Hiburan

Ada Alasan ilmiah Lagu-Lagu Jelek Lebih Enak Didengar Sambil Jogging

Kami bertanya ke pakar, untuk mencari penyebab musik DJ Gagak atau Pitbull membantu meningkatkan performa kebugaran ketika lari.
Ashwin Rodrigues
Brooklyn, US
20.4.20
Lagu-Lagu Pop dan techno Jelek Lebih Enak Didengar Sambil Jogging
Ilustrasi lari sambil mendengar musik via Getty Images & Shutterstock 

Banyak orang mulai mencoba hobi dan kebiasaan baru di rumah. Bukan karena alasan peningkatan diri, tapi lebih sebagai upaya untuk menekan penyebaran virus corona. Sebagai upaya menjaga kebugaran, dan akibat tekanan sosial dari teman-teman yang mencoba tantangan lari 48 kilometer sebulan, saya mulai mencoba jogging lagi. Ya lumayanlah sebagai aktivitas tambahan ketika saya enggak di depan komputer, memasak, atau tidur.

Iklan

Ketika berolahraga, saya terbiasa harus sambil mendengarkan sesuatu. Tidak harus selalu jenis musik yang sama sih. Untuk kegiatan yang tidak perlu otak, seperti olahraga stamina atau mesin rowing, saya sering mendengarkan audiobook atau podcast. Untuk angkat beban, saya punya playlist 14 jam bertemakan rap/hip hop. Tapi ketika jogging atau lari, saya justru memilih musik jelek yang biasanya tidak saya dengarkan. Misalnya, ketika mendengar hook lagu “Diva” dari The Kid LAROI yang simpel dan ngepop banget. Saya sampai mendengarkan lagu tersebut puluhan kali selama jogging akhir-akhir ini.

Demi mencari jawaban di balik fenomena ini, saya memulai investigasi kecil-kecilan. Saya sudah yakin bukan satu-satunya yang mengalami hal ini: beberapa tahun yang lalu, kedua adik perempuan saya malu mengakui playlist jogging mereka. Ini bukan akibat genetik juga lho, karena seorang rekan kerja saya pun pernah mengakui bahwa lagu-lagu jogging pilihannya semuanya sampah (kata saya, bukan dia) dan tidak akan pernah menyingkap playlistnya dengan saya (sentimen dia, bukan saya.)

Edith Van Dyck, peneliti dari Ghent University di Belgia, yang memiliki gelar Ph.D bidang musikologi, pernah menulis paper tentang efek musik terhadap performa jogging seseorang. Dia menerbitkan naskahnya pada 2016 di Jurnal Annas of Sports Medicine and Research yang fokus mengkaji "ergogenik", alias efek peningkatan performa lari dari musik.

Iklan

Van Dyck menjelaskan pada VICE, bahwa "selera musik bergantung pada kepribadian, mood, waktu, umur ketika kamu pertama kali mendengarkan musik tersebut." Sehingga sulit menjelaskan secara pukul rata mengapa sebuah lagu bisa menjadi lagu jogging ideal bagi seseorang. Tapi ada pedoman yang bisa digunakan. Ada penelitian yang menyatakan orang cenderung menyukai melodi yang pernah mereka dengar sebelumnya, dan "tempo cepat, ritme biner, beat yang jelas, dan volume tinggi," beserta dengan "melodi yang mudah ditangkap telinga" bisa meningkatkan performa dan mengalihkan perhatian dari rasa sakit dan lelah ketika berlari.

Contoh terbaik dari fenomena ini adalah Haile Gebrselassie, pelari asal Etiopia yang memecahkan rekor 10.000 meter sambil mendengarkan musik Scatman. Peristiwa ini jugalah yang digunakan sebagai referensi dalam naskahnya tadi.

"Rata-rata, kita bisa mengatakan dalam jogging/lari, musik berfungsi sebagai 1) motivator dan 2) pengalih perhatian (dari rasa sakit, lelah,…)," kata Van Dyck ke VICE lewat email.

"Musik yang mudah diikuti beatnya, juga menguntungkan bagi beberapa orang (bisa membantu menjaga kecepatan berlari secara tetap, dan juga memiliki efek psikologis seakan kamu didukung oleh musiknya," ujar Van Dyck.

