khan Sheikhoun menunjukkan tanda-tanda orang yang telah terkena gas sarin. "Mengherankan bila [Rusia] bilang tak ada kesengajaan menembakkan serangan senjata kimia di Idlib," kata Hamish de Bretton-Gordon saat diwawancarai BBC. Sarin adalah senjata buatan ilmuwan Jerman era Nazi, yang terlarang digunakan dalam perang sesuai kesepakatan PBB.

Lembaga pemantau HAM, Amnesty International, memastikan keaslian 25 video yang merekam detik-detik saat dan setelah pemboman mengandung gas sarin itu terjadi. Hasan Haj Ali, juru bicara kelompok pemberontak di Idlib, mengatakan saksi mata semuanya mengatakan bom-bom itu menghantam disertai gas. "Tidak ada pasukan pemberontak yang memiliki senjata secanggih itu."

Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris bergegas menyusun resolusi di DK PBB, mendesak Suriah membuka akses bagi tim internasional untuk menyelidiki insiden serangan kimia di Idlib. Presiden Bashar al-Assad juga diminta membuka akses bagi tim independen internasional untuk memeriksa pangkalan udara yang menjadi markas pemboman tempo hari. Seperti sudah diperkirakan, Rusia menolak resolusi tersebut. Seandainya resolusi ini disahkan, Negeri Beruang Merah hampir pasti akan melakukan veto. Rusia dan Cina sudah memveto upaya DK PBB sebelumnya untuk menjatuhkan sanksi ekonomi dan politik pada Suriah karena melakukan kejahatan perang terhadap warganya sendiri.

Serangan di Idlib menandai penggunaan senjata kimia paling massif dalam konflik enam tahun belakangan. Sebelumnya Assad sudah pernah dituduh menyerang pemberontak dan warga sipil memanfaatkan klorin. Dalam hitungan jam setelah bom jatuh, ratusan orang dilarikan ke klinik karena tak bisa bergerak dan muntah-muntah.

Di media sosial, beredar foto-foto korban, terutama anak-anak, yang lumpuh dan muntah karena serangan kemarin lusa. Insiden di Idlib mengingatkan publik internasional pada video serangan Kota Ghouta tiga tahun lalu. Ketika itu, ratusan orang tewas, diduga kuat akibat serangan gas syaraf oleh militer Suriah loyalis Assad. Amnesty International dan Human Rights Watch menyatakan pada Desember tahun lalu, militer Suriah juga menggunakan gas racun di pertempuran Aleppo.

Serangan udara mematikan di Idlib terjadi hanya berselang sehari, setelah Duta besar Amerika Serikat untuk PBB, Nikki Haley, menyatakan prioritas negaranya bukan lagi menggulingkan Assad dari kepresidenan. Juru bicara Gedung Putih, Sean Spicer, turut menyebut masih berkuasanya Assad di Suriah sebagai "realitas politik."

Perubahan sikap AS di bawah pemerintahan Donald Trump, serta sokongan Iran dan Rusia, membuat posisi Assad kini di atas angin. Hampir pasti dia akan punya kesempatan lebih untuk menghancurkan kota-kota yang selama ini diduduki warga dan pemberontak.

Perkembangan konflik Suriah kini memojokkan pemberontak dari warga mazhab Sunni. Sekutu-sekutu mereka, negara Barat, beberapa bulan ini mulai mengubah posisi. Dari awalnya mendesak Assad mundur, menjadi sekadar mengakhiri perang saudara. Insiden di Idlib membuka peluang kembali negara Barat untuk tidak bersikap toleran pada Rezim Assad. "Saya kira Suriah tidak punya masa depan stabil jika masih dipimpin Assad," kata Perdana Menteri Inggris Theresa May. "Semua pihak yang mengupayakan negosiasi damai di Suriah sebaiknya memastikan ada mekanisme transisi agar Assad tak lagi terlibat dalam pemerintahan."