fase kehidupan

Panduan VICE Bagi Lelaki yang Baru Menginjak Umur 30-an

Saran paling penting: biasakan beli baju batik. Kalian akan konsisten mengenakannya di akhir pekan untuk kondangan.
Abdul Manan Rasudi
Diterjemahkan oleh Abdul Manan Rasudi
kehidupan lelaki kepala tiga
Foto ilustrasi usia 30-an dari Robert Foster

Ada banyak masalah bermunculan saat umur seorang lelaki mencapai 30 tahun. Percayalah, problem yang terbesar adalah keengganan kita duduk serius, ngobrolin apa yang bakal kita hadapi setelah umur kita mencapai kepala tiga. Padahal di umur segitu, masalah kesehatan mulai bermunculan. Kita sangat mungkin panen dampak kebiasaan mabu-mabuan slebor satu dekade sebelumnya saat masih usia 20-an.

Itu baru satu masalah. Setelah umur kita melewati tiga dekade, sejumlah hal makin kerap terjadi: kondangan di akhir pekan, rekan kerja kita sudah jadi manajer sementara kita tetap kroco kantor, atau menyadari teman-teman dekat kita sudah susah diajak nongkrong karena sibuk mengurus anak.

Iklan

Alih-alih obrolan serius tentang bagaimana hidup setelah berumur 30 tahun, yang sering nongol dari congor generasi yang berusia 30 tahunan adalah ucapan-ucapan konyol macam “Ah tai bocah zaman sekarang mah, doyannya main mobile game. Gue jamin mereka ngos-ngosan kalau dipaksa main sepakbola di tanah lapang kayak kita dulu” atau “Dengerin musik lewat layanan streaming? Enggak ada tantangannya. Dulu, kita kudu berburu referensi dari sampul kaset dong. Enggak cuma ngandelin playlist Spotify doang!"

Masalahnya, kalimat-kalimat macam itu sama sekali tidak punya faedah. Fungsinya cuma satu: menggambarkan kegelisahan, serta rasa tak nyaman serta pertanyaan-pertanyaan yang mulai bersliweran di pikiran saat kita mulai menjalani fase dekade ketiga dalam kehidupan kita.

Makanya, daripada buang-buang waktu—apalagi kata teman-teman kita yang soleh umur orang itu enggak ada yang tahu, mendingan kita serius ngobrolin tentang wacana, tingkah polah dan situasi yang mungkin kita temui setelah gagal masuk klub 27 yang elit itu.

Jadi, tanpa membuang waktu lagi, ini dia panduan VICE bagi laki-laki berusia 30 tahunan supaya ikhlas menerima usianya yang sekarang.

KURANGIN KOMEN SEMBARANGAN DI MEDSOS

1543156574527-Screen-Shot-2018-11-25-at-213523

Foto ilustrasi: robertfosterrobertfoster.tumblr.com

Jujur saja sih, poin ini berlaku untuk semua netizen, berapapun umurnya. Cuma, berhubung umur kalian sudah kepala tiga, pesan ini malah makin relevan. Di umur segini, cobalah mengurangi hasrat ngetweet kalimat pasif-agresif tentang mantan-mantan kita (“Yes, beres deh masalah mantan yang anu itu. Tapi, aing enggak bisa #skiddipapap deh”) atau omelan tentang hal sepele yang sepenuhnya ditik dalam huruf besar (SI ANJING. KONEKSINYA CUPU. DASAR PROVIDER PENGIN UNTUNG DOANG! )

Iklan

Sepuluh tahun lalu, boleh jadi postingan macam ini bikin kamu merasa gagah berani dan bengal di medsos. Pun, kamu merasa orang lain baik-baik saja dengan komen kalian. Asal kalian tahu, postingan sejenis ini sampai kapanpun tetap kurang elok dan orang terdekatmu diam-diam malu menyaksikan kelakuanmu. Bedanya, di usia 20an, perilaku macam ini banyak dimaklumi karena darah muda masih mengalir dalam tubuh kalian. Alhasil dengan postingan macam ini kalain akan berasa sebengal Addy Gembel dari Forgotten pas nyanyi “Tuhan Telah Mati”, Sekeren Rangga di AADC ngelempar pengunjung perpustakan yang berisik dan sesakti Iko Uwais di The Raid.

