Suka Duka Tinggal Serumah dengan Selebgram

“Dia sok jadi motivator di Instagram, padahal biaya sewa rumah masih ditanggung orang tuanya.”
24.10.20
Ilustrasi foto makanan di Instagram
Ilustrasi: Helen Frost

Tinggal satu kos bareng teman atau orang lain sudah menjadi pilihan paling hemat biaya bagi yang hidup pas-pasan di kota besar. Sayangnya, enggak sedikit yang menyadari belakangan teman satu kos mereka sebenarnya rese, nyusahin dan enggak seasyik kesan awal.

Mereka mungkin jorok, suka mengadu yang aneh-aneh ke ibu kos, atau hobi ngomong keras-keras di saat kalian sedang sibuk. Dan di zaman “apapun demi konten” seperti sekarang ini, tipe teman satu kos menyebalkan sudah merambah ke dunia influencer segala.

Kalau cowok-cowok saja sering mengeluh cuma jadi tukang foto pacar, coba bayangkan betapa menjengkelkannya kalau abang paket bolak-balik mengantarkan barang endorse milik mereka, atau teman serumah sok lagi liburan padahal fotonya diedit habis-habisan. Mungkin rasanya kayak masuk neraka dunia kali, ya?

Lima orang malang ini bercerita kepada VICE seputar pengalaman mereka tinggal satu atap dengan influencer.

‘Dia sebenarnya ada di rumah, tapi Story IG-nya seolah-olah lagi liburan ke Yunani.’

“Aku awalnya enggak tahu dia influencer Instagram. Kami bahkan baru kenalan setelah aku melihat iklannya di SpareRoom. Kesan awalku saat pindah ke kosannya, ‘Wow, badannya bagus banget. Kulitnya juga mulus.’ Tapi anehnya, dia enggak memiliki pekerjaan tetap dan biaya sewa masih ditanggung orang tua. Aku baru tahu kalau ternyata dia menawarkan jasa life coach ke ratusan ribu pengikutnya.

“Dia sering posting foto menginap di hotel mewah, tapi memasukkan lokasi ‘home sweet home’. Pernah juga mengunggah foto makan malam di Yunani, padahal dia lagi di rumah dan memasak makanannya sendiri. Dia memang pernah ke Yunani, tapi itu pun cuma liburan seminggu. Bukan pesta sebulan penuh seperti yang dipamerkan di Instagram.

“Kayaknya hampir 90 persen postingan dia palsu. Profil Instagram-nya memberikan kesan dia lelaki kaya yang hobi berkeliling dunia dan memiliki rumah megah. Padahal itu semua berlebihan.

“Foto-foto dirinya pun sering diedit.” — Theo, 28 tahun, London

‘Gara-gara dia, aku jadi terobsesi merapikan feed IG.’

“Dia terlalu ketergantungan fast-fashion, dan sering menyogokku supaya mau melakukan permintaannya. Sekarang saja, stok makeup gratis yang dia berikan kepadaku masih banyak banget. Kerjaannya setiap hari cuma menonton TV dan main HP. Dia baru bergerak kalau mau nge-gym. Selama ini, aku mengira hidup influencer sangat glamor dan fancy. Padahal ada juga yang nyewa kos-kosan murah kayak temanku. Aku yakin orang bakalan kaget kalau mereka tahu kebenarannya.

“Dia sering meminjam bajuku, dan meminta bantuan memilih outfit. Dia juga rajin menyuruhku membuat caption. Aku harus memfotonya setiap kami pergi keluar bareng. Lama-lama aku memanfaatkan waktu main bareng sama dia untuk hunting foto bagus. Aku baru sadar ikutan terobsesi merapikan feed IG setelah balik ke Manchester.” — Fatima, 24 tahun, Manchester

‘Dia menggalang dana untuk membayar kos dan tagihan.’

