Filipina

Gereja Katolik Filipina Melawan Perang Narkoba ala Duterte

Kebijakan Presiden Rodrigo Duterte menimbulkan lebih dari 7.000 korban tewas. Sebagian bahkan tidak terkait jaringan narkoba.
15 Februari 2017, 12:57pm

Segmen ini tayang di VICE News Tonight on HBO.

Perang melawan peredaran Narkoba yang dikobarkan oleh Presiden Rodrigp Duterte telah menelan korban sebanyak 7.000 nyawa sejak tahun lalu. Sebagian korban tidak terkait kasus peredaran narkoba apapun. Awalnya mayoritas warga Filipina mendukung kebijakan ekstrem ini, karena tingkat keamanan diklaim membaik.

Masalah mulai muncul, setelah seorang pengusaha asal Korea Selatan menjadi korban salah tembak oleh personel kepolisian Filipina. Duterte meminta maaf secara formal. Insiden itu memaksa Duterte menghentikan sementara perang melawan Narkoba. Nyatanya, pembunuhan orang-orang dituding sebagai pengedar masih terus terjadi.

Belakangan, Gereja Katolik dan kelompok agama lain mulai menunjukkan perlawanan. Gerakan yang digagas oleh kaum beragama ini, secara kolektif disebut 'Rise Up', bertekad membela hak azazi manusia, menyantuni para korban dan mendokumentasikan kasus-kasus pembunuhan yang terjadi selama perang terhadap Narkoba dikobarkan.

"Harusnya kita mencintai dan mengobati, bukan mengutuk atau menghukum," ujar Carmelite Father Gilbert Billena, juru bicara Rise Up group, kepada responden VICE News Seb Walker.

Gereja Katolik punya pengaruh yang kuat di Filipina. Sebelum gerakan ini terbentuk, Gereja Katolik dicecar berbagai pertanyaan karena lamban mengambil posisi soal pelanggaran HAM di balik perang narkoba itu. Tidak semua anggota gereja menolak kebijakan Duterte.

Beberapa anggota Gereja Katolik Filipina, seperti pendeta Jerry Bongcawii, tak menunjukkan keberatan atas langkah ekstrem yang diambil mantan Wali Kota Davao itu menembak mati pecandu maupun pengedar narkoba.

"Kami setuju dengan langkah yang diambil oleh Presiden karena tak ada solusi lain atas peredaran narkoba," kata Pendeta Jerry, "Tiap nyawa manusia sangat berharga, tapi bila kita melakukan perhitungan ilmiah, jumlah korban masih sangat kecil. Jika anda proporsi jutaan orang, angka 6.000 adalah angka yang kecil."