FYI.

This story is over 5 years old.

Tekno

Membiarkan Internet Lupa Sebagai Bentuk Kebaikan

Internet yang lebih baik, lebih bersahabat dan lebih etis dapat tercipta apabila kita melakukan kebalikan dari optimisasi search engine.
Gambar oleh Adam Mignanelli

Artikel ini muncul di majalah VICE edisi Juni.

Desember 2015 lalu, saya mewawancarai aktivis anti-porno-balas-dendam* yang sedang "berseteru" dengan Hunter Moore, "raja porno balas dendam." Moore menggugah foto-foto telanjang anak perempuannya sendiri, K ke website pribadinya setelah meretas mereka dari akun email anaknya tersebut. Kejadian ini jelas menyakiti dan mempermalukan K. "Ini trauma yang saya akan bawa seumur hidup," ungkap K di persidangan Moore. Menjuluki dirinya sebagai "perusak hidup profesional," Moore dihukum penjara selama dua setengah tahun.

Iklan

Ketika saya menulis kasus ini dulu, saya memutuskan untuk hanya menggunakan inisial K, dan bukan nama lengkap dia berhubung Ibu dari K lumayan dikenal publik dan sering dimuat di media — mengakibatkan K juga mendapat banyak perhatian dari khalayak umum.

Di titik ini, nama K sangat berkaitan dengan kasus Moore. Kalau anda penasaran dengan nama lengkap, umur, foto dan halaman IMDB K, tinggal google saja. Gampang. Dia bercita-cita menjadi aktris namun sayang sungguh sayang, hasil pencarian dirinya di google yang berhubungan dengan kasus Moore akan menghantuinya seumur hidup. Saya tidak mau menambah penderitaannya. Maka dari itulah artikel saya dulu dan yang sekarang saya tulis tidak akan mencantumkan nama dia. K layak untuk dilupakan.

Di awal 90an, tokoh internet ternama John Gilmore mengatakan "Internet menafsirkan penyensoran sebagai kecacatan dan mencari jalan lain untuk melewatinya." Di era di mana media sosial berkuasa dan dapat menentukan apa yang layak dan tidak layak untuk diucapkan di dunia maya, pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, biarpun masih relevan di banyak situasi. Hilang satu file torrent episode terakhir Game Of Thrones, tumbuh seribu, eh sepuluh. Internet tidak suka melupakan.

Di Uni Eropa, hal ini memicu munculnya "hak untuk dilupakan" — hak sah seseorang secara hukum yang memaksa search engines menghapus informasi yang usang atau tidak akurat. Hal ini disulut oleh sebuah kasus di Spanyol dimana cerita yang sudah usang namun memalukan tentang keadaan keuangan seorang jaksa muncul terus di Google search setelah situasi hidupnya berubah bertahun-tahun kemudian. Pengadilan memutuskan bahwa Google harus menghapus berita ini dari hasil pencarian mereka. Di tahun 2015, dilaporkan bahwa Google menerima lebih dari 400.000 permintaan "hak untuk dilupakan" dan sekitar 40 persen dari angka tersebut dikabulkan.

Iklan

Skenario terburuk adalah ketika seorang kriminal seperti Moore menggunakan "hak untuk dilupakan" untuk menghapus kelakuan kejinya dari sejarah. Dan sayangnya di Britania Raya, hak ini sering sekali digunakan untuk menghilangkan cerita-cerita memalukan yang menimpa figur publik. Masyarakat memiliki hak untuk tahu dan mengingat seseorang yang melakukan perbuatan buruk. Namun perlu diinget bahwa dunia maya tidak hanya mengingat skandal, korupsi dan kejahatan — ia juga ingat alamat rumah, nomor telepon, informasi keuangan, foto-foto memalukan, dan drama-drama gak penting jaman remaja. Kita semua pasti punya foto dari jaman SMA atau kuliah yang kita pengen bakar kalo bisa, tapi sayangnya sekarang mereka tersimpan di Facebook selamanya. Bayangkan kasus si K yang berusaha untuk menghapus foto-foto bugilnya di internet, namun malah identik dengan istilah "porno-balas-dendam" selamanya.

Internet merupakan perpustakaan yang luar biasa penuh dengan pengetahuan, terhubung oleh tulisan-tulisan digital yang dapat diakses melalui search engines. Melalui situs seperti Google, kita dapat memasuki dunia yang penuh dengan kata-kata : situs web, blog, dan artikel-artikel tersembunyi yang kini mudah ditemukan.

Dalam konteks yang luas, ini hal yang menguntungkan. Akses terhadap pengetahuan dan informasi sebanyak ini belum pernah kita rasakan sebelumnya. Namun ini juga berarti argumentasi di dunia nyata yang biasanya abis lima menit kelar, bisa berlangsung terus-terusan sampe mampus. Sebuah postingan di blog bisa merusak reputasi orang bertahun-tahun.

Sebetulnya, untuk beberapa kasus, memang sudah sepantasnya begini. Kita tidak boleh melupakan insiden polisi kampus Davis, University of California yang menyemprot pepper-spray (semprotan aerosol bertekanan gas yang mengandung merica) ke muka murid-murid pengunjuk rasa pada tahun 2011, tidak peduli berapa pun banyaknya uang yang dikeluarkan kampus untuk menghapus kisah ini dari internet.

Apesnya, orang-orang yang tidak mempunyai banyak kehadiran di dunia maya pun mesti menghadapi fakta bahwa bahkan berita kecil tidak penting mengenai mereka akan langsung nongol teratas di search engine karena tidak ada informasi lain. Saya tidak mau memperkeruh hasil search engine seseorang, dan orang baik mestinya melakukan hal yang sama.

Mari sisihkan dulu "hak untuk dilupakan" dan pikirkan standar akhlak yang baik untuk diri kita sendiri, yaitu seni kebaikan untuk melupakan. Internet yang lebih baik, lebih bersahabat dan lebih etis dapat tercipta apabila kita tidak memperbanyak hasil search engine seseorang.

*porno balas dendam: istilah ini berawal dari penggunggahan video kegiatan seks mantan pasangan yang disebarkan tanpa ijin untuk mempermalukan sang mantan partner, namun kemudian seiring waktu definisinya meluas akibat salah kaprah dan digunakan untuk menggambarkan berbagai bentuk penyalahgunaan dan penyebaran video seks seseorang.