Sayangnya, segala hal berubah dengan cepat: cobalah berulah di depan banyak orang di usia 30 tahun—dan mengunggahnya di medsos, niscaya kamu akan dikenang selamanya layaknya Vicky Prasetyo mengcover Creep-nya Radiohead. Kami sepenuhnya paham sisa-sisa darah muda masih mengalir dalam tubuh kalian. Akan tetapi ini jelas enggak bisa jadi dalih kenapa kalian masih memposting hal-hal konyol, menulis komentar cetek, atau marah-marah enggak jelas di medsos. Lagipula di umur segini, yang perlu kita perdalam adalah kemampuan tetap tenang dan berpikir dengan kepala dingin.

SANTAI SAJA, REMAKE FILM KESAYANGAN ENGGAK BIKIN MASA KECILMU TERNODAI

Sebaliknya, anggap saja remake-remake film dari masa kecil kalian itu adalah bukti bahwa Hollywood sudah mulai kehabisan ide. Jadi, kalian punya satu dalih lagi untuk nonton film-film indie atau non-Hollywood, selain ingin terkesan jadi manusia yang melek sinema banget. Di sisi lain, enggak usahlah mempedulikan film-film remake itu. Tak perlu sewot tapi nyatanya tetap nonton Jurrasic World atau Jumanji versi baru. Dengan demikian, kalian enggak perlu khawatir masa kecil kalian (baca: kenangan kalian akan dua film orisinalnya) bakal hancur lebur.

Lagian, di usia 30-an, kita mestinya lebih sering khawatir akan hal-hal yang signifikan, cicilan KPR misalnya. Iya kan?

Iklan

Tonton dokumenter VICE mengenai sosok Wim Hof, manusia sakti yang keanehan tubuhnya bikin para ilmuwan penasaran:


TUBUHMU SUDAH AMBYAR, JAUH DARI BENTUK IDEALNYA PADA USIA BELASAN

Mulai sekarang, Fitur "Memories" di Facebook akan menyadarkan kalian betapa tubuh kalian tak sesempurna seperti satu atau dua dekade lalu. Laju waktu yang susah dibendung—disertai konsumsi alkohol, gula, makanan tak bergizi, dan keengganan berolah raga seperti satu dekade yang lalu—punya satu imbas buruk pada bentuk tubuh kita. Makanya, jika dibandingkan sama foto-foto kita pada usia 20-an, tubuh kita saat ini sudah nyaris serupa versi dewasa Giant dari serial Doraemon.

Apakah ini akhir segala kegantengan dan kegagahan kita? Oh tidak secepat itu ferguso. Kita toh bisa hidup dengan postur tubuh ambyar seperti ini asal a) kita mau mau berdamai dengan kenyataan atau b) berusaha mengembalikannya ke kondisi badan sedekade lalu tapi enggak perlu ngoyo-ngoyo amat.

Artinya, jika kepala kalian makin ke sini makin botak, terima saja atau gunduli sekalian. Lalu, bila berat badan kalian makin menggelembung, silakan kurangi konsumsi makanan berlemak. Jauh-jauh dulu deh dari rendang di rumah makan Padang kesayanganmu, kurangi asupan alkohol dan pliss deh mulai berolahraga. Satu lagi, camkan ini: sistem metabolisme tubuh kalian tak sedigdaya dulu lagi.

vice-guide-to-turning-30-for-men-body-image-1479905071

UNDANGAN RESEPSI PERNIKAHAN MAKIN SERING DATANG

Sampai di sini, jelas sudah jika artikel ini ditulis untuk lelaki-lelaki yang masih berantakan hidupnya, bukan lelaki yang mapan. Asumsinya, pembaca artikel ini adalah lelaki tak punya anak dan belum menikah, kemungkinan besar masih jomblo, tinggal di kawasan perkotaan, dan menolak tua bukan karena itu prinsip mereka atau mereka anggota Seringai, tapi karena mereka belum becus jadi laki-laki dewasa.

