Iklan Terselubung

Selebgram Tak Lagi Diizinkan Promosi Vape dan Senjata di Instagram

Medsos milik Facebook itu memblokir semua tampilan konten dan produk yang dianggap berbahaya bagi pengguna. Selanjutnya alkohol dan suplemen kesehatan yang akan dibatasi.
30.12.19
Selebgram Dilarang Promosi Vape dan Senjata di Instagram
Ilustrasi lelaki mengisap rokok elektrik atau vape via Getty Images.

Sekalipun berbagai penelitian menyebut pengaruh influencer medsos tak lagi sekuat dua tahun lalu dalam mempengaruhi perilaku konsumen, tapi mereka tetap efektif mempromosikan suatu barang. Lihat tuh, skincare atau sabun cuci muka tertentu yang laris setelah beauty vlogger mengulasnya di IG mereka. Begitu pula ternyata untuk penjualan rokok elektrik (vape) serta senjata—mulai dari pisau hingga senjata api seperti senapan dan pistol (terutama di Amerika Serikat).

Iklan

Instagram, sebagai salah satu platform media sosial terbesar sedunia, menganggap selebgram tak boleh dibiarkan bebas mempromosikan semua jenis barang. Alhasil pekan lalu, Facebook—sebagai pemilik saham terbesar Instagram—mengumumkan larangan penayangan iklan "semua barang berbahaya, mencakup vape, rokok, dan berbagai jenis senjata."

Merujuk laporan Axios, keputusan ini akan berdampak sangat besar, karena menyasar promosi para influencer atau selebgram. "Untuk pertama kalinya konten sponsor memanfaatkan influencer mulai dibatasi praktiknya," demikian kata redaksi Axios.

Selain pembatasan iklan rokok, vape, dan senjata, Facebook menyatakan pada 2020 akan ada "pembatasan khusus" untuk promosi alkohol, suplemen kesehatan, dan barang-barang yang butuh regulasi BPOM lainnya. Produk semacam itu hanya akan bisa dilihat oleh audiens di rentang usia tertentu.

Kebijakan ini ditempuh manajemen Instagram, setelah muncul laporan kalau anak muda pengguna platform mereka lebih rentan dipengaruhi konten influener. Termasuk untuk pemasaran produk-produk yang membahayakan kesehatan mereka, seperti vape ataupun rokok. "Harus diingat, Instagram lebih sukses dibanding Facebook menjangkau demografi anak muda di berbagai negara," kata Sarah Fried dalam opininya yang dimuat Bloomberg. "Audiens muda kadang tak menyadari kalau produk yang dipromosikan selebgram mereka berbahaya."

Kebijakan Instagram ini juga dipicu oleh skandal yang menimpa produsen vape JUUL awal 2019. Komisi Persaingan Usaha Amerika Serikat (UFTC) menjatuhkan sanksi pada JUUL, karena sengaja menghabiskan dana iklan US$200 ribu untuk membayar ratusan influencer, untuk menjual produknya ke anak muda.

Padahal, JUUL membangun reputasi perusahaan sebagai alternatif nikotin agar perokok bisa berhenti. Tapi nyatanya mereka justru menarget anak muda, sama seperti bisnis rokok konvensional dan laporan menunjukkan vape juga memicu risiko kesehatan seperti rokok.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D