kesehatan

Kebiasaan Nonton TV Sambil Nge-scroll Instagram Tak Bagus buat Ingatan Kita

Penelitian mengindikasikan kalau aktivitas ‘media multitasking’ berisiko memperlemah kerja otak, sehingga kita jadi gampang lupa.
2.11.20
Lelaki menghadap laptop sedang memegang HP

Berbagai studi telah menunjukkan betapa tidak efisiennya mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Alih-alih membuat kita lebih cepat menyelesaikan tugas,  tindakan multitasking justru dapat mengurangi produktivitas dan memperlambat tempo bekerja. Siapa sangka, kebiasaanku membuka banyak tab saat menjelajah internet atau menonton Netflix sekaligus TikTok juga bisa memengaruhi kemampuan memori.

Temuan tersebut diungkapkan oleh ilmuwan Stanford Memory Lab Kevin Madore dalam penelitian terbarunya. Dia menjelaskan “media multitasking” atau mengonsumsi media dalam jumlah besar pada satu waktu dapat menyebabkan kegagalan memori. Seseorang yang hobi gonta-ganti aplikasi atau media digital cenderung memiliki penyimpangan memori (memory lapse) dan tak mampu mengingat peristiwa tertentu.

Dalam pengujiannya, peneliti mengukur aktivitas otak dan pelebaran pupil 80 responden berusia 18-26 dengan menggunakan elektroensefalografi (EEG) dan pupillometry. Para peserta diminta melihat-lihat serangkaian gambar di layar HP dan menilai seberapa mereka menyukainya. Setelah istirahat 10 menit, mereka akan lanjut menyaksikan foto-foto lain. Peserta lalu diminta menentukan apakah gambarnya sudah pernah atau baru sekarang mereka lihat. Banyak gambar yang diubah selama eksperimen berlangsung.

Setelah itu, peserta harus mengisi kuesioner yang mengukur perhatian mereka sehari-hari dan seberapa sering melakukan multitasking. Mereka diukur kemampuan ber-multitasking dalam waktu satu jam.

Iklan

Peneliti menemukan peserta yang sering beralih dari satu media ke media lain cenderung lebih banyak menunjukkan penyimpangan memori dibandingkan dengan yang tidak. Aktivitas otak dan perubahan diameter pupil selama eksperimen membuktikan ini.

Penyimpangan yang terjadi sebelum peserta disuruh mengingat gambar juga diikuti dengan peningkatan kecenderungan melupakan gambar sebelumnya. Ini adalah studi pertama yang mengidentifikasi di mana titik penyimpangannya terjadi, yakni sebelum atau selama mengembalikan ingatan.

Peneliti menekankan temuan mereka menunjukkan korelasi dan bukan sebab-akibat, sehingga diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan penyebabnya — apakah media multitasking benar-benar bikin orang mudah lupa atau orang yang gampang lupa lebih cenderung melakukan multitasking.

Studi terdahulu bahkan menemukan perempuan yang merasa rumahnya “berantakan” dan “memiliki banyak tugas yang belum diselesaikan” lebih mungkin menunjukkan tanda-tanda depresi dan mengalami lonjakan hormon kortisol yang dapat menyebabkan stres.

Follow Varsha di Instagram.