Robot di Belanda Ini Dikendalikan Manusia Lewat Dubur

Dalam seni pertunjukan “B-hind”, seniman Dani Ploeger menggunakan probe anal yang telah diretas untuk menggerakkan robot dengan sfingter-nya.
4.3.20
Pantat Dani Ploeger
Tangkapan layar via Vimeo

Seorang seniman di Belanda mengklaim bisa mengendalikan robot dengan sfingter.

“B-hind mengajak semua untuk lebih mengandalkan otot sfingter dalam kehidupan sehari-hari,” menurut deskripsi acara pembukaan pameran seni B-hind pada 7 Februari di Rotterdam. “Sistem antarmuka yang ditenagai elektroda anal menggantikan peran interaksi perangkat berbasis tangan dan suara. Dengan teknologi ini, orang-orang dapat mengendalikan alat digital canggih dari bagian dalam tubuh.” Wow, oke!

Organisasi V2_, Lab for the Unstable Media di Rotterdam, dan In4Art menantang para seniman untuk menciptakan kembali karya yang sebelumnya dihosting V2_ dengan cara mereka masing-masing.

‘B-hind’ besutan Dani Ploeger adalah pameran pertama yang terinspirasi oleh seni pertunjukan Stelarc pada 1994. Karya Stelarc mengusung gagasan tubuh manusia sudah usang.

Dalam “Amplified Body”, Stelarc menghubungkan dirinya dengan robot medis dan perangkat keras lain yang dikendalikan impuls listrik di dalam otot. Dia tidak memasukkan apa-apa ke anus.

Ploeger menjelaskan dalam situs pribadinya, untuk proyek B-hind dia meretas probe elektroda anal Anuform yang tersedia secara komersial (alat “perangsang otot sfingter dan dasar panggul agar lebih kuat”, menurut situs resmi Anuform) hingga dapat mengikuti kontraksi sfingternya. Otot ini akan memberikan perintah kepada robot kecil bernama Keecker.

1583312091652-performance-1

Ploeger mendemonstrasikan cara kerja alat untuk mengendalikan robot. Foto oleh Fenna de Jong.

Dalam acara pembukaan B-hind, Ploeger menjelaskan cara kerja alat ini pada robot. Video lubang anusnya terpampang besar-besar di tembok galeri.

Ditampilkan pada 2011, karya Ploeger sebelumnya ‘Electrode’ menggunakan jenis elektroda anal yang sama untuk memutar lagu.

1583312110760-performance-2

Ploeger mendemonstrasikan cara kerja alat untuk mengendalikan robot. Foto oleh Fenna de Jong.

Menurut laman proyek B-hind, suara menggelegar di ruangan selama pameran berasal dari anus yang sudah terhubung robot—mirip seperti proyek sebelumnya. “Peragaan ulang akan diambil dari sampel rekaman proses tubuh (misalnya detak jantung, aliran darah, dan kontraksi otot),” tulis Ploeger. “Dengan demikian, suaranya akan fokus pada kebasahan dan fleshy-ness tubuh manusia dalam interaksinya dengan perangkat teknologi.”

Ploeger mengatakan respons yang diterima “beragam”.

“Ada semacam ketidakjelasan dan kebingungan,” tuturnya. “Beberapa bertanya produknya sudah lewat fase prototipe atau belum, atau sudah laku berapa. Seorang kolektor seni membeli elektroda terbungkus tapi sudah ketempelan tinja… Beberapa langsung pergi karena jijik… Dua orang kepingin mencobanya sendiri setelah melihat pitch-nya.”

Respons kalian terhadap proyek B-hind menunjukkan siapa dirimu sebenarnya, bukan apa yang dilakukan Ploeger dengan anusnya.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.