Semenjak virus corona dideklarasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi global, dan lebih dari 100 negara berjuang menahan derasnya laju penyebaran virus ini, Italia menjadi negara dengan angka positif corona tertinggi di luar Tiongkok. Meskipun pemerintah terus mencoba menjinakkan virus ini, angka kematian dan infeksi meroket dan rumah sakit berada dalam tekanan luar biasa.Pada 10 Maret, salah satu negara yang paling ekstrem merespons pandemi ini adalah pemerintah Italia. Negeri Pizza menerapkan karantina nasional (lockdown) dan menutup semua toko kecuali farmasi dan supermarket. Bar, restoran, kelab malam tidak diperbolehkan beroperasi. Sekolah, acara publik, dan perkumpulan juga ditiadakan dan semua bisnis diminta menutup departemen yang tidak esensial. Lewat sebuah pidato yang ditayangkan di televisi, Perdana Menteri Guiseppe Conte merangkum sikap negara dalam menangani virus lewat sebuah kalimat sederhana: “Saya tidak akan keluar rumah.”
Iklan
Tapi banyak orang tidak mengikuti imbauan ini. Ketika pihak pemerintah menghimbau warga untuk tetap tenang, ribuan orang justru menyerbu supermarket, menimbun makanan dan produk kebersihan. Alih-alih tinggal di rumah, orang-orang justru mengadakan pesta di rumah dan nongkrong di restoran dan bar yang harusnya tutup. Pemerintah Italia akhirnya mengirim beberapa unit militer di jalan-jalan utama untuk mendenda atau bahkan memenjarakan orang-orang yang keluar rumah tanpa alasan jelas, tapi ternyata banyak juga yang lolos. Sabtu lalu, 14 Maret, banyak kota yang menutup taman-taman umum karena banyak sekali orang yang nongkrong di situ.Kenapa sih warga Italia susah banget mematuhi peraturan demi kebaikan mereka sendiri? Apakah kita manusia memang pada dasarnya brengsek, atau memang tidak suka diatur? Di banyak negara, tindakan warga enggan mematuhi imbauan social distancing, kerja dari rumah, atau jangan menimbun masker masih saja terjadi. Termasuk di Indonesia.Saya menghubungi Renato Troffa, profesor psikologi sosial dari University of Cagliari di Sardinia untuk meminta penjelasan.
"Persepsi risiko oelh massa adalah fenomena yang rumit," ujar Professor Troffa. "'Pembentuk sudut pandang' individual seperti latar belakang sosial dan lingkungan, berdampak besar ke bagaimana kita menyikapi risiko. “Apakah kamu percaya dengan pemerintah? Apa orang-orang di sekitarmu khawatir juga? Semua ini faktor berpengaruh."
Iklan
Orang mengevaluasi risiko berdasarkan tiga hal: seberapa besar kemungkinan yang ditakutkan terjadi, kemampuan kita untuk mengendalikannya, dan seberapa besar dampak dari kejadian tersebut. Kita mengevaluasi menggunakan sumber informasi yang tersentralisasi, seperti berita atau data objektif, tapi juga faktor-faktor lingkungan, seperti perilaku orang di sekitar kita."Kalau kamu memang tertarik atau ahli dalam sebuah topik, kemungkinan kamu akan mengikuti faktor yang pertama," ujar Profesor Troffa. Tapi di luar itu, kemungkinan kamu akan mengikuti perilaku orang-orang di sekitar, dan merespons sama dengan bagaimana orang di sekitarmu merespons kejadian. Ini bahkan lebih nyata lagi ketika informasinya terus berubah.Jadi apabila teman-temanmu merasa tidak apa-apa untuk keluar rumah di tengah sebuah pandemi global, kemungkinan besar kamu akan memiliki sikap yang sama. “Tentu bukan berarti orang-orang ini tidak takut sama sekali,” ujarnya. “Ada rasa takut akan dihakimi.” Ini menjelaskan kenapa seseorang memutuskan untuk keluar rumah biarpun mereka sebetulnya ragu-ragu—karena takut dikucilkan teman-temannya.Otak kita punya kecenderungan untuk mencari dan menjadi bagian dari sebuah komunitas. Seperti yang dijelaskan Profesor Troffa, seringkali kita lebih mempercayai orang yang kita tahu dan hormati dibanding data empiris. "Ini semakin rumit ketika kita tidak punya kendali sepenuhnya; apabila semua teman kantor tidak kerja di rumah, kemungkinan kita juga akan masuk kantor karena takut akan berdampak negatif ke karier."
Iklan
Kita juga cenderung meremehkan risiko apabila harga yang harus dibayar berhubungan dengan kebiasaan dan rutinitas hidup. "Ketika informasinya masih rancu, seperti dalam beberapa minggu terakhir," lanjut Troffa, "kita cenderung berusaha meminimalisasi risikonya."Orang ingin menyakini bahwa tidak ada yang harus berubah, karena mereka tidak ingin mengubah gaya hidup mereka. Ini semakin nyata ketika kebebasan personal kita diancam, misalnya kebebasan untuk pergi keluar, nongkrong di bar dan minum-minum. “Ketika kita merasa dibatasi, kebebasan menjadi prioritas utama,” ujarnya.Biarpun menyerbu supermarket tentunya tidak sama dengan mengadakan pesta, keduanya bisa dibilang respons yang tidak rasional. "Ketika saya bilang tindakannya tidak rasional, saya bukan menghakimi," ujar sang profesor, menambahkan bahwa dua-duanya masuk dalam kategori “optimisme tak berdasar”. Menyerbu supermarket, misalnya, dipengaruhi oleh ‘sudut pandang’ mereka bahwa membeli banyak makanan akan mengurangi risiko terinfeksi virus corona; sementara mengadakan pesta, dipengaruhi oleh ‘sudut pandang’ bahwa mereka tidak perlu merubah gaya hidup, nanti juga virusnya pergi sendiri.”Profesor Troffa bilang, tindakan mempermalukan orang-orang ini bahkan tidak akan mengubah sikap tidak bertanggung jawab mereka, mengingat “orang tidak suka kehilangan rasa percaya diri dan status sosial mereka” dan kemungkinan besar akan memberontak. Jadi pemerintah harusnya bagaimana dong? Dia menyarankan pendekatan yang lebih holistik.Misalnya, bekerja di rumah jelas tidak lazim di negara manapun. Tapi apabila pakar dan pemerintah menjadikannya sebuah mandat, alih-alih sekedar himbauan, harusnya ini lebih ditaati oleh masyarakat. Berempati dengan tindakan “tidak rasional” memang sulit, tapi ini bisa menjadi faktor kunci dalam upaya kita melawan pandemi global ini.Follow Niccolò di Instagram.Artikel ini pertama kali tayang di VICE Italia
