Google Searchlight

Moshing di Jantung Kancah Punk Terpanas Medan

Pitu Room menjadi denyut nadi bagi pergerakan musisi bawah tanah Sumatera Utara, baik itu punk, hardcore, hingga metal.
26.1.17

Pitu Room di Kota Medan, Sumatera Utara, nampak senyap, terlalu senyap malah, siang itu ketika kami menginjakkan kaki di sana. Hanya dalam hitungan jam, tempat nongkrong ini berubah menjadi arena mosh pit paling brutal di Tanah Sumatera.

"Tahu CBGB kan? Nah, gue ngambil konsep kayak gitu," kata Elisantus Sitorus seraya melangkahkan kaki ke dalam Pitu Room. Sore itu Santus sedang menyiapkan gig pertamanya di awal 2017. Di puncak acara beberapa band punk yang akan tampil.

Iklan

Pitu Room adalah bukti globalisasi konsep DIY dalam kancah punk. Santus sangat terinspirasi CGBG yang pernah menjadi saksi penampilan The Ramones dan Cro-Mags. Dia pun akhirnya terdorong membuat lokasi serupa, untuk menyokong aktivitas musisi lokal.

Pitu Room, yang terletak di Medan Sunggal, berangkat dari kegelisahan anak muda terhadap ruang yang sanggup menampung semua ekspresi dan kreativitas. Pitu Room didirikan pada 2010 oleh Santus, lantas menjadi sebuah pusat kesenian terutama musik bagi para anak muda Medan. "Waktu itu sangat minim tempat berapresiasi. Khususnya buat kesenian bawah tanah," ujarnya.

"Saat saya pulang dari Jakarta, saya lihat perbandingan yang kontras antara Jakarta dan Medan," kata Santus. "Padahal Medan ini kota besar. Kita mau kasih ruang para pelaku seni gratis, asal disiplin dan konsisten berkarya. Dan sekarang sudah jadi ruang kita belajar."

Sebelum ada Pitu Room, banyak band kesulitan mencari tempat manggung. Kalau pun ada itu cuma satu atau dua yang tidak bisa bertahan lama. Santus mengelola tempat itu secara mandiri. Kebetulan bangunan yang dipakai sebagai Pitu Room adalah milik orang tuanya. Kini Pitu Room menjadi rujukan bagi band-band nasional yang ingin main di Medan atau menggelar rangkaian tur.

"Tanpa ada bantuan pemerintah atau sponsor," kata Santus. "[Pemasukan] didapat dari ticketing saja." Hampir setiap akhir pekan ada saja acara musik/gig yang digelar di Pitu Room. Mulai dari pentas musik grunge, punk, hardcore bahkan metal. Pitu Room pernah menampung sekitar 500 orang dalam satu gig. Paling sepi antara 100 - 150 orang. Namun Santus menampik jika Pitu Room hanya fokus ke musik semata. Ada juga teater dan pembacaan puisi, kata Santus.

Iklan

Tak cuma biaya operasional, Santus juga masih harus merogoh kocek untuk membayar uang keramaian dan keamanan ke polisi dan pemerintah daerah. "Kita 70 persen berkesenian, 30 persen bisnis. Bisnisnya dengan menyewakan tempat ini. Uang sewanya untuk bayar listrik, air dan perawatan sound system. Bahkan kita bayar Rp 1 juta per bulan kepada kepolisian untuk izin keramaian. Saya bingung kenapa ada uang untuk mengurus izin keramaian. Padahal kita berkesenian," kata Santus.

Malam itu ada tiga band yang tampil; SPR, Fingerprint, dan Manifesto. Salah seorang personel SPR, Ben, mengaku sudah bermain di Pitu Room sejak pertama kali dibuka. "Kami cuma ingin menyuarakan sesuatu," kata Ben. "Hal kecil saja lah. Kita tahu kepala daerah di Medan sudah berapa kali yang terjerat korupsi. Salah satu yang ingin kita suarakan itu."

"Kami tidak tahu ada impact-nya atau tidak. Selagi kita merasa tidak ada kebebasan, kami akan tetap bersuara. Tapi mau didengar atau tidak, yang penting kita membangun komunitas ini," tutup Ben.