Kecelakaan Pesawat

Menteri Pakistan Tuding Pesawat Jatuh di Negaranya Akibat Pilot Sibuk Diskusi Corona

Kejadian yang dimaksud adalah saat sebuah pesawat jatuh di Karachi pada Mei 2020. Sang menteri perhubungan juga mengakui 40 persen pilot di negara tersebut memalsukan sertifikat terbang.
SJ
Mumbai, India
26.6.20
Pesawat Jatuh di Pakistan Mei 2020 akibat pilot sibuk diskusi corona
Petugas memeriksa TKP jatuhnya pesawat maskapai PIA di kawasan padat penduduk di Karachi pada 24 Mei 2020. Foto oleh Asif Hassan / AFP

Penyelidikan awal dari otoritas penerbangan Pakistan menyalahkan pilot atas jatuhnya pesawat di Ibu Kota Karachi pada Mei 2020. Diduga kuat, pilot maupun kopilot terdistraksi dari tugasnya karena sibuk berdiskusi soal penyebaran virus Covid-19, atau populer dijuluki virus corona.

Pesawat milik Pakistan International Airline (PIA) jatuh di kawasan pemukiman padat Karachi pada 22 Mei lalu, menewaskan 98 orang. Pilot dan kopilot turut tewas dalam insiden yang terjadi saat pesawat hendak mendarat tersebut; hanya dua penumpang selamat. Selain penumpang, korban tewas adalah tiga warga di pemukiman tersebut, mencakup seorang gadis 12 tahun. Insiden ini turut merusak 29 rumah penduduk.

Dalam rapat dengar pendapat dengan parlemen pada 24 Juni lalu, Menteri Perhubungan Pakistan Ghulam Sarwar Khan menyatakan ada rekaman kokpit yang menunjukkan kedua pilot tidak fokus pada tugasnya mendaratkan pesawat dalam mode manual. "Keduanya ngobrol soal penularan corona selama proses pendaratan yang seharusnya sangat krusial," kata Khan. "Pikiran mereka tertuju pada keluarga yang tertular virus tersebut dan bukan pada tugas yang sedang dijalankan."

Pesawat ini sedang melakukan upaya pendaratan kedua kali, setelah sebelumnya pesawat terpaksa naik kembali. Dalam prosesnya, ada kegagalan mesin, sehingga pesawat akhirnya tergelincir dari landas pacu, lalu menabrak belasan rumah di kawasan tak jauh dari bandara internasional Karachi.

Tim investigasi terdiri atas perwakilan pemerintah Pakistan, pemerintah Prancis, serta praktisi industri. Kesimpulan soal pilot yang terdistraksi didapat dari rekaman kokpit. Laporan lengkap analisis kotak hitam diperkirakan pemerintah Pakistan bisa mereka rilis akhir 2020.

Data lain dari menara pemantau lalu lintas bandara memperkuat indikasi bila pilot lalai dalam tugasnya. Kedua pilot sibuk ngobrol, sehingga mengabaikan peringatan ATC kalau pesawat mereka masih terbang di atas ketinggian ideal dan belum saatnya mendarat. Selain itu, pilot ditengarai gagal tepat waktu menurunkan roda pendaratan, sehingga pesawat akhirnya tergelincir.

"Semua peringatan dari ATC bandara diabaikan oleh petugas di kokpit," merujuk laporan awal dari tim investigasi.

Menteri Khan menyatakan, sebetulnya kapten Sajjad Gul, yang bertugas hari itu, "adalah pilot berpengalaman." Demikian pula sang kopilot yang sudah punya jam terbang memadai. Namun rangkaian peristiwa sebelum insiden menunjukkan ada faktor kelalaian yang amat besar, sehingga kecelakaan sampai terjadi.

Di luar kasus ini, pemerintah Pakistan berjanji akan mengevaluasi kelayakan terbang pilot-pilot di negaranya. Sebab, setelah investigasi dilakukan menyeluruh, ditemukan data bila 40 persen pilot pesawat komersial di Pakistan diduga memalsukan sertifikat terbang mereka. Modusnya, mereka tidak tuntas menyelesaikan masa sekolah dan kemudian membayar untuk dapat ijazah, atau sekalian membeli ijazah tanpa mengikuti sekolah pilot yang layak. Beberapa pilot PIA, maskapai pelat merah Pakistan, ditengarai termasuk yang memakai skema curang semacam itu.

Dari sisi mesin, pesawat yang jatuh menurut tim invetigasi tidak mengalami masalah teknis apapun. Sebelum kecelakaan, pesawat tersebut berada di fasilitas perawatan selama 46 hari. Temuan itu yang memperkuat indikasi bila insiden bulan lalu dipicu oleh kelalaian manusia.

Selama rentang 1965 hingga 2020, terjadi 8 kecelakaan pesawat berakibat fatal di Pakistan. Kecelakaan terburuk terjadi pada 2010, ketika pesawat Airbus yang terbang dari Karachi menabrak tebing, menewaskan 152 orang di dalamnya.

Follow Shamani Joshi di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News