Eh ngomong-ngomong kalian punya baju batik belum’? Jika belum, segera beli deh. Bahkan kalau selama ini kamu mikir baju batik itu kuno dan enggak bikin kalian tampil keren, beli deh, minimal sepasang. Pasalnya, kalian akan rutin memakai baju batik di akhir pekan dalam sebuah pesta pernikahan sahabat, kenalan, atau kolega kantor.

Iklan

Tenang dulu, resepsi pernikahan itu enggak seburuk yang kalian kira. Berikut beberapa aktivitas menyenangkan yang bisa kalian kerjakan saat mendatangi pesta pernikahan: ngobrol ngalor-ngidul dan ngupdate gosip teman terdekat dengan beberapa kawan sampai-sampai beberapa orang tua di sekitarmu risih mendengarnya; mencoba menjelaskan profesi zaman sekarang banget, contohnya sosial media manager, ke beberapa undangan yang usianya jauh lebih tua; nonton video prewed yang biasanya sok-sok dekat dengan alam; mengalami campuran rasa keki, sedih dan iri saat lihat mantan kamu datang dengan suami dan dua anaknya: serta mendengarkan band kawinan yang kemungkinan besar akan membawakan lagu "Akad."

Menarik kan? Nyebelin memang merogoh kocek untuk mengisi angpau saban akhir minggu. Tapi, kadang resepsi pernikahan bisa jadi cara asyik menghabiskan akhir pekan sejak kita berumur 30 tahun.

vice-guide-to-turning-30-for-men-body-image-1479905011

Foto: robertfosterrobertfoster.tumblr.com

SATU PERSATU TEMAN KITA PUNYA ANAK

Satu persatu teman nongkrongmu bakal menghilang atau minimal agak susah diajak main futsal selepas ngantor. Penyebabnya: mereka jadi orang tua dan perlu buru-buru pulang untuk mengasuh anaknya. Kita tak boleh ngedumel apalagi protes tentang hal ini sebab itu akan bikin kelihatan konyol dan mau menang sendiri.

Sebagai seorang makhluk sosial yang baik, kalian umumnya akan datang menengok jika salah satu temanmu baru saja dikaruniai anak. Seperti kondangan di akhir pekan, aktivitas ini akan rutin kalian lakoni.

Iklan

Kikuk dengan bayi? Oh santai Bos. Ini beberapa tips yang bisa kamu lakukan saat menengok bayi temanmu yang baru mbrojol di dunia.

– Daripada berabe, jangan pernah berkomentar langsung tentang muka dan berat badan bayi. Pertanyaan macam ini rentan bikin baper ortunya, sebab ngaku saja deh, lelaki 30 tahun umumnya sulit mengajukan pertanyaan tulus. Alih-alih mengajukan pertanyaan menyinggung, mendingan kamu kasih komentar “Anak lo lucu banget deh” atau “duh, cantiknya.” Standar sih, tapi aman.

– jika diperbolehkan menggendong, jangan lupa untuk menyokong kepala si bayi. Jangan juga kelihatan gugup, nanti kamu dikira benci anak kecil.

–Jangan sekali-kali datang dalam keadaan teler. Manusia diberkati naluri untuk melindungi anaknya. Alhasil, mereka enggak ridho kalau kamu bertindak aneh di sekitar anak mereka. Bahkan nih ya, kamu mungkin enggan melakukan hal-hal yang aneh pada anak mereka. Tapi, mereka akan tetap keki karena kamu cerobohnya. Bila sudah begini, imbasnya berat deh: jumlah teman nongkrongmu menyusut drastis.

