kesehatan

Mencari Cara Memerangi Bakteri Super

Organisasi Kesehatan Dunia baru saja merilis daftar 12 bakteri paling berbahaya bagi manusia. Semoga sains segera menemukan antiobiotiknya dalam waktu dekat.
3.3.17

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Penemuan penisilin adalah salah satu kisah paling akbar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Alexander Fleming, sang penemu penisilin, mengamati bakteri tak akan tumbuh dekat cendawan yang muncul dalam cawan petri. Ternyata, cendawan tersebut adalah penecillium. Tak lama kemudian, penicillium diproses menjadi antibiotik pertama yang menyelamatkan jutaan orang dari infeksi. Masalah ini kiat mengkhawatirkan sampai-sampai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) harus memberikan peringatan, "Kita tengah menuju zaman pasca-antibiotik, ketika infeksi dan luka kecil bisa membunuh manusia lagi."

Iklan

WHO baru saja mengeluarkan—untuk pertama kalinya—daftar 12 bakteri yang menurut lembaga ini paling memerlukan penanganan antibiotik baru. Tiga Urutan teratas dihuni oleh bakteri- bakteri yang masuk kriteria "kritis". Enam bakteri di bawahnya masuk dalam prioritas tinggi dan tiga bakteri lainnya berada dalam prioritas sedang. Mulai Juli lalu, 70 pakar penyakit menular dan kesehatan umum menimbang-nimbang bahaya bakteri yang tertera dalam daftar WHO. Ukuran berbahayanya sebuah bakteri ditentukan dari seberapa kebal suatu bakteri terhadap penisilin, sesusah apa infeksi yang disebabkan oleh bakteri ditangani dan apa ada kemungkinan obat baru untuk memerangi bakter ini.

Tiga bakteri paling parah dalam daftar itu adalah Acinetobacter baumannii, Pseudomonas aeruginosa, dan Enterobacteriaceae (yang mencakup kuman yang mungkin sudah kamu kenal Salmonella dan E. coli). Ketiganya dinyatakan kebal terhadap antibiotik carbapenem, yang dianggap sebagai penanganan pamungkas terhadap infeksi. Bakteri Enterobacteriaceae uga tak mempan diobati dengan antibiotik cephalosporin.

"Tiga bakteri teratas ini adalah penyebab infeksi yang sudah disembuhkan di rumah sakit, klinik dan pasien yang menggunakan ventilator," ujar Suzanne Hill, Direktur Department of Essential Medicines and Health Products,  WHO. sampai sakarang masih belum jelas, apakah ketiga bakteri ini berkembang biak di klinik dan rumah sakit. Anda sangat mungkin membawa bakteri yang kebal antibiotik saat ini. Bakteri ini baru beraksi ketiga sistem ketahanan kita tak bisa lagi mengendalikannya—seperti saat kamu menjalani kemoterapi.

Daftar bakteri berbahaya keluaran WHO disusun untuk memandu perusahaan farmasi, institusi akademik dan pusat penelitian milik pemerintah menyiapkan antibiotik penawar infeksi. Sejauh ini, progres penemuan antibiotik baru belum bisa mengimbangi perkembangan kekebalan antibiotik. Penyebabnya sangat mudah dipahami. Pendapat yang berkembang di antara para Ilmuwan menyatakan bahwa penggunaan antibiotik yang lebay membuat bakteri makin kebal. Jadi, kalaupun nanti akhirnya obat antibiotik baru berhasil ditemukan, penggunaan tak boleh sembarangan. "Yang anda inginkan kan perusahaan farmasi membuat obat baru dan menggunakan hanya ketika diperlukan. Masalahnya, bukan begini cara kerja perusahaan farmasi." ujar Hill.

Di samping mengembangkan antibiotik baru, cara lain yang mungkin bisa ditempuh untuk menanggulangi bakteri super adalah dengan mengganti cara kita memerangi bakteri. Langkah ini mencakup penggunaan vaksi yang lebih baik dan metode baru menyeterilkan lingkungan serta mencegah patogen menyebar. Atau para ilmuwan bisa menemukan kanal baru untuk menyerang bakter di level selular—tentunya yang ini tak sendirinya ditemukan meninggalkan cawan petri terbuka di laboratorium.

"Tantangan baru bagi para ilmuwan adalah adakah cara yang bisa kita pikirkan untuk memerangi baktari karena pengetahuan kita sudah sedemikian maju dibanding ketika antibiotik pertama kali ditemukan?" kata Hill. "Temuan tersebut akan memberikan kita mekanisme dan cara baru menyasar bakteri yang lebih efektif dari yang kita punya sekarang."