Van Dyck menyadari selera musik tentunya sangat subyektif, dan selera musik penemani kegiatan berolahraga pun sama: ada yang lebih suka musik pelan, atau podcast, atau bahkan tidak ditemani suara apapun.

Iklan

Sementara Jasmin C. Hutchinson, Ph.D dan profesor di Springfield College, dari Departemen Sains Olahraga dan Pelatihan Atletik, juga mempelajari efek musik terhadap jogging. Dia menulis artikel di Journal of American Medical Athletic Association berjudul "Running With Music (Berlari Bersama Musik)." Dia mendengarkan lagu “Diva” yang saya kirim ke dia.

"Sebetulnya lagunya ga jelek-jelek banget," ujar Dr. Hutchinson. "Tapi memang saya enggak akan dengerin lagu kayak gini setiap hari, tapi saya mengerti kenapa lagunya cocok buat lari."

Saya menjelaskan bagaimana hook lagu “Diva” terngiang-ngiang di kepala saya semenjak pertama kali mendengar. Ketika sedang lari, saya menunggu-nunggu bagian hook-nya, bagai menantikan sushi kesayangan menghampiri saya di ban berjalan restoran sushi. Fenomena psikologis ini disebut "segmentasi", menurut Hutchinson.

"Otak kita suka memprediksi, dan rasanya enak ketika prediksi otak kita benar. Jadi kita mencari ritme dan pola. Kalau kamu bisa memprediksi sebuah hook atau beat drop datang, dan benar-benar kejadian, otak kamu merasa sangat puas," ujarnya.

Saya menjelaskan bagaimana lagu tersebut dan selera saya ketika memilih lagu untuk lari sebagai "musik fast food", yang dalam keadaan biasa tidak akan saya dengarkan. "Persepsi akan beat atau tempo musik memang rendah posisinya dalam fungsi otak," ujar Dr. Hutchinson, dan tenaga otaknya sendiri sudah terpakai untuk kegiatan berlari, dan mencegah otak untuk memikirkan hal-hal yang lebih berat seperti aktualisasi diri.

Hutchinson juga menyebutkan bahwa musik dengan tema lirik yang “menyebalkan” justru bisa mendorong pendengar untuk merasa lebih terpacu karena kesal, yang tentunya membantu dalam konteks olahraga. Dalam kasus Hutchinson sendiri, dia kadang mendengarkan Eminem ketika berlari, terutama lagu seperti "Till I Collapse", lagunya Eminem yang sangat cocok untuk kegiatan angkat beban. Lagu-lagu dengan "tempo repetitif yang kuat" sangat ideal untuk gerakan-gerakan koordinasi, dan contohnya kata dia, "dengarkan saja lagu Pitbull yang mana saja."

Biarpun selera musik sangat subjektif, ada kriteria-kriteria objektif yang bisa digunakan. Dr. Hutchinson merekomendasikan lagu-lagu dengan 130 BPM (beat per menit). Tempo ini sesuai dengan tempo banyak pelari. Kebetulan, lagu-lagu David Guetta rata-rata 130 BPM, ujarnya, dan menampilkan banyak penyanyi terkenal di bagian chorus, yang tentunya membuat otak kita mengantisipasi hook catchy tersebut. Ini juga memberi kredibilitas ke teori saya bahwa musik jelek justru cocok buat lari, kecuali kalau kamu emang ngefans sama David Guetta.

Guna menguji lebih jauh teori “musik jelek bagus buat lari” saya, saya mengikuti jejak Haile Gebrselassie. Menggunakan jarak 1,6 kilometer yang dimulai dan berakhir di apartemen saya, saya menyiapkan lagu "Scatman" di ponsel, lantas mulai berlari.

Saya mencatat rekor lima belas detik lebih cepat dibanding rekor saya sebelumnya, dan mengakhiri eksperimen saya dengan rasa hormat baru untuk mendiang Scatman John. Saya tidak akan pernah mendengarkan lagu itu lagi atas kemauan sendiri, tapi yang lebih penting, kini saya merasa tidak bersalah mengisi playlist lari saya dengan musik-musik jelek.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard