Pemilu AS

Pemilu AS Makin Kacau Usai Trump Sebar Propaganda, Pendukungnya Paksa Hitung Ulang

Tudingan kecurangan Demokrat turut disebar media-media sayap kanan Amerika. Presiden Trump gugat proses pemilihan di beberapa negara bagian, sementara Biden selangkah lagi menang pilpres.
5.11.20
Pemilu AS 2020 Trump Sebar Propaganda, Pendukungnya Paksa Hitung Ulang
Pendukung Trump menuntut hitung ulang suara karena calonnya terancam kalah dalam pemilu 2020. Foto oleh Stephanie Keith/Getty Images

Presiden Donald Trump di ambang kekalahan dalam lanjutan pemilihan umum Amerika Serikat 2020. Saat ini rivalnya, Joe Biden dari Partai Demokrat, sudah meraup 264 suara electoral college, tinggal selangkah lagi melampaui batas 270 suara untuk terpilih menjadi presiden ke-46 sepanjang sejarah AS.

Hasil perhitungan suara sementara tersebut digugat oleh Trump, dengan dasar teori konspirasi, yang kemudian diamplifikasi media-media sayap kanan, berujung pada kericuhan di beberapa TPS pada Kamis (5/11), karena massa pendukung Trump memaksakan hitung ulang.

Iklan

Trump pada Selasa malam pemilihan sempat mengklaim menang, sembari menuding ada upaya dari Partai Demokrat untuk “mencuri pemilu.” Trump secara spesifik mempertanyakan kenapa surat suara yang dikirim lewat pos selalu menguntungkan Biden. Realitasnya, menurut laporan berbagai media, mereka yang memilih ikut pemilu lewat sistem surat mayoritas adalah pendukung Demokrat yang enggan datang ke TPS di masa pandemi.

Kini, ketika hasil penghitungan sementara di negara bagian kunci seperti Michigan, Wisconsin, dan Nevada menguntungkan Biden, Trump bersama pendukungnya kembali mempersoalkan “kecurangan” dari pemilihan berbasis pos.

“Keunggulan saya di beberapa negara bagian tiba-tiba hilang begitu saja setelah surat suara misterius ikut dihitung oleh KPU,” kata Trump lewat Twitter. Dia mendesak komisi pemilihan umum menghentikan perhitungan suara, dan menganulir suara yang masuk lewat surat.

Klaim sepihak Trump direspons Twitter sebagai “informasi yang belum terbukti.” Namun sang presiden petahana terus menebar tudingan serius melihat kemungkinannya kalah dalam pilpres kali ini membesar.

Berdasar keterangan pengamat politik, tudingan Trump amat berbahaya, karena manipulatif dan penuh keterangan keliru. Suara bagi Biden bukan menguat tiba-tiba, tapi kondisi wajar mengingat pemilihan lewat pos baru bisa dihitung di hari H pemilu. Negara bagian Pennsylvania, Wisconsin, dan Michigan bahkan secara spesifik melarang KPU menghitung suara via pos sebelum pemilu ditutup.

Problemnya, tudingan Trump ditelan mentah-mentah oleh berbagai media sayap kanan yang kerap menyebar konten konspirasi. Mereka memprovokasi para pendukung Partai Republik agar memaksa TPS berhenti menghitung suara, serta menyetop upaya Demokrat “merampok pemilu.”

Rumor yang beredar amat liar, misalnya tuduhan bahwa sekitar 140 ribu suara yang masuk lewat pos di Michigan semuanya memilih Biden, dan tak satupun untuk Trump. Ada juga rumor bahwa suara untuk Trump di Kota Phoenix, Arizona, sengaja tak dihitung. Akibat rumor konspiratif macam itu, pada Kamis (5/11) dini hari waktu setempat, sekitar 200-an pendukung Trump yang sebagian bersenjata, mengepung kantor KPU, menuntut penghitungan ulang.

Pembawa acara radio sayap kanan, Steve Deace, turut menuding Biden menjalankan taktik diktator Venezuela Hugo Chavez dalam memanipulasi hasil pemilu. “Yang dilakuan tim Biden dan Partai Demokrat adalah kudeta terhadap pemerintahan sah di Amerika,” kata Deace lewat twitnya.

Realitasnya, Biden memang unggul telak berkat surat suara yang masuk lewat pos. Di Michigan, Biden unggul lebih dari 100 ribu suara berkat dukungan pos. Demikian pula di Pennsylvania dan Wisconsin, menunjukkan keunggulan Biden hingga selisih 20 ribuan suara berkat tambahan dukungan yang masuk lewat pos. Biden saat ini memperoleh 70,5 juta dukungan, terbanyak sepanjang sejarah pemilu Amerika Serikat.

Merespons gugatan dari kubu Trump, para pendukung Biden ikut menggelar demonstrasi di beberapa negara bagian kunci. Mereka meyakinkan KPU setempat untuk terus melanjutkan perhitungan suara.

Tak semua anggota Partai Republik menyetujui tudingan Trump dan pendukungnya. Scott Walker, mantan gubernur Wisconsin dari partai Republik, menilai selisih suara yang ada sekarang tak memungkinkan terjadinya manipulasi. Bahkan jika dilakukan proses hitung ulang.

“Menurut saya, selisih 20.000 suara tidak akan berubah,” kata Walker. 

Saat ini, tim kampanye Trump bersiap mengajukan gugatan resmi untuk meminta hitung ulang di beberapa negara bagian kunci ke Mahkamah Agung. Menurut juru kampanye Trump, Bill Stepien, pihaknya menemukan kejanggalan yang layak jadi dasar gugatan hitung ulang.

Adapun Biden tak menyatakan sudah menang saat menggelar jumpa pers, namun dia meyakini dirinya sudah “berada dalam jalur yang tepat untuk mengalahkan Trump dalam pemilu 2020.”

Sistem pemilu AS memang agak berbeda, karena tidak berdasar dukungan terbanyak, melainkan perwakilan negara bagian (electoral college) disusun sesuai proporsi penduduk, didasarkan pada calon yang unggul mayoritas suara di wilayah tersebut. Jadi, katakanlah di Michigan tersedia 16 electoral college, semua angka itu akan masuk ke Biden hanya karena dia mendapat suara mayoritas, sekalipun Trump meraup dukungan tidak sedikit dari pemilih setempat.