vice-guide-to-turning-30-for-men-body-image-1479905394

Foto: robertfosterrobertfoster.tumblr.com

HUBUNGAN ASMARA ORANG-ORANG DI SEKITAR KITA MAKIN SERIUS ATAU SEBALIKNYA

Orang di sekitar kita menikah, punya anak dan mulai menyicil KPR rumah. Sebagian lainnya cerai atau malah kawin lagi. Makin banyak temanmu akan curhat soal rumah tangganya. Tak usah gusar. Enggak ada salahnya dengan cara hidup seperti itu. Sebagain lainnya malah menghindari beberapa hal tadi. Bagi orang macam itu, hidup cukup dihabiskan dengan nonton video-video konyol di YouTube. Gaya hidup begini juga enggak ada salahnya. Dua-duanya sah saja—anggaplah ini sebagai bentuk keberagaman. Jadi, saban kali ada kerabat yang bertanya “Bro, kapan nikah?” Enggak usah gusar. Jadi diri sendiri saja. Kawin atau tidak dalam waktu dekat itu bukan masalah. Buktinya, itu yang kalian lihat di sekitar kalian. Enggak semua orang harus punya hubungan serius saat umurnya melewati 30 tahun.

Iklan

SERING-SERINGLAH MENGHABISKAN WAKTU SAMA ORTU

Maaf-maaf aja nih, selepas kamu berulang tahun ke-30, ada fakta yang bikin kamu trenyuh: ortu kita enggak semuda dulu, alias makin renta. Mereka jadi gampang capek. Ketahanan tubuh mereka melorot jauh. Dan, mereka lebih sering menelepon dengan suara yang kencang (baca: pendengarnya mulai terganggu).

Dalam kondisi seperti ini, mulailah berdamai dengan mereka. Lupakan segala macam cek-cok tentang hal yang prinsipil atau sepele—seperti saat mereka mencak-mencak begitu tahu kamu tatoan, menggondrongkan rambut, atau menolak jadi PNS. Kecuali mereka mendadak relijius banget di masa tuanya dan membenci kamu karena mengaku gay, harusnya semua aman-aman saja kok. Orang tua kita ini tak mengenal konsep pasif agresif yang mereka tunjukan saat kamu tumbuh dewasa. Bagi mereka, semua cekcok itu cuma sekumpulan cara efektif agar kamu mau nurut.

Terlepas dari semua kemungkinan di atas, kemungkinan besar klub sepakbola yang kamu dan ayahmu kagumi masih sama. Plus, kamu dan ibumu masih suka nonton Badai Pasti Berlalu. Jadi, akrabi lagi mereka. Mulai dari hal-hal yang sama-sama kalian sukai. Pembicaraan akan hal-hal lain akan menyusul. Jangan lupa, ngobrol sama ortumu dengan sabar kali ini. Sebab, bayangkan akan seperti sedihnya jika mereka tiba-tiba meninggal dan kalian masih cekcok seperti saat kamu ketahuan tatoan pas kuliah?

Percaya deh, itu nyesek abis Bray!

vice-guide-to-turning-30-for-men-body-image-1479905559

Foto: robertfosterrobertfoster.tumblr.com

KAMU SEDIH SUDAH MULAI BERUMUR? ITU ARTINYA MASA MUDAMU PENUH WARNA

Jika serenteng fakta di atas bikin kamu agak depresi dan sedih, penjelasannya mungkin ini: masa mudamu benar-benar indah. Andaikan semasa muda, kalian cuma jadi mahasiswa rajin, jarang nongkrong, enggak agak akrab dengan kultur anak muda, jarang main ke gigs, enggak melewati drama-drama pacaran, enggak begadang melakukan hal-hal yang ga jelas, enggak pernah berusaha menentang kesewanang-wenangan penguasa dan langsung kerja setelah lulus kuliah, niscaya umur 30 itu enggak penting. Kalian akan enggak akan menemukan perbedaaannya dengan, katakanlah, umur 29, sebab hidupmu berarti sejak awal hambar aja dari tahun ke tahun.

Bersyukurlah jika masa mudamu penuh warna—dan aib tentunya. Itu modal besar melakoni hidup sesudah kalian resmi berusia 30 tahun.