Fashion

New Balance Menjadi Merek Sepatu Pilihan Kaum Rasis Neo-Nazi

Produsen sneakers populer dari Boston ini mengalami jatuh bangun sepanjang sejarah, tapi kali ini masalahnya sangat berbeda.
16.11.16
Foto dari akun Flickr sling@flickr

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Setelah pemilu Amerika Serikat berakhir, banyak orang mengeluh di media sosial mengenai terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS. Sebagian kecil masyarakat AS turun ke jalan dan melakukan protes kecil-kecilan. Namun anehnya, ada juga beberapa warga US yang berusaha menunjukkan kemarahan mereka atas terpilihnya Trump dengan cara membakar sepatu New Balance mereka.

Iklan

Alasannya: juru bicara New Balance, Matt LeBretton mengatakan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS merupakan "langkah yang benar." Tak lama setelah itu, New Balance mengklarifikasi bahwa mereka mendukung Trump karena dia menentang Kemitraan Trans-Pasifik yang dianggap memiliki efek negatif terhadap industri AS. New Balance tidak mendukung pernyataan-pernyataan berbau rasisme penuh kebencian yang kerap dilontarkan Trump.

Sayangnya, semua sudah terlambat. Seorang kaum rasis neo-Nazi yang tidak menyimak pernyataan lanjutan New Balance bergegas mengikrarkan New Balance sebagai "sepatu resmi warga kulit putih". Andrew Anglin, pendiri The Daily Stormer—sebuah publikasi online mendukung isu supremasi kulit putih—mendorong para pembacanya untuk membeli sepatu New Balance guna mendukung industri manufaktur US, supremasi kulit putih, dan "revolusi Trump".

Awal pekan ini New Balance mengeluarkan rilis resmi menyatakan mereka "tidak menoleransi fanatisme atau kebencian dalam bentuk apa pun. Sebagai perusahaan berumur 110 tahun yang mempunyai 5 pabrik di AS serta ribuan pekerja dari latar belakang ras, gender, budaya, dan orientasi seksual berbeda-beda seluruh dunia, New Balance adalah organisasi berbasis nilai dan kultur yang mendukung kemanusiaan, integritas, komunitas dan sikap saling menghormati."

Tentu saja kisah memalukan ini akan selalu menjadi catatan kaki di halaman Wikipedia mereka. Berikut adalah sejarah singkat New Balance agar anda mengerti bagaimana mereka bisa menjadi salah satu perusahaan sepatu terbesar di dunia.

Kisah Awal yang Manis

New Balance didirikan di Boston pada 1906 oleh seorang imigran asal Inggris, William J Riley. Tidak ada yang tahu banyak tentang dia, tapi namanya kedengaran kayak nama seseorang yang gigih. Kebayang dia lagi teriak-teriak di dalam pabrik yang berisik.

Foto bersumber dari situs resmi New Balance

Periode Singkat Saat Banyak Rapper 'Agak' Suka Memakai New Balance

Awalnya, pembeli New Balance adalah orang-orang yang gemar berolahraga macam pelari-pelari kurus yang rambutnya lebih panjang dari celana lari mereka, seperti foto di atas. Namun di era 90-an, Raekwon sempat bikin lagu rap, membahas sepatu New Balancenya dicuri orang. Sedangkan A Tribe Called Quest sempat menyebut-nyebut sepatu new Balance di lagu 'Buggin' Out". Selama periode singkat ini, sepatu New Balance menjadi ikon budaya kaum muda—sampai:

Sepatu Om-Om

Sayangnya, kapitalisme membawa nasib New Balance ke titik terendahnya: sepatu om-om. Siklusnya selalu sama: sebuah merek menjadi keren, terus naik, dan kemudian ujung-ujungnya dipake oleh om-om kulit putih yang hobinya kerja di garasi rumah. Emang sepatu New Balance nyaman dipake sih, apalagi kalau anda mesti berdiri berlama-lama di dalam garasi rumah.

New Balance, edisi om-om (Foto dari akun Flickr slgckgc, via)

Pilihan Turis

Ketika sebuah sepatu yang nyaman diproduksi dalam warna-warna terang yang norak, maka mereka sudah pasti akan menjadi pilihan turis. Sepatu New Balance sempat menjadi pilihan utama remaja-remaja Eropa yang mengunjungi AS dan para turis AS yang sedang ngantri untuk berfoto di dalam bilik telepon umum berwarna merah di Inggris.

New Balance yang Tidak Keren Tiba-tiba Ngetren

Di 2012, seorang blogger entah di mana mengenakan sepatu New Balance tanpa bermaksud menyinyir—ya emang dia suka aja. Makin lama makin banyak kaum muda yang ikut-ikutan membeli. Tiba-tiba New Balance jadi hip. Silakan kunjungi agensi-agensi periklanan setempat atau acara-acara musik indie untuk bukti nyatanya. New Balance telah memenangkan kapitalisme: produk mereka terjual dengan sendirinya. Mantap!

New Balance—Terlalu Percaya Diri dan Akhirnya Tumbang Karena Kebodohan

Sama seperti tren batu akik yang tidak berlangsung lama, kesuksesan New Balance pun bernasib sama. Tindakan mereka sedikit memuji Donald Trump saja sudah cukup untuk membuat massa membakar sepatu New Balance milik mereka—yang harganya tidak murah—dan kaum rasis neo-nazi mengklaim sepatu ini sebagai simbol supremasi kulit putih.

Namun tenang, masih ada harapan: masih banyak om-om di luar sana. Mereka terlalu gaptek untuk menggunakan Twitter dengan benar dan tidak tahu caranya mengakses blog-blog supremasi kulit putih. Lagian, mayoritas masyarakat tidak ambil pusing soal ginian dan akan terus memakai sepatu New Balance selagi anak-anak agensi periklanan tetap mengenakan mereka ke pop-up market terdekat.