Fenomena Tersembunyi Pria Diperkosa Perempuan
Foto oleh Rachel Bellinsky via Stocksy
Berita

Fenomena Tersembunyi Pria Diperkosa Perempuan

Penelitian di AS baru-baru ini menyatakan 2/3 pria yang melaporkan kasus pelecehan seksual di negara itu menjadi korban perempuan.
30.11.16

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Lara Stemple, profesor hukum University of California Los Angeles (UCLA) mengatakan survei yang dilakukan Center for Disease Control and Prevention (CDC) kerap menghasilkan temuan dan pengakuan penting mengenai kejahatan seksual. "Pewawancara dilatih banyak bertanya dan menggunakan teknik-teknik tertentu agar responden merasa nyaman," jelasnya.

Masalahnya, dalam hal pelaporan hasil survei, CDC cenderung mengabaikan pria yang dipaksa melakukan penetrasi ke orang lain—entah diancam, dipaksa, atau sebetulnya di luar keinginan pelaku— dengan menaruh kejahatan semacam ini di dalam kategori "korban kategori lain-lain" bersama dengan pelanggaran ringan semacam "pengalaman seksual tanpa kontak tubuh yang tidak diinginkan."

Iklan

"Mereka menaruh kejahatan ini di kategori yang sama dengan ketika orang memamerkan alat kemaluan mereka, atau ketika orang tak dikenal berkomentar vulgar di jalan," kata Stemple. "Pelecehan seksual pada pria sering tidak diberikan konteks sama sekali. Ini seakan-akan mengecilkan tindak pelecehan tersebut."

Bahasa halus yang digunakan CDC dalam menyebut pria korban pelecehan seksual, menegaskan teori mengkhawatirkan yang beredar di kalangan peneliti, pengacara, dan aparat kepolisian. Teori, menurut Stemple, tersebut adalah: "Bagi pria, semua seks itu enak."

"Kita perlu merubah cara kita membahas pria dan seks," kata guru besar perempuan ini. "Ketika sudah muncul stereotip pada pria, mereka akan enggan melapor biarpun menjadi korban pelecehan seksual."

Stemple sejak lama memfokuskan penelitiannya di bidang pelecehan seksual pria. Kebanyakan kasus-kasus semacam ini tidak dilaporkan ke aparat hukum. Pada 2014, dia merilis sebuah esai yang menjelaskan konteks berbagai survei nasional seputar kekerasan seksual terhadap pria. Hasilnya? Apabila muncul kasus di mana pria "dipaksa melakukan penetrasi" terhadap orang lain ikut dihitung dalam statistik, maka jumlah korban kekerasan seksual antara pria dan wanita sesungguhnya hampir sama. Ada 1,267 juta pria yang mengaku pernah menjadi korban kekerasan seksual, sedangkan bagi wanita, 1,270 juta mengaku pernah diperkosa di Amerika Serikat.

"Dipaksa melakukan penetrasi" bukanlah jenis kekerasan seksual yang umum, seperti ditulis Hanna Rosin di situs Slate pada 2014. Tindakan ini dapat menghasilkan efek fisik dan psikologis yang serupa dengan pemerkosaan pada perempuan. Efek negatifnya mulai dari disfungsi seksual, depresi, hilangnya rasa percaya diri, dan kesulitan menjalin hubungan jangka panjang dengan seseorang.

"Saya bertemu seorang pria yang pernah dilecehkan wanita ketika masih kecil. Sampai saat ini, dia masih takut berduaan bersama wanita di ruangan yang sama."

Biarpun masih banyak kajian yang harus dilakukan untuk memahami efek negatif pelecehan seksual terhadap pria, penelitian terbaru Stemple memilih untuk berfokus di si pelaku pelecehan itu sendiri: wanita. Dalam penelitian tersebut, bersama dua peneliti lain Stemple menelaah empat survei yang dilakukan CDC dan Divisi Statistik Departemen Kehakiman AS untuk memahami perilaku wanita pelaku pelecehan seksual dan korban mereka. Hasilnya? Stereotip wanita tidak bisa menjadi pelaku kekerasan seksual itu salah besar.

"Orang mengira wanita pelaku kekerasan seksual itu sangat jarang," kata Stemple. "Mereka kira itu kebetulan saja—semacam kasus guru wanita mengajak murid lelaki berhubungan badan di beberapa SMA Amerika Serikat. Sebetulnya wanita pelaku kekerasan seksual ada banyak menurut survei ini. Ajaibnya, kebanyakan orang tidak tahu hal ini."