“Kami tinggal bersama sekitar 2013 atau 2014 lalu. Dunia influencer pada saat itu belum sebesar sekarang. Aku kenal dia dari teman, dan sempat mengira dia orangnya asyik. Siapa sangka tinggal satu kosan dengannya menjadi masa-masa terburuk dalam hidupku. Pernah suatu hari dia mewarnai rambut, dan cat hijaunya terciprat ke mana-mana. Aku menggosok bekas cat setiap hari sampai bersih, karena takut penyewa enggak mau mengembalikan deposit kalau melihat kondisi sebenarnya. Dia model Instagram, tapi kamarnya super jorok.

“Dia memiliki 250.000 pengikut waktu itu, dan bukan tipe model yang sering di-endorse. Yang dia lakukan justru aktif berinteraksi dengan pengikut, dan sebagai imbalan, dia menerima hadiah dari mereka. Dia enggak punya penghasilan tetap, jadi dia membuat wishlist barang apa saja yang diinginkan. Sampai pindah ke kosan sekalipun ada wishlist-nya. Hanya saja, hadiah yang diterima enggak penting sama sekali. Ruang tamu kosan penuh dengan paketnya. Dia bahkan menyogokku untuk mengambilkan paketnya. Ada kali 10-20 kiriman yang datang setiap minggu.

“Suatu hari, dia mengalami kecelakaan saat nge-vlog buat YouTube. Dia menggalang dana, tapi uangnya untuk membayar sewa kosan dan tagihan. Dia enggak bisa mengelola uang. Dia juga enggak punya rekening, jadi ‘donasi’ penggemar dikirim ke akun PayPal milikku. Aku bahkan membuatkannya CV dan mengurus keuangannya.” — Evie-May, 26 tahun, London

‘Aku kaget dia sering menolak endorse.’

“Enggak pernah ada masalah karena dia teman baikku. Dia seorang micro-influencer yang bikin konten cuma untuk menambah penghasilan saja. Aku orang terdekatnya selama karantina, jadi aku sering mengambil fotonya di rumah.

“Yang paling mengejutkan adalah dia sering menolak endorse. Selama ini, aku mengira influencer akan menerima tawaran iklan apa saja. Kita sebaiknya berhenti menyepelekan mereka karena influencer tak ada bedanya dari manusia lain yang membutuhkan uang. Ya, memang enggak semua influencer menyenangkan seperti temanku, tapi sekarang aku enggak mau asal merendahkan selebgram. Tinggal bersamanya menyadarkanku profesi ini lebih bernuansa daripada yang orang-orang kira.” — Millie, 24 tahun, London

‘Dia enggak bisa diajak ngapa-ngapain usai mengunggah foto.’

“Saudara perempuanku influencer paruh waktu, dan aku tidak menyukai profesi ini karena memopulerkan fast fashion.

“Dia bisa veneer gigi gratis, tapi enggak pernah mau menerima tawaran filler bibir. Dia hanya mengiklankan apa yang diinginkan saja. Dia sering dikirim sepatu baru buat di-endorse. Setelah foto-foto, dia menjualnya ke Depop atau memberikannya secara cuma-cuma ke kenalan. Tukang hias kuku langganan bahkan sering dikasih barang gratisan. Pokoknya dia sangat murah hati.

“Bikin konten sudah menjadi bagian dari hidupnya. Setiap minggu, pasti ada saja waktunya buat foto-foto. Dia berdandan, mengenakan pakaian bagus dan memasang ekstensi rambut untuk ‘bekerja’. Dia juga merencanakan mau melakukan dan memakai apa saja sebelum kencan dengan pacarnya.

“Hubungan kami sejauh ini baik-baik saja. Dia paling bete kalau foto yang aku jepret kurang bagus. Aku hanya mengkhawatirkan kepercayaan dirinya. Menurutku dia sudah cantik, tapi saudaraku tetap minder kalau fotonya dirasa kurang oke.

“Dia enggak bisa diajak ngobrol atau pergi setelah mengunggah foto karena harus menjawab komentar demi ‘engagement.’” — Jenny, 23 tahun, Brighton

@thediyora