Travel

Pulau Kapal Perang - Bekas Metropolis Jepang yang Membusuk

Pulau Hashima di Jepang, dulunya pusat tambang batu bara yang dipadati manusia, kini hancur dan mustahil dipulihkan.
26.10.16

Dari kolom 'VICE Is Ten: 2002 - 2012'

Akhir-akhir ini, satu-satunya benda yang mendarat di Pulau Hashima adalah kotoran burung camar. Berjarak sekitar satu jam pelayaran dari pelabuhan Nagasaki, pulau yang ditinggalkan ini diam-diam ambruk. Pulau Hashima pernah berjaya sebagai fasilitas tambang batu bara milik Mitsubishi Motors.

Di masa jayanya, ia pernah menjadi daerah dengan populasi terpadat di bumi, penuh dengan apartemen-apartemen tinggi yang dihuni 13.000 orang setiap kilometer perseginya. Fasilitas tambang batu bara ini beroperasi dari 1887 hingga 1974. Setelah 1974, industri batu bara mulai ambruk dan tambang-tambang ini ditutup untuk selamanya. Tanpa pekerjaan dan alasan lain untuk tetap tinggal di daerah urban yang kecil dan mengerikan ini, seluruh penduduk meninggalkan pulau ini secara seketika untuk kembali ke tanah daratan Jepang. Semua yang mereka tinggalkan di pulau ini hancur membusuk.

Iklan

Kini, berkunjung ke Pulau Hashima dianggap tindakan ilegal karena pulau ini sudah rusak parah dan tidak aman. Lagipula, pemerintah Jepang tidak ingin menarik perhatian dunia ke pulau yang merupakan saksi kesengsaraan rakyat Jepang dalam era revolusi industri pasca-perang.

Jika tertangkap mengunjungi Pulau Hashima, anda akan dihukum penjara selama 30 hari dan langsung dideportasi. Namun sekian minggu lalu, saya dan beberapa teman berhasil tiba di Pulau Hashima setelah bangun pagi-pagi buta dan membuat kesepakatan rahasia dengan seorang nelayan setempat.

Pelabuhan Nagasaki adalah sebuah pelabuhan internasional dan biasanya berisikan kapal pesiar penuh dengan nenek-nenek dan kapal tangki minyak besar. Anda tidak akan menemukan nelayan bergigi tonggos yang mau melanggar hukum demi sedikit uang jajan ekstra.

Maka dari itu, kami naik kapal feri pagi-pagi buta ke Takashima, pulau terdekat dari pulau Hashima yang masih dihuni manusia. Setelah bertanya ke beberapa orang—dan ditolak secara sopan oleh hampir setiap nelayan Jepang—kami akhirnya menemukan nelayan yang bersedia. Dalam Budaya Jepang yang penuh sopan santun, anda tak diperkenankan mengatakan apa yang anda mau secara langsung, jadi bahkan ketika kami sudah naik kapal, kami tidak tahu apakah kami akan dibawa ke pulau Hashima—kesepakatannya cuma kami akan diantar cukup dekat untuk bisa melihat pulau tersebut.

Dari jauh, tembok laut berwarna abu-abu yang menikung,menciptakan sebuah sudut dan mengelilingi pulau terlihat seperti bentuk sebuah kapal perang—tidak heran dalam mitologi populer Jepang, pulau ini dinamakan "Gunkanjima" atau Pulau Kapal Perang.

Iklan

Seiring kami mendekati pulau, percakapan kami dengan si nelayan berlangsung lambat—barulah ketika kami menapakkan kaki di ujung dermaga, ia setuju untuk meninggalkan kami di pulau selama beberapa jam sebelum menjemput kami kembali.

Di beberapa area, seluruh muka bangunan sudah ambruk ke tanah, memperlihatkan kisi-kisi rumah lengkap dengan seperangkat TV 70an yang hancur karena dudukannya sudah berkarat dan rusak terlebih dahulu. Agak sulit untuk membayangkan bagaimana rasanya tinggal di pulau ini. Namun tidak adanya ruang terbuka dan kehadiran tembok laut yang mengelilingi pulau layaknya penjara membuat saya membayangkan tinggal di sini seperti tinggal di sebuah sarang semut, sesak dan tidak nyaman.

Artefak-artefak pribadi berserakan di mana-mana—sepatu bekas, botol sampo, koran dan bahkan beberapa poster masih terpasang di dinding-dinding kamar anak remaja—semua ini adalah bukti paling nyata bahwa dulu ada orang tinggal di sini.

Kami menjelajahi ruang-ruang kelas yang kosong di sebuah gedung sekolah besar. Sisa-sisa meja dan kursi yang keropos terhampar di depan papan tulis yang menampilkan tanda-tanda kelas terakhir yang terjadi 30 tahun yang lalu.

Dari ruang olahraga di lantai atas, anda bisa melongok ke bawah ke arah auditorium utama yang atapnya sudah jebol. Karena struktur auditorium yang sudah rusak, kami melangkah di atas sebuah lempengan besar yang jatuh dari langit-langit di atas kami.

Kira-kira di lantai sembilan sebuah blok apartemen, saya melangkah masuk ke sebuah ruangan untuk menikmati pemandangan laut dari jendelanya. Lantai tatami yang dianyam secara tradisional yang saya langkahi, yang sudah lama tidak diinjak kaki manusia, rubuh dan menimbulkan suara nyaring yang menggema di seluruh gedung. Saya terjatuh…hanya sekitar satu meter ke bawah, namun ini cukup untuk membuat kami panik. Semenjak itu kami lebih berhati-hati ketika melangkah.

Hanya seluas 1.2 km persegi, pulau ini tergolong kecil, namun anda tidak akan sadar akan hal ini ketika anda berjalan berliku-liku melewati gedung-gedung bertingkat tinggi di pulau itu. Untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih baik, kami mendaki menara jaga utama pulau itu—yang terbukti lumayan sulit mengingat akses jalan ke sana tertutup rumput-rumput tinggi.

Tidak terpikir oleh kami bahwa si nelayan mungkin tidak akan datang lagi. Kami lebih khawatir tentang sedikitnya waktu yang kami punya di pulau ini. Teman saya keceplosan dan hanya meminta waktu 2 jam karena dia kelewat senang ketika si nelayan setuju untuk mengantarkan kami. Banyak sekali tempat-tempat yang bisa dijelajahi di pulau ini. Satu hari penuh pun mungkin tidak cukup untuk menjelajahinya.

Dua hari setelah artikel ini ditulis, pemerintah Jepang kembali membuka akses ke pulau ini.

Follow Alex di Twitter-nya.