Iklan

Ancaman wanita pelaku kekerasan seksual (predator) sejak lama diabaikan dan disalahartikan oleh komunitas peneliti ilmiah. Penelitian bidang pelecehan seksual pada pria sudah dimulai sejak 1930-an. Sementara penelitian sistematis mengenai wanita-wanita predator seks baru dilaksanakan di 1990-an. Kala itu, penelitian masih tidak maksimal dan hanya berfokus di pelecehan seksual anak kecil. Baru satu dekade belakangan, penelitian mengenai topik ini benar-benar berkembang.

Penelitian terakhir Stemple menggunakan metode survei telepon CDC yang terbaru. Hasilnya? 68,6 persen pria yang melaporkan pelecehan seksual adalah korban kekerasan seksual. Sedangkan 79,2 persen responden pria yang dipaksa melakukan penetrasi—"bentuk kegiatan seksual tanpa konsen yang biasanya dialami pria," dilecehkan oleh wanita.

"Orang mengira wanita pelaku kekerasan seksual itu sangat jarang," kata Stemple. "Mereka kira itu kebetulan saja—semacam kasus guru wanita mengajak murid lelaki berhubungan badan di beberapa SMA Amerika Serikat."

Penelitian ini juga menjelaskan bahwa banyak wanita predator seks beraksi di bar. Departemen Kehakiman AS menggunakan istilah akurat seperti "blowjob", menggambarkan betapa tahanan wanita cenderung dilecehkan sesama narapidana perempuan, bukannya sipir pria. Dari semua tahanan pria yang melaporkan pelecehan seksual dilakukan oleh sipir, 80 persen menyebut pernah dilecehkan sipir perempuan.

Apabila kita melibatkan tahanan remaja, angkanya bahkan lebih tinggi: 89,3 persen. Mungkin yang paling mengagetkan adalah angka pelecehan seksual antara sesama tahanan wanita, sekitar tiga kali lipat lebih tinggi dibanding sesama tahanan pria.

Iklan

Melihat statistik-statistik ini, bukankah aneh bahwa hanya sedikit sekali wanita yang masuk daftar pelaku kekerasan seksual? Di sebuah studi yang dilakukan di lima negara bagian Amerika Serikat, hanya sekitar 0,8-3 persen dari total pelaku kekerasan seksual adalah perempuan.

Banyak faktor memicu pria sulit melaporkan pelecehan seksual. Menurut penelitian Stemple, rata-rata lelaki malu melapor ke polisi karena takut dianggap "lemah". Banyak dari mereka berbohong dan mengatakan bahwa mereka dilecehkan pria lain. Beberapa juga terpaksa mengisahkan cerita mereka seakan-akan waktu itu mereka hanya sedang "labil" saja. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pria dewasa yang menjadi korban kekerasan seksual cenderung lebih disalahkan dibanding korban perempuan untuk kejahatan yang sama.

Tentunya sterotip pria yang digambarkan sebagai pelaku pemerkosaan dan bukan korban, tidak membantu menyelesaikan masalah. Survei pada 1992 yang dilakukan terhadap beberapa mahasiswa kampus-kampus di AS menunjukkan para responden lelaki menyatakan "pria kekar yang kuat tidak mungkin diperkosa wanita." Mahasiswa yangdisurvei pada 2012 mengatakan bahwa seorang pria yang diperkosa wanita "bakal senang-senang saja."

Pelecehan wanita yang dilakukan oleh wanita lain bahkan lebih jarang diteliti dibanding kasus pelecehan lintas-jenis kelamin. Mengacu pada sebuah penelitian, "heteroseksisme menyebabkan kaum lesbian dan biseksual yang menjadi korban pelecehan seksual makin diabaikan oleh kalangan profesional," seperti dikutip dari penelitian tersebut. "Biarpun ada beberapa pusat penanggulangan pemerkosaan yang mempunyai program bantuan untuk kaum lesbian, kebanyakan hotline, kelompok pendukung, dan organisasi hukum hanya terbiasa menangani kejahatan seksual yang pelakunya pria. "

"Saya bertemu seorang pria yang pernah dilecehkan wanita ketika masih kecil," kata Stemple. "Sampai saat ini, dia masih takut berduaan dengan seorang wanita di ruangan yang sama. Anda bisa bayangkan, hal semacam ini pasti sangat tidak nyaman diceritakan. Dia takut orang akan mempermalukannya. Sekarang dia sudah bisa menceritakan pengalamannya sebagai seseorang yang 'selamat' dari pelecehan seksual. Namun pria seperti ini jarang. Kebanyakan pria yang menjadi korban sangat takut untuk mengaku, apalagi kalau mereka dilecehkan wanita."