Berita

Listrik Pulau Kecil Samoa 100 Persen Dipasok dari Tenaga Surya oleh Perusahaan Elon Musk

SolarCity-Tesla sedang menjalankan uji coba pemasokan kebutuhan listrik tenaga surya di Kepulauan Samoa Amerika. Keberhasilan proyek ini berpengaruh pada masa depan industri energi terbarukan.
25 November 2016, 4:27am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Warga Pulau Ta'u, di Samoa Amerika merasakan dialiri listrik tenaga matahari 100 persen. Mereka menjalani sebuah uji coba dari SolarCity dan Tesla. Keduanya adalah perusahaan milik konglomerat teknologi asal Amerika Serikat, Elon Musk.

Elon Musk tak berhenti membicarakan akuisisi SolarCity oleh perusahaannya,Tesla. Bagi Elon Musk, uji coba di Ta'u adalah kesempatan emas mewujudkan perusahaan energi bersih paling mutakhir dan ekperimental di muka bumi. Kedua perusahaan—yang rencananya akan merger dalam waktu dekat berdasarkan keputusan pemilik saham—selama sebulan terakhir mulai mengalirkan listrik tenaga matahari ke seluruh Ta'u, wilayah milik Amerika Serikat paling luas di Kepulauan Samoa Amerika.

"Ta'u kini memiliki pembangkit listrik tenaga matahari dan grid mikro yang dilengkapi dengan baterai penyimpan listrik. Keduanya mampu mencukupi hampir 100 persen kebutuhan listrik Ta'u dengan menggunakan energi yang terbarukan," begitu penyataan tertulis SolarCity-Tesla dalam sebuah unggahan blog. "Sistem ini dirancang menggantikan pembangkit tenaga listrik yang menghabiskan 414.502 liter diesel per tahun."

"Pulau di Samoa Amerika sekarang dipasok nyaris 100 persen listrik dari pembangkit sinar matahari, semua berkat 5.300 panel surya yang kami pasang dan 60 powerpack Tesla - (@TeslaMotors)"

Saat ini 760 penduduk yang mendiami Ta'u kebutuhan listriknya ditopang 5,328 panel surya milik perusahaan Musk. Listrik yang dihasilkan dari panel-panel ini disimpan dalam 60 unit powerpack komersial buatan Tesla. Perusahaan yang bermarkas di Palo Alto, California ini menjamin Ta'u bakal memiliki pasokan listrik yang cukup untuk tiga hari tanpa sinar matahari memadai. Panel surya yang dipasang di Ta'u mampu mengisi daya powerpack dalam tujuh jam saja.

Elon Musk tak sabar menunggu semua kota di negaranya mengadopsi sistem seperti yang tengah diuji oleh SolarCity-Tesla di Samoa Amerika.

Di saat yang sama, terpilihnya Donald Trump—seorang politikus/pengusaha yang terang-terangan meragukan fakta pemanasan global—membuat aktivis dan pengamat masalah lingkungan ketar-ketir. Trump diyakini lebih berpihak pada pengusaha minyak dan batu bara. Sebagian analis tak sepesimis itu. Mereka memperkirakan bisnis energi terbarukan seperti dijalankan Musk bakal tetap potensial, karena turunnya ongkos produksi listik tenaga angin dan matahari.

Namun, proyek Musk ini tak luput dari beberapa sorotan negatif. Di antaranya, banyak yang khawatir melihat rekam jejak SolarCity sebelum dibeli Musk, yang tak pernah mampu menghasilkan profit. Sebelum diakuisisi Tesla, tahun lalu sahamnya anjlok lebih dari 60 persen. Wajar saja jika banyak yang meragukan Elon Musk bisa membuat sebuah bisnis yang menguntungkan dengan menggabungkan perusahaan pembuat mobil listrik dengan perusahaan listrik tenaga matahari yang sudah sering merugi.